Beranda > sang kyai > Sang Kyai 10

Sang Kyai 10

“Aku dipanggil muridku untuk menghadapi pengganggu ketenangan tempatnya,” kata bayangan satunya berpakaian besar ala warok Ponorogo.

“La sampean dulu meninggalnya kenapa kang?” tanya orang yang berpakaian warok.

“Aku menemukan lawan yang tangguh di, dan dia melukai punggungku sampai sobek melintang, yang mengakibatkan kematianku.” jawab orang yang berpakaian adat ala Madura sambil menunjukkan luka menganga tanpa darah di punggungnya.

“La kamu matinya bagaimana di..? Bukannya kamu punya ilmu kebal senjata?” tanya orang yang berpakaian warok,

“Ah, kang, ilmu kebalku ternyata ada yang mampu menembusnya, lihat ini perutku…” orang yang berpakaian ala Madura itu menyingkap pakaian penutup perutnya dan luka menganga menyobek perutnya sehingga ususnya terburai.

“Ya udah lah kang, sekarang kita membereskan orang yang mengganggu murid kita.”

“Duar….!” suara letupan pecut hampir saja merobek telingaku, pecut tambang yang sebelumnya mengikat kepala warok Wiro Gubras, si Madura itu memanggil, tiba-tiba dilolos dari kepalanya dan dihantamkan ke arahku yang sedang berdiri mengawang di atas meja, untung aku terpeleset, sehingga lecutan cambuk tak mengenaiku tapi aku terjengkang di lantai. Tanpa daya. Aryo Lincang nama orang berpakaian Madura itu melompat menebaskan cluritnya, aku benar-benar tak berdaya, tubuh kaku dan tak bisa digerakkan sama sekali. Aku sudah berusaha menggerakkan tubuhku tapi rasanya tubuhku seperti terhipnotis. Aku hanya bisa mendelikkan mata, ketika clurit Aryo Lincang menderu ke arah dadaku. Dan “wuuut….!” begitu saja Aryo Lincang terlempar seperti daun yang diterbangkan angin. Dan bau harum tapi lembut kuhirup seperti melepas kelumpuhanku, nampak orang berpakaian jubah putih membelakangiku, orang tinggi besar, dengan surban pengikat kepala ala Mesir, juga berwarna putih.

Singo Gubras dan Aryo Lincang juga kedua muridnya segera melompat dari jendela, saat mengetahui orang yang datang. Dan segera lenyap ditelan kegelapan. Orang yang datang dan membelakangiku itupun membalik tubuhnya, ketika aku tau itu siapa, aku pun bersimpuh takzim, ya Syaih Abdul Qodir Aljailani, ketiga kali ini mendatangiku, dengan idzin Alloh menolongku, aku segera menyalaminya tanpa berani menatap agung wajahnya.

“Nah inilah ngger, maksudku, kenapa dulu aku menyuruhmu untuk segera berbai’at toriqohku…” katanya dengan penuh perbawa yang sulit diceritakan dengan kata-kata. Aku masih menyucup tangannya ketika Syaih telah pergi dari hadapanku.

Perlahan aku bangkit, dalam benakku timbul semangat untuk lebih banyak melakukan amaliyah, agar aku tak tertaklukkan oleh syaitan dan jin yang durjana. Aku pun segera melesat pulang. Sampai di pesantren telah subuh, aku segera mengambil air wudhu dan sholat subuh, habis sholat aku wirid wajib. Dan kemudian berangkat tidur. Jam 11 siang pergi ke sungai mandi, setelah mandi aku kembali ke pesantren, ada Macan dan pak Abdulloh tamu Kyai. Aku segera menyalami, pak Abdulloh bertanya, “Orang mana ni?” tanyanya singkat sambil tertawa.

“Orang Tuban pak.” jawabku juga singkat. Kami pun ngobrol panjang lebar, karena ternyata kami adalah tetangga desa, satu kecamatan. Sehingga seperti ketemu saudara. Setelah lama kami ngobrol tiba-tiba pak Abdulloh berkata ditujukan pada Macan.

“Can, Ian ini dikawinkan sama adikku, cocok gak Can?” kata pak Abdulloh yang membuatku kaget. Aku kaget, bukan apa-apa, terus terang walau aku tak pernah merasa rendah diri karena kemelaratanku, tapi melihat pak Abdullah yang kaya raya, punya banyak perusahaan, mobil mewah berderet-deret, masak menghendaki aku jadi adiknya, ah aku bukan tipe orang yang matrialistis, aku tipe orang yang bahagia dalam kemiskinan, susah dan suntuk kalau kaya, mimpi pun jadi kaya tak pernah terbayang dalam benakku, karena bukan cita-citaku, cita-citaku sepele, bahagia di jalan Alloh, ini ditawari kawin milyarder, ah enggak lah…!

“Wah cocok sekali pak,” kata Macan mengerling penuh arti.

“Alah jangan bercanda ah, nanti jadi beneran.” kataku rikuh.

“Bercanda gimana? Ini serius.” kata pak Abdulloh.

“Wah saya belum berani kawin pak,”

“Jangan-jangan kamu mandul, tak bermutu, gak berfungsi, ckakaka…” Macan ngakak.

“Eh jangan kira…. paling kamu yang lembek, harus dibantu pake lidi….” kataku jengkel emang Macan kalau bercanda suka kelewatan, walau ku akui tak ada temanku sebaik Macan.

“Gimana, mau enggak?” tanya pak Abdul mendesak.

“Wah nanti dulu lah pak, aku pikir-pikir dulu, lagian pak Abdullah kan belum tau siapa aku?”

“Halah jangan banyakan mikir, keburu karatan.” Macan ngakak lagi. Setelah Macan dan pak Abdulloh pergi aku pun mikir, ah mungkin Alloh lagi mencobaku, sejauh mana aku tahan oleh godaan. Aku makin serius dalam wiridku, tak ada waktu tanpa wirid sampai-sampai semua wirid yang dibebankan oleh Kyai selesai semua. Malam itu aku dipanggil Kyai menghadap,

“Ada apa Kyai?” kataku, setelah ada di depan Kyai.

“Ini ada yang nawari,” kata Kyai sambil ketawa.

“Nawari apa Kyai?”

“Nawari nikah, mas Ian ikut saja, nanti dilihat cocok apa enggak, kalau cocok, ya bagus, biar mas Ian jadi orang sini aja, biar dekat sama Kyai.” lagi orang nawari nikah, aku jadi berpikir apa aku ini sudah saatnya nikah? Ataukah ini cuma ujian dari Alloh? Entahlah.

Malam itu pun aku ngikuti Kyai naik mobil kijang hidrolik meluncur ke tempat yang dituju, ke sebuah pesantren Salafiyah, tak jauh amat dari pesantrenku, sekitar 10 kiloan, kami disambut oleh Kyai pesantren bernama kyai Ghofur, orangnya sudah tua sekali, jenggotnya putih sampai ke dada, wajahnya putih kemerahan penuh wibawa. Pesantren yang ku datangi, lumayan banyak dan tempat pemondokan dari bambu beratap daun alang-alang, dan yang lebih mengesankan pesantren sama sekali tak berlistrik, karena di pesantren ini memang tidak boleh memakai listrik, jadi penerangan memakai lampu minyak, aku, kyai dan sopir segera dipersilahkan.

Setelah duduk, Laila Aulya gadis yang dijodohkan denganku keluar, membawa makanan dan minuman, Kyai mencolek lenganku, “Gimana cantik gak?” kata Kyai dengan nada berbisik. Aku pun tanpa sadar menatap gadis yang meletakkan minuman di depan. Mak deg! Aku terpana melihat kilauan bintang gemintang di tengah telaga mata Laila. Wah kecantikan yang sempurna, hidung ala artis India. Membuatku tak sengaja mengelus pipi, karena membayangkan andai pipiku dicium olehnya aku lebih takut hidungku akan terluka oleh lancip mancung hidungnya. Bibir yang seperti dibentuk dengan kehati-hatian ranum dan seakan menyimpan berbagai rasa buah, ah aku jadi ngelantur,

“Udah jangan lama-lama memandangnya.” bisik Kyai. Mak deg! Ketika mata Laila mengerling padaku, untung aku duduk di atas kursi, kalau berdiri mungkin aku langsung terjengkang pingsan, aku lelaki biasa, yang masih punya perasaan sebagaimana lelaki pada umumnya, tapi aku juga Febrian lelaki kerdil dengan segudang kekurangan, salah satu kekerdilanku adalah tak berani beristri terlampau cantik, takut nanti rusak bila ku sentuh dengan tangan kasarku.

Laila bagiku terlampau cantik dan mahal, ah aku ingin yang biasa, aku tak mau nanti terlalu jatuh cinta dan mengenyampingkan Alloh, aku tak mau menduakan Alloh, lebih baik tak aku terima, sebelum cinta ini terhunjam dalam menawan seumur hidupku. Melupakan siapa aku, “Cantik sekali, Kyai.” bisikku.

“Ya kalau begitu tak usah,” bisik Kyai seakan telah membaca galau hatiku. Dan terasa aku dibebaskan dari himpitan gunung. Mak plong.

Kami pun ngobrol dengan kyai Ghofur sampai larut malam, dan kembali pulang ke pesantren Pacung dengan perasaan lega. Pagi baru saja beranjak, aku memasukkan baju dan keperluan ke dalam tas punggung butut andalanku, untuk pergi ke Jakarta mencari uang untuk keperluanku hidup di pesantren. Yah beginilah hidupku, hidup di pesantren kalau uang ada, kalau uang habis, ya aku harus nyari lagi, walau makan sudah dijatah kyai, tapi aku orang yang tak suka terus-terusan jadi benalu, hidupku adalah aku yang harus menjalani dan membiayai. Untung masih ada uang untuk ke Jakarta, ke tempat temanku, Macan atau tempat temanku Karim di Cipinang Muara. Setelah pamitan kepada Kyai aku pun beranjak, baru seratus meteran berjalan ada mobil di belakangku. Pak Jahru. Bos barang bekas, tamunya Kyai mengklaksonku.

Aku berhenti, dan mobil kijang warna biru berhenti di sampingku, kaca pintu terbuka,

“Ayo naik…!” kata pak Jahru, dengan tawa khasnya.

“Mau kemana mas?” tanyanya setelah aku duduk di kursi jok.

“Ke Jakarta pak.” jawabku enteng.

“Wah kalau begitu mas Ian tak anter aja, Jakartanya mana?”

“Ke Cipinang Muara pak.” Mobil pun jalan, lumayan ada nunutan, jadi gak usah keluar uang.

Pak Jahru, adalah pengusaha sukses barang bekas, orangnya pendiam tak banyak bicara, menurut ceritanya dulu dia orang miskin, sekolah aja mungkin sampai kelas 4 SD. Lalu merantau ke Jakarta dan menjadi pemulung, suatu hari tengah ia memulung didatangi pemilik pabrik besi untuk membersihkan besi bekas, nah disaat yang hampir bersamaan datang juga orang minta dipulungkan besi, maka pak Jahru pun tinggal mengoper. Itulah awal karir pemulungnya menanjak, sekarang yang dipulungnya sudah alat berat kyak buldoser. Dalam perjalanan sampai Jakarta aku tak banyak omong dengan pak Jahru, aku diantar sampai ke Cipinang Muara, sebelumnya diajak ke tempat pak Jahru menginap semalam dan besoknya aku diantar ke kontrakan Karim, teman sekolahku waktu di MI. Di tempat kontrakan kumpul teman-teman sedesaku. Ada Sengkle, Renges, Tro, Klewer, ah memang nama panggilan semua, sampai nama aslinya kami sudah lupa, dan nama-nama itu jadi simbol keakraban, satu nasib sepenanggungan.

“Wah kamu di sini juga Nges.” tanyaku ketika teman sepermainanku di kampung ini menyalamiku, Renges, pemuda seumuranku 24 tahun, hidung pesek habis, lubang hidung melebar, karena sering dicongkel-congkel pakai jari, untuk mengambil kotoran hidung, kadang dia mencongkel hidung ngotot sambil berpegangan pada tiang, kayak sesuatu yang teramat susah diambil dan membutuhkan tenaga extra, rambutnya panjang sebahu, wajahnya lebih mirip Kaka personel SLANK.

“Iya Ian, dah datang sebulan yang lalu, kamu ndiri kesini ngapain?”

“Wah, aku mau nyari uang saku untuk di pondok.” kataku.

“Eh Ian, dah lama datangnya.” Karim masuk kontrakan, langsung menyapaku, dia baru datang, kerjanya di kantor miliknya pak Abdullah.

“Baru aja Rim.” jawabku.

“Trus ada perlu apa?”

“Biasa nyari tambahan modal untuk di pondok alias nyari kerjaan.”

“Iyalah besok aku cari’in kerjaan.”

Begitulah dialog-dialog ringan di antara kami. Tapi setelah itu nyampai seminggu pun aku belum dapat kerjaan, makan nebeng, ah jadi tambah susah.

“Wah sudah ku carikan pekerjaan, tapi susah tak dapat-dapat tuh Ian, gimana?” tanya Karim pada suatu sore.

“Wah gimana ya Rim, la aku kalau balik ya lebih repot lagi,” jawabku prihatin.

“Kenapa gak bikin lukisan sendiri aja Ian?” sela Renges.

“Nanti tak bantu njualin deh.”

“Wah kalau itu perlu modal Nges…”

“Biar aku yang modalin, kamu anggep beres aja, butuh berapa?” kata Karim mantep.

“Ya paling butuh 4 ratusan ribu,” kataku.

“Ya udahlah besok beli barang keperluanmu.” kata Karim. Maka besoknya aku pun beli barang keperluan, aku membuat lukisan kaca, yaitu lukisan kebalik. Melukis dari dalam, jadi bisa dilihat dari luar. Kelihatan bagus, tiga hari ku selesaikan lukisan besar, enam buah lukisan pemandangan. Setelah selesai dibingkai, aku dan Renges mulai menawarkan lukisan dari pintu ke pintu, dari gang ke gang, banyak yang melihat lukisan, dan menawar tapi tak ada yang mau beli setelah ku kasih tau harganya, satu lukisan ku tawarkan dengan harga 2 ratus ribu. Untuk mengejar isi perut yang keroncongan.

“Nges, perasaan kita muter-muter di jalan ini-ini aja?” kataku pada Renges sebagai penunjuk jalan.

“Maksudmu kita bingung?” kata Renges, seakan aku tak percaya atas kefasihannya menghafal jalan Jakarta.

“Iya.” jawabku, dari pada muter-muter lagi. Karena perut belum keisi dan pegelnya kaki minta ampun.

“Aku ini sudah hafal jalan di Jakarta, lebih hafal jalan dari pada mata pelajaran di sekolah.” kata Renges sambil nepuk dada.

“Hafal jalan aja bingung, apalagi tak hafal jalan?” kataku jengkel.

“Kamu itu yang bingung, karena lukisannya tak laku.” kata Renges juga marah.

“Udah gini aja, kita lihat tuh ada toko Sarinah, nah mari kita jalan, apa balik ke toko Sarinah lagi apa enggak?” kataku menengahi keributan kami, dan kami pun melanjutkan perjalanan. Dan memang sesuai dengan apa yang aku bilang, kami kembali ke toko Sarinah.

“Heran, kenapa bisa bingung gini ya?” kata Renges sambil duduk di regol.

“Udah nges, mending kita cari masjid, ini waktu dzuhur hampir habis.” kataku sambil lalu pergi nanya pada orang arah masjid, dan kami pun ditunjukkan masjid yang jaraknya 300 meteran. Kami pun segera pergi ke masjid dan menjalankan sholat dzuhur. Selesai sholat kami memajang lukisan di depan masjid, yang kebetulan pertigaan jalan yang ada pohon mahoni tua.

Tapi sampai jam menunjukkan jam setengah lima, tak juga ada yang beli, walau banyak yang nawar, tapi sebatas nawar, kalau harus pulang ke kontrakan dengan tanpa lukisan terjual sama sekali, ah betapa jauhnya, kami berdua harus berjalan, belum lagi perut yang lapar karena dari pagi kami belum makan. Ah kami lebih parah dari pada tentara yang kalah perang, pulang memanggul senjata, setidaknya mereka punya uang.

“Gimana Ian?” kata Renges, wajahnya yang bertampang suntuk, makin suntuk aja.

“Aku tak kuat, kalau gini, udah jauh, perut lapar, bisa klenger beneran nih,” tambahnya, makin menambah beban masalah aja keluhnya.

“Ya mau gimana lagi Nges, la emang tak laku,”

“Satu aja dijual 50 ribu aja deh, buat naik angkot. Dan untuk beli nasi bungkus” katanya mengiba.

“Ya udahlah nanti kalau ada yang nawar, kasihkan aja,” kataku agak berat, karena kepikiran untuk mengembalikan uangnya Karim. Selang beberapa menit, ada sepeda motor menghampiri kami dan menanyakan harga lukisan, e udah dikasih harga 50 ribu rugi harga produksi, masih tak laku juga, maunya 30 ribu, ya jelas aku tak mau, memangnya kacang garing, semurah itu, orang bermotor itupun pergi, meninggalkan harapan kami yang tercabik-cabik.

“Wah..! Udah Ian aku tak kuat lagi, mending sekarang pulang aja, daripada nanti kemalaman.” kata Renges, kayak mau nangis, rupanya keuletan dan kesabarannya telah memasuki batas toleransi.

“Gini aja, biar aku wirid di dalam masjid sebentar, siapa tau masih bisa laku, kita masih punya Alloh, aku akan meminta supaya lukisan kita terjual.” kataku masih sabar.

“Ah Jakarta ini keras Ian, tak ada Alloh, Allohan, di sini itu siapa kuat maka jaya.” kata Renges masgul.

“Tapi ndak salah kan dicoba?”

“Ya udahlah sana, biar aku nunggu di sini, jangan lama-lama…!”

“Setengah jam aja.” kataku sambil berjalan ke dalam masjid.

About these ads
  1. Edi purwanto
    2 Februari 2013 pukul 2:30 pm

    pertamax

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.117 pengikut lainnya.