Beranda > sang kyai > Sang Kyai 39

Sang Kyai 39

“Bagaimana taunya kita ini sudah ikhlas atau belum?” tanya Muhsin.

“Ikhlas itu suatu proses, tak ada batas akhir suatu keikhlasan seseorang, tapi ada batas antara orang itu ikhlas dengan tidak ikhlas, yang penting kita berusaha beramal tidak mengharap balasan dan menjauhkan diri dari pamrih ingin mendapatkan segala sesuatu, selain menjalani perintah Alloh, jadi hilangkan harapan dan tujuan ingin mendapatkan sesuatu, apapun yang dilakukan atas dasar keinginan maka itu berarti nafsu, jadi jangan menyandarkan suatu perbuatan ibadah karena keinginan mendapat sesuatu atau menyandarkan keinginan kita, atau keinginan orang lain, tapi lakukan melulu karena Alloh memerintahkan,┬átanda seorang itu telah menapaki pelataran ikhlas, yaitu hati telah tidak berubah, ada atau tidak anugerah yang diterima dari Alloh saat menjalani ibadah, hati selalu tetap, tidak lalu bersemangat karena adanya fadhilah yang diterima, dan malas karena tidak adanya fadhilah, semangat karena ada hadiahnya, dan malas karena tak ada hadiahnya, dan orang ikhlas itu tidak seperti itu, selalu konsisten, istiqomah, dan berubah-rubah hatinya karena perubahan keadaan yang dihadapi, makanya Syaikh Abdul Qodir mengatakan kalau Al istiqomatu afdholu min alfi karomah, istiqomah itu lebih utama dari seribu kekeramatan seorang wali, sebab istiqomah menunjukkan nilai keikhlasan seseorang.” jelasku.

“Wah berarti jarang orang yang bisa ikhlas dalam menjalankan ibadah?”

“Ikhlas itu bukan sesuatu yang diucap, sebab amaliyah hati, tak terlihat, dan tak teraba, bahkan oleh malaikat khofdzoh yang membawa amal ibadah seseorang ke langit, bisa saja orang yang gembar-gembor itu ikhlas, bisa juga orang yang diam tidak ikhlas, atau sebaliknya, tapi amaliyah yang ikhlas atau tidak itu pasti ada efeknya di jiwa, hati, ruh, dan perbuatan orang yang melakukan amaliyah, sebab amal perbuatan itu kan pasti ada hasilnya, orang masak beras, hasilnya, beras menjadi nasi. Jika sepuluh taun dimasak kok tak jadi nasi, berarti masaknya tak benar.

Seperti sholat saja, Alloh berfirman dalam Alqur’an kalau sholat itu bisa mencegah yang menjalankan, mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, perbuatan keji, ya kayak lisan suka menyumpah, suka membicarakan aib orang lain, suka mencela, menghasut, mengadu domba, dan tangan suka mencuri, nyopet, pokoknya orang lain tak aman bila di samping kita, maka jelas kita masih menjalankan perbuatan keji, dan perbuatan mungkar atau perbuatan yang menjadi larangan agama, kok perbuatan itu masih kita lakukan sementara kita juga sholat, maka sholat kita itu pasti, bukan mungkin tapi pasti belum benar, sebagaimana orang memasak beras kok sepuluh tahun dimasak belum juga jadi nasi, bisa jadi kompornya tak nyala, atau hal apapun yang menjadi kendala perbuatan itu dilakukan dengan benar.”

“Oh ya mas ada temanku dari Maroko mau main ke kamar mas Ian boleh?” tanya Muhsin.

“Boleh saja.”

“Soalnya dia juga mau minta tolong, soal anaknya,”

“Ya ajak saja kesini.”

“Apa perlu anaknya diajak kesini juga?” tanya Muhsin.

“Tak perlu…, juga dilihat masalahnya apa dulu…” kataku.

“Oh ya juga ada orang Pakistan yang sudah sepuluh tahun tak punya anak, apa mas bisa memberi solusi?”

“Coba saja lelakinya suruh bicara denganku, soal solusi itu nanti dilihat apa kasusnya.”

——————————————-

Karena tak banyak pekerjaan yang ku lakukan, maka aku sering ikut kerja orang lain, kadang memasang wallpaper, atau memasang ternit, atau karpet lantai, atau mengecat pintu dan kusen, sehingga aku sering terlihat kerja dengan banyak orang, bahkan di bagian lain yang bukan bagianku, sebab pekerja itu dikelompokkan dalam bagian atau section, dan bagianku adalah welfare, dan aku sering ikut bagian general services.

Karena sering bekerja dengan pekerja lain, maka aku cepat banyak teman dan kenalan, dari orang India, Pakistan, Maroko, Sudan, Yaman, dan Arab, bahkan Banglades.

Walaupun aku orangnya tak banyak bicara, sehari pun bicara bisa dihitung dengan jari, tiap kerja kebanyakan diam, hanya bicara dengan orang yang ku rasa cocok bisa diajak membahas ilmu dan tukar pikiran.

Aku dipasangkan bekerja dengan orang Maroko bernama Muhammad, orangnya tubuhnya besar dan suka berkelahi, baru dua hari lalu dia memukul orang Banggali sampai KO.

Aku lumayan cocok dengan Muhammad sebab kalau ku ajak ngobrol dia memakai bahasa Arab baku, sehingga pembicaraan kami lancar.

Kami sering bersama entah dalam bekerja juga dalam keseharian, Muhammad juga sering main ke kamarku.

“Kamu tau ilmu dari kitab syamsul ma’arif?” tanya Muhammad suatu hari.

“Tau…, itu dalam pesantren di Indonesia itu dinamakan ilmu hikmah.” jawabku

“Itu banyak dipelajari di Maroko.” kata Muhammad sambil merontokkan ternit lama karena kami dapat pekerjaan lembur merusak internit villa, untuk diganti internit baru.

“Ku dengar syamsul ma’arif dilarang dipelajari di Saudi, bahkan kalau ada orang yang membawa kitab syamsul ma’arif jika ketangkap polisi akan ditangkap dan yang mengamalkan bisa dihukum pancung.” kataku.

“Iya…, aku dengar juga begitu.” jawab Muhammad.

“Ku rasa peraturan Saudi soal itu ada benarnya juga, karena menyangkut aqidah, lebih banyak orang yang belajar kitab syamsul ma’arif, abu ma’sar alfalaqi, aufaq, syamsul anwar, jika tidak kuat aqidahnya, kebanyakan akan tersesat, artinya akan terseret pada penggantungan diri meminta pada khodam, bukan pada Alloh.” kataku.

“Kok bisa seperti itu?” tanya Muhammad,

“Iya karena khodam yang ada di amalan yang tertera yang akan memberi kekuatan, kekuatan khodam tuju bintang yang jadi sandaran, jadi kemudian akan dimintai tolong.” jelasku.

“Begitu ya… padahal aku belajar syamsul ma’arif sudah lama.”

“Pantesan kau memiliki pukulan yang ampuh.” kataku bercanda.

“Ilmu paling murni itu ilmu toreqoh…” kataku.

“Apa yang kamu maksud toreqoh yang tasawuf itu.”

“Tasawuf itu tata cara pengalaman ubudiyah soal hati.” jelasku.

“Dan toreqoh itu lebih luas.”

“Bisakah kau jelaskan sedikit padaku, di Maroko juga ada toreqoh tapi kok orangnya kebanyakan miskin-miskin.” kata Muhammad.

“Toreqoh itu jalan menuju Alloh, yang punya sanad atau sandaran ilmu yang bersambung dari Nabi Muhammad SAW, jadi ada ketersambungan guru sampai kepada Nabi, itulah keunggulannya, sebab jika diumpamakan amaliyah, paralon itu sambungan guru, dan pompa air yang menyala itu diumpamakan amalan kita, jika dari pompa air itu tak menyambung kepada sumur, sumur itu umpama Nabi, dan sumber air itu fadhilah dan anugerah Alloh, jika kita punya amaliyah, tapi tidak menyambung pada Nabi, itu seperti sanyo yang kita nyalakan siang malam, kita amalkan siang malam tapi tidak menyambung ke sumur, maka sekalipun kita amalkan siang malam maka tidak akan keluar airnya, artinya fadhilah Alloh tak akan keluar, sebab tidak menyambung ke sumur, lalu syamsul ma’arif itu tak ada menyambung sanad dari Nabi, maka tidak ada fadhilah Alloh akan keluar, jadi pentingnya sanad ilmu, juga menentukan hasil pencapaian yang diraih, tapi begitu juga, dalam toreqoh itu sekalipun guru mursyid maka mereka punya kedudukan yang berbeda, seperti wadah air, guru itu seperti tabung penyimpanan air, jika dari atas hanya sedikit atau kecil sambungan air, maka akan sedikit juga paralon di bawahnya akan menerima air dari sambungan atasnya yang sedikit, maka guru mursyid yang punya sambungan banyak amat sangat berpengaruh pada besar kecil fadhilah yang dihasilkan murid, guruku mempunyai sambungan toreqoh ke atas sampai kurang lebih 13 jalur, dan tertampung dalam guruku, maka murid di bawahnya akan banyak mendapat manfaat, karena aliran fadhilah yang besar.”

“Hm masuk akal juga… jadi tertarik aku dengan toreqoh, bolehkan aku belajar lebih banyak lagi?”

“Aku sendiri juga seorang murid, orang yang mencari, dan masih berusaha istiqomah, kita saling berbagi saja.” kataku.

“Baik, tapi aku tetap mau minta dibimbing.” kata Muhammad.

“Dalam toreqoh ada juga kedudukan seorang mursyid itu beda-beda.” jelasku.

“Ada yang seperti itu ya?” tanya Muhammad sambil kami terus bekerja.

“Contoh tau kan Syaikh Abdul Qodir Jailainai RA?”

“Iya tau…”

“Syaikh Abdul Qodir itu punya kedudukan sultonul auliya’, ghousil a’dzom, quthub, ahli talkin, ahli silsilah, ahli tawasul, ahli nasab, jadi berbagai kedudukan itu menjadi satu, makanya banyak karomahnya, karena setiap seseorang punya kedudukan itu maka akan dengan sendirinya mempunyai pakaian kebesaran berbagai atribut dari kedudukan yang dimiliki, seperti seorang jendral dari sebuah ketentaraan dalam suatu negara, jika banyak tanda pangkat disandangnya maka akan makin banyak kelebihan yang dimiliki, seperti berhak kemana-mana membawa pistol, membawahi beberapa peleton tentara, jika kedudukannya cuma penjaga keamanan toko tentu beda.” kataku menjelaskan yang masuk akalnya Muhammad.

“Hm… sepertinya juga masuk akal.” kata Muhammad.

“Dalam toreqoh juga ada wakil talkin, wakil bai’at, jika kita dibai’at atau ditalkin wakil talkin, maka selamanya kita hanya akan jadi prajurit, dan karena jadi prajurit maka tak akan meningkat pada kedudukan yang tinggi, sebab hanya prajurit, bisa jadi orang daerahmu, orang toreqoh yang kamu sebut miskin-miskin itu orang yang tak mempunyai kedudukan. Dalam ketentaraan juga kan orang yang kedudukannya rendah tak punya gaji tinggi.”

“Iya bisa jadi juga.”

“Kalau ku umpamakan, seorang kalau mau mendapat gaji dari pabrik, maka jangan hanya mengulurkan tangan di pintu gerbang, tapi masuklah ke pabrik, daftar, dan menjadi karyawan, maka pasti akan menerima gaji.” kataku.

“Iya itu benar, lalu apa hubungannya dengan toreqoh?” tanya Muhammad tak mengerti.

“Sama pabrik itu ku umpamakan pabrik fadhilah dan rohmat Alloh, jika kita cuma minta dan tanpa mengikat diri masuk dalam pabrik fadhilah dan rokhmat Alloh, cuma wira-wiri di sekitar pabrik, berdo’a, maka kita sangat jauh kemungkinan akan diijabah do’a kita, tapi kalau kita masuk ditalkin dan dibai’at masuk secara resmi ke dalam pabrik, maka sekalipun tak minta, sekalipun tak berdo’a kita akan tetap mendapat gaji bulanan, apalagi meminta, pasti Alloh tak segan-segan memberi.” jelasku.

“Hemmm… biar ku pikirkan apa yang kau katakan, soalnya aku kurang paham seluruhnya.”

“Sepertinya pekerjaan kita sudah selesai, apa kita pulang dulu?” tanyaku.

“Tidak, nanti menunggu jam pulang bareng pekerja lain, pas jam enam, ini baru jam lima lebih sedikit.” kata Muhammad.

“Lalu bagaimana jika aku ingin mengamalkan toreqoh? Apa yang harus aku lakukan?” tanya Muhammad.

“Sebenarnya harus ditalkin, ditalkin itu penyaringan seorang murid kalau dalam masuk universitas ya kayak melakukan pendaftaran dan menjalani seleksi, setelah selama seleksi itu seorang murid dipantau oleh guru dan ternyata tak pernah melakukan dosa besar, maka akan dibai’at, menjadi murid secara resmi.” jelasku.

“Maksudnya dosa besar itu apa saja?” tanya Muhammad.

“Ya seperti main perempuan, main judi, mencuri/merampok/mencopet, korupsi, semua golongan yang mengambil hak orang lain, mabuk-mabukan, mengkonsumsi narkoba,”

“Jika tidak menjalankan dosa berarti kita bisa dibai’at ya?” tanya Muhammad.

“Iya.. tapi kalau jauh sama guru kan juga susah juga.”

“Iya aku juga mau tanya soal itu, kayak aku di Saudi gini kan jauh susah jika mau dibai’at?” kata Muhammad sambil menyalakan rokok putihan.

“Itu bisa menjalankan amaliyah dulu, jadi misal nanti dibai’at atau ditalkin, diri sudah ada tanah tempat menanam ilmu, sebab puasa itu kan membersihkan tanah hati, dari segala penyakit disertai menyuburkannya, dan ditalkin itu guru kita umpama memberi biji ilmu yang kita tanam di hati kita, jika hati, tanahnya sudah subur maka berbagai macam ilmu yang ditanam akan tumbuh subur.”

“Boleh aku minta amalannya?”

“Iya nanti ku catatkan, sekalipun amalan ini sama dengan amalan dari siapapun, nilainya beda, bukan karena aku yang memberi, tapi karena amalan ini ada sanad sambungan guru kepada Nabi Muhammad, dari malaikat jibril, dari Alloh Ta’ala, jadi jelas amalan walaupun sama-sama lafad Alloh, yang pemberian dari Alloh, beda yang pemberian seorang ulama atau kyai tapi tak punya sambungan sanad yang menyambung kepada Alloh, ya kayak paralon yang ku contohkan masuk kedalam sumur dan menyedot air.”

“Lalu apa amalanku yang dari syamsul ma’arif ku hentikan?” tanya Muhammad.

“Ya dihentikan, sekarang gini saja, selama ini amalan itu kamu amalkan apa yang kamu dapat? Sudah berapa tahun kamu mengamalkan?”

“Iya sih tak ada yang ku dapat, walau sudah lima tahun aku mengamalkannya.”

“Nah nanti rasakan, kamu menjalankan amalan puasa yang 21 hari dariku, bandingkan dengan amalan yang kamu jalankan lima tahun…”

“Jadi puasanya 21 hari ya?” tanya Muhammad.

“Iya itu paling dasar, di atasnya ada 41 hari, 3 bulan, 7 bulan. dan seterusnya, seperti orang sekolah, maka setiap meningkat ke tahapan di atasnya, maka akan memiliki kelebihan yang dianugerahkan Alloh, entah bisa mengobati orang sakit, entah bisa melihat gaib, mengusir jin, dan lain-lain, dan setiap orang berbeda-beda kelebihan yang akan didapat, tapi ingat dalam menjalankan jangan mengharap ingin bisa sesuatu, lakukan dengan ikhlas, karena Alloh, amal apapun itu jika tanpa adanya keikhlasan maka seperti tubuh tanpa ruh, seperti motor tanpa mesin, maka tak bisa pergi kemana-mana, jika dipaksakan pergi, maka akan menyusahkan orang yang membawa, begitu juga amal tanpa adanya keikhlasan maka akan menyusahkan orang yang didekat orang yang beramal, misal memberi uang maka uang nanti kan akan diundat-undat, diungkit-ungkit, diminta dikembalikan, bukankah itu menyusahkan pada orang yang didekat.”

“Iya…”

“Jadi amaliyah itu ada dzohir ada bathin, keduanya harus saling melengkapi, jika ingin amal itu sampai pada tujuan, itu namanya asbab, jadi dalam beramal seseorang itu jika masih dalam kedudukan sebab asbab, maka dia tak lepas dari sebab, musabab, dan akibat, seperti orang sakit kepala minum parasetamol lalu penyakitnya sembuh, padahal sebenarnya yang menyembuhkan Alloh, maka orang tersebut namanya masih menetap di maqom atau kedudukan asbab, artinya segala sesuatunya membutuhkan sebab, kenyang sebab makan, dan segala sesuatunya dikaitkan dengan sebab termasuk dalam ubudiyahnya, karena dia ibadah, lalu dia menjadi dekat dengan Alloh, tapi ada juga orang yang sudah tak tergantung oleh asbab, karena sudah memandang segala sesuatu itu dikehendaki Alloh terjadinya, dan segala sesuatu itu telah ditaqdirkan terjadi, maka terjadi, sakit juga jika Alloh menghendaki sembuh, maka akan sembuh, begitu dalam pemikiran orang yang sudah di kedudukan tanpa sebab, karena tak ada selain Alloh itu bisa menjadi sebab kepada Alloh, karena kesempurnaannya, semua menjadi sebab karena Alloh menghendakinya menjadi sebab, dan Alloh itu tak membutuhkan sebab agar sesuatu terjadi, juga seseorang itu ibadah tak akan menambah kekayaan Alloh, jika semua orang maksiat juga tak menjadikan Alloh menjadi miskin, jadi Alloh tak terpengaruh oleh gerak gerik semua mahluk, karena semua mahluq itu bergerak dan berhenti atas kehendak Alloh, jadi amal juga tidak bisa mendekatkan atau menjadikan dekat dengan Alloh, jika seseorang itu mengandalkan amalnya sendiri maka dia tak akan kemana-mana, karena jika ruhnya dicabut nyatanya berangkat ke kuburan pun harus dipikul rame-rame, menunjukkan bahwa amal kita itu tidak bisa menjadikan kita dekat dengan Alloh, tapi Allohlah yang menghendaki kita menjadi dekat.”

“Lalu bagaimana kita tahu, misal aku ini di maqom asbab atau maqom tajrid?”

“Seorang yang menempatkan jati diri itu hanya perlu berusaha istiqomah dalam ibadah, seperti orang yang kerja di pabrik jika dijadwal jamnya jam 7 masuk dan jam 4 pulang, ya harus konsisten, mengikuti aturan yang ditetapkan untuk dirinya, tanpa melakukan tindakan yang menjadikan absensinya merah, soal nanti dinaikkan kedudukan menjadi manager itu bukan urusan dia, sama dengan seorang yang beribadah pada Alloh, ada ibadah pokok, adalah waktu pokok bekerja, dan ibadah sunnah adalah waktu lemburan, jika seseorang mengandalkan gaji pokok atau penghasilan pokok maka dipastikan manusia itu akan merugi, sebab kebutuhan itu selalu ada yang tidak diprediksi, misal sakit butuh obat, hujan butuh payung, sama dengan orang yang menyandarkan ibadah pokok, suatu saat bepergian, maka mengqodho sholat, jadi orang yang tak merugi yang selalu sedia payung sebelum hujan, lakukan amal dengan tekun, maka kemudian seseorang akan meningkat di kedudukan yang ditentukan Alloh, dengan sendirinya akan menempati pada kedudukan tanpa sebab, menyembuhkan penyakit tanpa obat, rizqi tanpa mencari, dan menempuh tempat yang jauh tanpa proses perjalanan.”

“Oh udah habis jamnya..” kata Muhammad. Dan kami pun dijemput mobil pengangkut karyawan untuk kembali ke tempat bagian kami masing-masing melakukan tanda tangan keluar kerja.

Tak terasa telah hampir dua tahun aku di Saudi, waktu berjalan amat cepat, dan sudah sekali aku pulang cuti, hutangku di PJTKI juga sudah ku lunasi, malah uangku dikembalikan lagi oleh PJTKI dibelikan emas seharga sepuluh juta dan diserahkan pada istriku. Aku sudah mau mengajukan Resend, berhenti dari pabrik, tapi aku ingin Hajian agar tak percuma aku di Saudi, pas Hajian di tahun pertama dan kedua aku baru pulang dari Indonesia sehingga tak ada uang untuk biaya hajian, semoga di tahun ketigaku aku bisa hajian, sehingga aku bisa segera pulang ke Indonesia.

Sebenarnya di tahun kedua Muhammad telah membujukku untuk hajian dengan biaya ditanggung dia, tapi aku orangnya selamanya tak mau menyusahkan orang lain, walau saat itu Muhammad memaksa-maksa katanya sebagai tawadhuk murid kepada guru, tapi aku tetap tak mau.

——————————————-

Pulang kerja aku langsung mandi, setelah mandi sholat magrib, enaknya di Saudi setiap kamar ada kamar mandi dan WC, jadi setiap orang tak perlu repot antri, cuma kamar cuci yang mesinnya hanya satu, jadi kalau nyuci harus nunggu yang lain selesai.

Setelah sholat hape bunyi.

“Halo… mas, minuman sama ayam bakar ku taruh di pintu, tolong diambil, tadi ku ketuk-ketuk gak nyahut jadi ku taruh aja di pintu.” suara Muhsin.

“Oh ya… aku tadi lagi mandi, jadi pintu kamar ku kunci.” jawabku.

Biasa Muhsin membawakanku kalau tidak minuman kaleng, ya ayam bakar atau kepala kambing, atau babat sapi, atau kepala ikan laut yang jika dimasak seminggu gak habis-habis, sehingga aku tak makan di kantin dan memasak sendiri, dia juga aktif membawakan indomie sekardus, juga beras sekarung, kadang meja sampai penuh untuk menaruh makanan.

“Nanti habis sholat isya’ mau kesitu.” kata Muhsin lagi.

“Ya..” jawabku.

Ada yang mengetuk pintu, ku buka ternyata Amir Khan, orang Pakistan, tak biasa-biasanya main ke kamarku.

“Silahkan duduk.” kataku dengan bahasa Arab. “Kok tak biasanya main ke kamar?”

“Ya maaf mengganggu ustad.” kata Amir Khan, aku tak tau kenapa kebanyakan pada memanggilku ustad, padahal sama sekali juga aku tak pernah mengajar atau menunjukkan punya ilmu apa-apa.

“Begini ustadz, saya mau minta tolong…, sebab saya dengar ustadz sering dimintai tolong teman-teman.” kata Amir Khan.

“Soal apa itu? Maaf sebenarnya aku sendiri tak bisa apa-apa, jadi kalau nantinya mengecewakan.” kataku.

“Ini soal anak saya di rumah,”

“Memangnya kenapa anaknya?”

“Saya sendiri tak tau sebab musababnya ustadz, tiba-tiba sekitar sebulan ini anak perempuan saya yang berumur 10 tahun lumpuh, dan tak bisa berjalan.”

“Itu awalnya bagaimana?”

“Makanya itu ustadz, cerita istri anak saya itu tak panas juga tak sakit, ketika bangun tidur, begitu saja menjadi lumpuh…”

“Ooo begitu, apa bisa di rumah disediakan air?”

“Maksudnya air apa ustad?”

“Maksudku air mineral, ya air itu dibiarkan semalam, biar ku transfer obat ke dalam air tersebut, besok pagi airnya diupayakan diminum, dan dipakai mandi, bagaimana, bisa tidak?”

“Sebentar, saya akan menghubungi istri saya.” kata Amir Khan, sambil mengeluarkan hape dan menghubungi rumahnya.

“Oh ya sekalian suruh airnya dicampurkan air untuk mengepel rumah.” kataku di antara pembicaraannya dengan istrinya.

“Iya sudah disediakan air.” jawab Amir Khan.

“Iya nanti ditunggu saja perkembangan selanjutnya.” jelasku.

“Makasih ustad saya mohon diri dulu..” kata Amir khan.

Selang beberapa saat Muhsin masuk kamar membawa bungkusan makanan.

“Apa itu?” tanyaku menanyakan yang dibawa Muhsin.

“Ini nasi jagung plus ayam, titipan dari orang Maroko, bernama Abduh yang ku mintakan do’a tentang anaknya dulu, Alhamdulillah anaknya sudah baikan dan sehat.” jelas Muhsin. “Ayo dimakan.”

“Wah kalau nasi jagung kurang pas kalau tak disambelkan, biar aku nyambel sebentar.” kataku segera meramu sambel trasi andalan.

“Kayaknya tadi Amir Khan dari sini?” tanya Muhsin.

“Iya dia meminta dido’akan anaknya sakit di Pakistan sana.” jawabku.

“Ooo… wah enak ya kalau mendo’akan orang sakit di mana-mana bisa sembuh.” celetuk Muhsin.

“Ya semua orang juga bisa, la wong berdo’a saja apa susahnya.” kataku.

“Tapi kan ndak semua diijabah.” jawab Muhsin.

“Semua juga mempunyai hak diijabah yang sama, dan Alloh juga memberi hak diijabah yang sama, cuma manusia sendiri yang menjadikan do’anya terhalang oleh ijabah, nafsunya sendiri yang menjadi penghalang terijabahnya do’a, aku sendiri kan juga bukan orang hebat, sama doyan nasi jagung, sama doyan bakso, dan sama doyan semua yang halal, jadi tak ada bedanya dengan orang lain, sampean atau siapapun.”

“Itulah yang malah sulit membedakan, karena samanya, jadi sulit dilihat perbedaannya.” kata Muhsin.

“Kita sebenarnya hanya perlu melakukan cara ibadah yang benar, yang menjauhi yang dilarang dengan benar, memakan makanan yang terjaga kehalalannya, ya sebenarnya hanya itu.” kataku sambil memindah sambel yang selesai ku ulek.

Orang Maroko punya tradisi jika hari jum’at mereka memasak nasi jagung, nasi jagungnya sama dengan masakan Jawa Timur, aku yang memang suka nasi jagung, walau di Saudi, jadi hampir setiap jum’at mendapat kiriman nasi jagung dari orang Maroko, karena mempunyai murid orang Maroko.

——————————————-

Besok aku dikirim ke pabrik baru di Tahamah, perjalanan dari pabrik yang ku tempati ditempuh kira-kira delapan jam, sore hari pulang kerja aku cepat-cepat pulang ke kamar, melewati jalan pintas gerumbul semak perdu, walau di Arab karena kepedulian pabrik, jadi ada pengolahan air dinamakan water treatmen di mana air kotor diolah menjadi air bersih, dan sebagian dipakai menyirami tanaman, sehingga sekitar pabrik semua tanaman tumbuh subur, kebun mangga ada, kebun jambu, kebun pisang, kebun jeruk, yang paling menyenangkan di sini burung bebas berkeliaran, bahkan di pohon kadang penuh sarang burung, bergantungan, dan semua tiap pagi bernyanyi ramai sekali, juga tiap ada tiang lampu jalan, pasti ditempati sarang elang, atau bangau, bahkan di atap-atap pabrik, penuh sarang merpati, cuma teman-temanku pernah mengambil banyak merpati, karena kalau di sarangnya ditangkap tak lari, jadi mengambil merpati sampai dapat setengah karung, herannya dagingnya rasanya langu, mungkin yang dimakan bukan biji-bijian jagung.

Yang aku heran di sini juga ada ayam liar, atau kalau di Indonesia ayam alas, tapi bentuknya kayak kalkun, cuma sebesar ayam kampung, juga bisa terbang, jadi sulit untuk menangkapnya, banyak juga ayam liar, kadang mereka berkelompok. Walau tak pernah hujan, tumbuhan tak mati karena setiap pohon mendapat jatah air dari selang yang dialirkan sepanjang jalan. Jadi suasana amat rimbun, cuma kalau panas ya tetap panas, walau di bawah pohon, sebab panas terbawa hembusan angin.

“Ustadz, terima kasih…” kata suara seseorang di belakangku, ternyata Amir Khan orang Pakistan yang semalam meminta tolong.

“Bagaimana kabar anaknya?” tanyaku masih tetap jalan, dan Amir Khan berjalan di sampingku.

“Alhamdulillah kata ibunya tadi pas istirahat siang telpon, katanya anaknya sudah bisa jalan, walau pelan-pelan, ibunya juga merasa kaget, tiba-tiba anaknya turun dari ranjang.” kata Amir Khan.

“Ya syukur kalau begitu.” jawabku.

“Ustadz, ustadz mau dibelikan apa? Katakan saja, pasti saya turuti.” kata Amir Khan.

“Aku?” tanyaku.

“Iya..” jawab Amir.

“Wah aku tak ingin beli apa-apa, sudah yang penting anaknya sehat..”

“Tapi saya mau berterimakasih pada ustadz..” kata Amir Khan.

“Berterima kasih saja pada Alloh…, aku hanya meminta pada-Nya,” jelasku.

“Bolehkah saya menjadi murid Ustad…?” tanya Amir Khan.

“Ah aku orang bodoh, tak pantas diangkat menjadi guru, juga pas kebetulan aku berdo’a, dan Alloh pas menurunkan kemurahannya dan anakmu diberi kesembuhan.” kataku, dan sampai di kamar.

“Terima kasih ustadz..” kata Amir Khan karena aku akan masuk kamar.

“Sama-sama..” jawabku.

Akhirnya berangkat juga ke Tahamah, satu mobil jeep diisi sembilan orang, sepanjang perjalanan hanya pemandangan padang pasir, batu, gunung, dan rumah-rumah di puncak gunung, sekali waktu berhenti di tempat makan, untuk mengisi perut, dan di sini ya paling enak makannya nasi minyak, dan ayam bakar, tanpa rasa apa-apa, beda di Indonesia yang ada aneka makanan pilihan, bahkan bumbunya ayam bakar juga cuma cabe utuh, itu juga kalau minta, biasanya cuma dikasih kecap sama irisan bawang bombai. Sebenarnya jika ke pasar aku lebih suka makan roti canai, atau roti yang kayak martabak tanpa isi telur jadi cuma adonan tepung tapi digoreng, makannya disuwir dicolek ke kare daging, rasanya sih lumayan, mendekati rasa rendang padang, cuma kebanyakan kunyitnya, ya daripada tak ada, ya itu termasuk makanan lezat. Biasanya juga di jalan-jalan ada warung teh plus nyedot sisa, rokok ala Saudi, dan tehnya dari daun menthol yang direbus, di Saudi namanya daun Nak-nak, rasanya diminum panas ya hangat-hangat semriwing.

Jam 2 siang, aku sampai di pabrik Tahamah, ketemu juga banyak orang Indonesia, dan kumpul sebagian rombonganku yang dahulu berangkat bersama dari Indonesia, cuma kemudian yang lain dikirim ke pabrik beda daerah.

Malamnya pada main ke kamarku, ngobrol ngalor ngidul, ya menanyakan kabar dan lain sebagainya.

Pabrik Tahamah adalah pabrik baru yang sebelumnya katakanlah daerah tanpa penduduk, hanya wilayah gunung mati, jadi entah salah satu gunung dipangkas, diledakkan, didatarkan, kemudian dibangun sebuah pabrik, dan segala macam kebutuhan yang diperlukan pabrik, sehingga jika mau ke kota maka amat jauh, di kanan kiri depan belakang, dan kemana arah mata memandang yang ada hanya gunung dan deretan gunung-gunung batu, pabrik ini seperti sebuah koloni di dunia antah berantah, tak seperti di Indonesia yang gunungnya terdiri dari pepohonan dan hutan, kalau di Saudi, maka gunungnya hanya terdiri dari batu dan batu. Bahkan gunung itu seperti batu yang utuh.

Beberapa hari di Tahamah, bingung juga pertama sebab ternyata soal pekerjaan sama sekali tak ada, barang-barang yang ku butuhkan sama sekali tak tersedia, di Tahamah hampir-hampir dikuasai oleh orang India, insinyur dan teknisinya juga orang India, taulah orang India jika insinyur sekalipun belum tentu insinyur beneran artinya ijazah dari beli, jadi soal kerja sama sekali tak mengerti.

Bahkan aku sendiri ikut dipekerjakan melayani tukang batu, memang apes kalau bekerja dengan India, apalagi orang Saudi yang tak mengerti ijazah palsu atau bukan, jadi ingat orang India yang kerja di klinik, sakit apapun diberi obat parasetamol, padahal ijazahnya dokter. Ah tak taulah yang penting tak menyalahi aturan Alloh, mau orang lain menyalahi aturan bukan urusan diri.

Untung ada tukang-tukang dari Maroko, sehingga aku tak diminta bekerja berat, karena tau menjadi pelayan tukang batu bukan bidangku.

Sementara untuk mulai bekerja di kaligrafi entah harus menunggu kapan, untuk meminta meterial dan peralatan yang ku butuhkan prosesnya sangat ribet, tak ada yang mengurus, dan aku harus mengurus sendiri, mengajukan permintaan kepada bagian yang anehnya semua tak merasa membawahi pekerjaanku, aku jadi ketawa sendiri, la aku harus minta pada siapa? Sungguh pabrik besar yang semrawut.

Padahal material yang ku butuhkan tak seberapa harganya.

Daripada nganggur, mending aku jadi tukang sapu, aku tak rela memakan gaji buta, walau ini pabrik, tak rela rasanya tanpa mengeluarkan keringat lalu menerima gaji, biarlah aku menyapu gudang tiap hari, sampai sebulan dua bulan, aku hanya menyapu ruangan yang panjangnya hampir limapuluh meter persegi.

Sampai Muhsin telpon, menanyaka kabarku,

“Bagaimana pekerjaan di sana?” tanya Muhsin.

“Kerja apaan… di sini sampai sekarang cuma jadi tukang sapu..” jawabku.

“Lhoh kirain sudah mulai kerja kaligrafi?” tanya Muhsin.

“Ya aku ngajukan minta material yang ku butuhkan juga belum dikasih, malah sampai sekarang ndak jelas, ini aku ikut general services apa ikut welfare section, semuanya tak jelas, jadi aku cuma jadi tukang sapu.”

“Wah memang kalau dipegang orang India semua pekerjaan semrawut, nanti aku menghadap manager.” kata Muhsin.

HP pun ditutup, sebenarnya aku sudah perduli, mau kerja apa juga, asal tak terlalu berat.

Selama di pabrik baru aku, ternyata semua orang Indonesia juga terkena penyakit telpon-telponan sama TKW, malah ada yang sampai ketemuan, janjian, padahal di Indonesia punya anak dan istri, nyatanya semua orang tak tahan banting.

Dulu aku merasa kaget waktu di Jakarta, melihat teman pesantrenku tak pada sholat, padahal mereka jebolan pesantren Lerboyo, ada juga yang jebolan pesantren Sarang Rembang, tapi begitu di Jakarta, sholat sudah ditinggalkan.

Yang baru ku sadari, ternyata setiap tempat itu mempunyai karakter cobaannya sendiri-sendiri, di Saudi mungkin saja sholat dilakukan tapi keluarga kemudian dihianati.

Aku tak ambil pusing dengan apa yang mereka lakukan, karena aku tau betul jika aku mengingatkan mereka maka itu sama sekali tak akan membuat mereka sadar, malah bisa jadi aku malah akan dimusuhi.

Ada beberapa orang yang tak terseret oleh godaan saling telpon dengan TKW, dan ada dua kelompok yang tak suka main telponan dengan TKW, yang satu berkumpul di kamar yang ada TV nya, yang lain yang sering main ke kamarku, ya kalau di kamarku paling ku setingkan internet gratis dan sedikit ku ajak ngobrol tentang ilmu.

Dan sebagian meminta amalan, dan menjalankan puasa. Ada salah satu orang meminta satu kamar denganku namanya Lukman, katanya ingin biar bisa lebih dapat ku bimbing.

Aku tau Lukman mempunyai banyak masalah, di keluarganya, dan aku tau kalau dia ingin sekamar denganku hanya ingin agar bisa ngobrol berdua membicarakan masalahnya. Dan dugaanku tak meleset, saat semua orang sudah tak ada main di kamarku. Lukman mulai mengungkap unek-uneknya padaku.

“Mas…! terus terang aku punya masalah yang ingin ku sampaikan ke mas Ian…” kata Lukman yang kurus dan tubuhnya ceking, tapi tinggi semampai.

“Masalah apa? Ya kalau aku bisa membantu, insaAlloh akan ku bantu mencarikan solusinya, tapi jika aku tak bisa membantu, ya aku minta maaf.” kataku, yang tidur di ranjang satunya.

“Ini yang bisa membantu hanya mas Ian…,”

“Wah kok bisa gitu? Kan yang lain banyak teman-teman kita, kenapa musti aku?” tanyaku heran.

“Kan mas Ian yang punya ilmu trawangan, melihat dari jarak jauh.” kata Lukman.

“Wah kata siapa? Itu mengada-ada…”

“La buktinya kan banyak, misal soal mas Sarno, trus kemaren kan ada tukang kayu yang pasahnya hilang, kan juga yang nunjukkan ditaruh di atas lemarinya orang Arab kan juga mas Ian, akhirnya pasahnya ditemukan.”

“Ah itu sih kebetulan, pas tukang kayu orang Indo pasahnya hilang, dan dia habis ngerjain rumahnya orang Arab, ya ku bilang saja pasahnya di atas lemarinya orang Arab, dan pas kebetulan dicari di atas lemari pas ketemu, jadi bukan berarti aku bisa trawang atau melihat dari jarak jauh.”

“Ah mas aja yang merendah.”

“Bukan, memang aku tak punya ilmu seperti itu, jika pas kebetulan itu juga kan bukan berarti aku punya ilmu seperti itu.”

“Jadi mas Ian tak mau membantu masalahku?”

“Bukan tak mau, aku mau saja membantu jika aku mampu, kenapa tak mau membantu orang lain, tapi itu jika mampu, kalau tidak mampu lalu membantu bukankah akan malah menambah susah saja.”

“Baik begini mas, aku punya istri, punya anak satu yang masih kecil.”

“Lalu?”

“Kalau bisa dilihatkan bagaimana istri saya? Soalnya hati saya tak enak sekali.” kata Lukman.

“Lebih baik bekerja dengan baik, dan tak terlalu menyangka yang tidak-tidak, hanya akan membuat hati tak tenang.” nasehatku.

“Ya tolong dilihatkan mas..” Lukman merajuk.

Lukman lalu mengeluarkan foto istri dan anaknya.

“Ini mas, foto istriku…” Lukman menyodorkan foto ke arahku.

“Kamu itu hanya rindu pada keluarga, dan semua orang yang bekerja di Saudi itu pasti mengalami cobaan itu, namanya juga jauh dari keluarga, jadi jangan kemudian menjadikan diri terseret pada prasangka dan bayangan yang membuat diri tak tenang.”

“Tidak mas, ini masalahnya lain…”

“Sudahlah tenangkan saja diri, banyak-banyak dzikir, minta pada Alloh agar hati tenang.” kataku.

Malam itu tetap saja tak ku jawab kemauan Lukman, diriku memang serba susah, apalagi menyangkut rumah tangga orang, aku sama sekali tak ingin ikut campur dalam rumah tangga orang.

Besoknya pulang kerja seperti biasa banyak orang yang berkumpul di kamarku, ada yang tua ada juga yang muda, dan setiap waktu ada saja orang yang biasanya tak pernah ikut main ke kamarku, lalu tiba-tiba saja main, pasti ada maksudnya.

Ini ada tiga orang yang biasanya tak main ke kamarku, dan kali ini main, ada Iwan, pak Purwanto, dan Sodikun, pak Purwanto orangnya sudah umur 50 an tahun, juga Sodikun sekitar umur 50 an tahun. Iwan masih muda.

“Mas… saya mau ada perlu..” Sodikun mendahului bicara.

“Ada apa pak ?” tanyaku.

“Ini soal anak perempuan saya.” jawab Sodikun.

“Kenapa anak perempuannya?”

“Anak perempuan saya kemaren dibawa ke rumah sakit, dan divonis mengidap kanker rahim.”

“Hm… trus..?” kataku sambil membuang abu rokok mallboro merah di asbak.

“Maksud saya pengen minta bantuan mas, minta dido’akan supaya penyakitnya sembuh tanpa harus operasi.” jelas Sodikun.

“Ya ndak papa, saya do’akan, wong mendo’akan juga ndak bayar kok, tinggal minta saja sama Alloh, yang di rumah disuruh saja sedia air, nanti obatnya saya transfer ke air itu…, sana ditelpon dulu yang di rumah.” kataku.

“Iya mas, makasih sebelumnya.” kata Sodikun kemudian menelpon rumahnya.

“Ini ada apa Wan kok gak biasanya main ke kamarku?”

“Anu mas, saya juga mau minta tolong…” kata Iwan.

“Wah lama-lama aku dianggep dukun ini di Saudi.. ” candaku.

“Ya beda to mas, kalau dukun kan pakai menyan, kembang, sesajen, la panjenengan kan minta langsung sama Alloh..” sela pak Purwanto.

“Ada apa dengan nenekmu Wan?” tanyaku.

“Nenekku itu sudah lima tahun lumpuh tak bisa jalan, mas…”

“Lalu?”

“Ya saya minta mas mendo’akan nenek saya itu diberi kesembuhan oleh Alloh, soalnya selama ini sudah diobatkan kemana-mana juga hasilnya nihil, sudah banyak biaya yang kami keluarkan.”

“Ya suruh saja di rumah sedia air mineral, biar obatnya ku transfer ke air itu… sudah sana yang di rumah dihubungi.” kataku.

“Iya makasih mas sebelumnya.” kata Iwan lalu berlalu menelpon rumahnya.

“Ini pak Pur ada apa?” tanyaku pada pak Purwanto.

“Sama mas, mau minta do’anya untuk anakku yang di rumah, anak lelakiku sebesar mas tapi pikirannya kayak terganggu.”

“Terganggunya bagaimana pak?” tanyaku.

“Dulu pernah mengalami kecelakaan motor dan sejak saat itu jadi sering diam, kayak orang bengong gitu…”

“Hm… ya sama kalau begitu di rumah disuruh saja sedia air mineral, biar obatnya nanti ku transfer ke air itu.”

“Ya mas makasih, biar saya telpon ke rumah.” kata Purwanto.

Sodikun sudah menghadap lagi,

“Sudah saya suruh sedia air mas.” kata Sodikun.

“Bapak tulis nama dan nama bapak di kertas, besok pagi airnya suruh minum ke anak bapak, moga saja sembuh.” kataku. Dan Sodikun pun menulis nama anaknya dan nama dia.

“Nanti airnya diminum waktu pagi ya mas?” tanya Sodikun.

“Iya minumnya waktu pagi, sebelum makan atau minum apapun, insa Alloh kalau Alloh mengijinkan sembuh, nanti tumornya akan hancur, terbuang lewat jalan pembuangannya.” kataku. “Jadi kalau keluar daging dan darah banyak tak usah terkejut dan kaget.”

“Iya mas… makasih..” kata Sodikun, dan minta diri dari kamarku.

“Ini mas, airnya sudah disediakan,” kata Iwan.

“Suruh saja besok pagi diminum nenekmu, dan diusapkan di kakinya, tapi Wan, belum tentu kesembuhan itu membawa kebaikan.” jelasku.

“Ya mas, asal nenekku sembuh, kasihan dia sudah sakit sejak lama…” kata Iwan.

“Moga-moga saja sembuh.” kataku.

“Makasih mas,” kata Iwan.

“Iya sama-sama.”

“Airnya sudah disediakan mas.” kata pak Purwanto.

“Iya besok, airnya diminumkan ke anaknya, dan dipakaikan mandi.” kataku.

“Besok pagi ya mas..? “

“Iya besok pagi, moga saja diberi kesembuhan oleh Alloh.”

“Makasih banyak mas… semoga Alloh membalas kebaikan mas Ian.”

“Amiin.” pak Pur pun berlalu, dan masih beberapa orang yang ngobrol ngalor ngidul tak karuan.

Aku tertidur, dan tak tau orang-orang sudah pergi, ketika bangun, segera menjalankan sholat isya’, dan mendo’akan yang minta dido’akan.

Lukman masuk, baru pulang kerja lembur, wajahnya nampak kusut. Aku melanjutkan dzikirku. Setelah selesai dzikir, aku membuat indomie, karena perut keroncongan. Ku buatkan sekalian Lukman yang masih mandi.

“Ayo makan indomie.” kataku ketika Lukman selesai mandi.

“Makasih mas, gak nafsu makan.” katanya tak semangat.

“Lhoh jangan gitu, ini sudah terlanjur ku buat dua, sudah, ada masalah bisa dipikirkan dengan perut kenyang, kalau perut lapar, masalah kecil juga tak akan selesai, jangan karena satu masalah lalu diri terseret dalam arusnya, tenangkan diri, hanya hati yang tenang yang mampu menyelesaikan masalah, ayo makan..” akhirnya Lukman mau, dan kami makan.

About these ads
  1. Nur kholis
    12 Juli 2013 pukul 1:01 am

    Terima kasih mas ian atas petunjuknya mudah”an ini berkah buat keluarga saya Aamiin 3x

  2. 15 Juli 2013 pukul 9:34 pm

    sblm nya mf ms ian, sya mnta tlong sma mas ian, sya pnya nenex yg buta dan kta dokter dia sdah nggak bsa di oprasi, klau di oprasi akan berakibat patal bgi nyawanya krna umurnya sdah tua, sya sngat mhon kpada mas ian untux mendo’akn kpda allah swt agar nenek sya bisa smbuh dan bisa melihat lgi

  3. nursyahid
    22 November 2013 pukul 8:42 pm

    mohon do’a kan pak ustad moga penyakit epilepsiku +tubuh mati separo bisa sembuh.. Kaliori-rembang

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.117 pengikut lainnya.