Beranda > sang kyai > Sang Kyai 4

Sang Kyai 4

“Aku selalu mendoakan ibu…”

“Tapi doamu tak sampai, kenapa kau tak masuk agama Muhammad, aku tak kuat lagi disiksa…”

“Mama…huhu..” Evo masih menangis.

“Aku pergi anakku …masuklah agamanya Muhammad..”

Tiba-tiba tubuh Jauhari melemah, dan ambruk.

“Mama… mama jangan tinggal Evo ma… Mama.” Evo menjerit lalu tubuhnya gelosor pingsan lama Evo pingsan, sementara Jauhari telah lama sadar, tapi masih kelihatan bingung, kayak orang habis dinyalain petasan tepat di depan hidungnya.

Sementara setelah Kyai menyalurkan tenaga prana dari jauh, Evo mulai bergerak-gerak sadar, karena peristiwa itu Evo kemudian masuk Islam, mempelajari doa anak kepada orang tuanya. Setelah sholat ashar, keluarga Evo meninggalkan pesantren, wajah Evo sudah tak sedih lagi, nampak jelas ada gurat-gurat harapan yang kuat di dasar hatinya, sehingga wajah cantiknya berpendaran.

Belum sampai setengah jam mobil Evo dan keluarganya pergi, datang lagi dua mobil, satu mobil toyota model lama, satu lagi mobil sedan polisi. Setelah mobil itu parkir, orang-orang yang ada di dalam mobil segera keluar, dari mobil toyota kijang, nampak keluar dua lelaki satu berperawakan sedang bajunya warna coklat susu, umurnya sekitar empat puluhan tahun, orang ini bernama Setiono, sering dipanggil pak Nono, adalah kepala desa Pasir Seketi.

Yang keluar dari mobil bersamanya adalah carik Sanusi, orangnya berperawakan tinggi gagah, kumis melintang sangar. Sementara mobil yang satu lagi adalah mobil polisi, berisi tiga orang polisi. Kelima orang itu segera menemui Kyai di rumahnya.

Aku tak mengerti masalahnya, sampai Kyai memanggilku, karena aku sedang masak di dapur menyiapkan makanan untuk berbuka puasa. Merebus singkong, dan membakar ikan asin. Bau ikan asin yang terbakar segera memenuhi udara, memanggil cacing dalam perut bergerak-gerak sehingga menimbulkan suara berkerutan, rupanya bau ikan asin pun sampai ke rumah cacing-cacing dalam perut itu.

“Feb, dipanggil Kyai..” suara Majid yang wajahnya melongok dari balik gedek yang sebatas dada, pemisah dapur dengan dunia luar, yang memanggil Feb cuma Majid, dia adalah teman sekolahku di SMA. Karena tau aku di pesantren lalu dia menyusul, Majid sama denganku dari Tuban cuma beda kecamatan, dia dari Bangilan, perawakannya biasa malah agak pendek, tingginya setelingaku, wajahnya paspasan, ganteng kagak, jelek ia, karena wajahnya berlubang-lubang bekas jerawat batu, tapi memang hobynya mencet jerawat, kalau sudah mencet jerawat, maka ia akan berusaha sekuat mungkin supaya jerawat itu kena, kalau sudah kena, senangnya seperti mendapatkan harta karun terpendam.

“Gantiin di dapur ya?”

“Udah sono, biar aku yang ngurusin”

Akupun melangkah meninggalkan dapur menuju tempat Kyai menerima tamu. Nampak di situ juga Mujaidi, rupanya dipanggil juga, Mujaidi adalah santri dari Bekasi. Sebenarnya awalnya bukan santri, tapi berobat karena kecanduan narkoba, setelah sembuh, kemudian memutuskan menjadi santri.

Mujaidi perawakannya tinggi kurus, aku aja sepundaknya, umurnya masih delapan belasan, bibirnya tebel hitam, sering sariawan, lalu dikelotoki kulitnya, wajahnya agak lonjong, sama dengan Majid, wajah Mujaidi juga berlubang-lubang karena bekas jerawat batu, hobinya sama dengan Majid, memenceti jerawat, kalau Mujahidi sudah memenceti jerawat maka ia akan lupa waktu, lupa makan, bedanya dengan Majid kalau Majid mencet jerawatnya kalau sudah meletus, bekas letusannya diusap-usapin ke tembok, tapi kalau Mujahidi lebih profesional mencetnya aja dia pake kain, sehingga kalau jerawatnya meletus, letusannya tak kemana-mana, kainnya juga dibasahi cairan antiseptic.

Peralatan pencet memencet jerawat milik Mujahidi juga lumayan lengkap. Yang aku pernah lihat, ada batu kali, manfaatnya adalah kalau batu dijemur di matahari, dan setelah panas maka ditempelkan, ke jerawat yang belum matang, maka akan segera matang, ada lagi amplas nomer 2000, gunanya untuk mengamplas tempat jerawat yang terlalu dalam. Ada juga jarum jahit, untuk ngorek-ngorek jerawat yang sudah terlalu berakar.

Aku segera duduk di sebelah Mujahidi, yang melemparkan senyumnya kena mataku,

“Mas Ian.” kata Kyai.

“Iya Kyai.”

“Entar malem, bareng Mujahidi ikut ronda sama orang Pasir Seketi. Mereka membutuhkan bantuan kita, untuk menangkap pencuri yang meresahkan warga.”

Akupun mengiyakan, sambil melirik Pak Lurah dan rombongannya. Maka setelah sholat maghrib, dan menjalankan wirid wajib, aku dan Mujahidi pun berangkat setelah berpamitan kepada Kyai. Gelap mulai merayap, kampung Pasir Seketi dari pesantren jaraknya kira-kira empat kiloan, cuma harus melewati hutan kopi yang panjang serta grumbul-grumbul yang gelap mengerikan, tapi kami menganggapnya biasa, karena memang kami biasa hidup di alam bebas. Jam delapan lebih kami tiba di desa Pasir Seketi. Di hadang pemuda-pemuda desa yang membawa golok arang.

“Siapa?” tanya pemuda gempal memakai topi coklat. Di belakangnya berdiri pemuda yang lain siaga.

“Aku Ian.” jawabku keras untuk menghilangkan kecurigaan. Dan rupanya pemuda itu mengenaliku.

“Oo mas Ian, ayo mas ke rumah Pak Lurah, Pak Lurah sudah menunggu, tadi berpesan kalau mas Ian datang supaya langsung dibawa ke rumah.” kata pemuda itu seraya menggandengku. Diikuti oleh anggukan hormat dari sepuluh pemuda, di mata mereka memancarkan kekaguman ketika memandangku dan Mujahidi.

Memang kisah pesantren kanuragan Pacung, lereng gunung Putri, sudah menjadi buah bibir, tentang Kyai dan santrinya yang sakti-sakti, itu membuatku bangga sekaligus takut, takut satu saat cerita mereka terbukti, dan kami tak sakti, lemah, tentu akan kecewa mereka dan nama pesantren Pacung hanya isapan jempol belaka.

Kami bertiga sampai di rumah Pak Lurah, dan memang di serambi depan Pak Lurah telah menunggu kedatanganku. Melihatku dan Mujahidi datang, Pak Lurah segera menyongsong kedatanganku.

“Ah saya sudah berharap-harap cemas, jangan-jangan nak mas Ian gak datang, mari-mari.″ kami diajak masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi.

Sementara di meja terhidang beraneka macam buah, gorengan, dan entah makanan apa lagi, aku yang tiap hari makan singkong rebus, tentu ingin mencicipi buah semangka yang telah dipotong-potong warnanya ada yang kuning dan merah. Aku melirik Mujahidi, tentu dia juga merasakan apa yang kurasakan, oh benar sekali, kulihat jakunnya naik turun amat cepat. Karena ludah yang ditelannya, dan tanpa sadar dia mengulurkan semangka kuning, aku menyodok kakinya dengan kakiku. Kebetulan Pak Lurah ke dalam sebentar, memanggil istrinya, dan anaknya diminta menyediakan minuman, semangka kuning yang telah di tangan Mujahidi, segera cepat dilahap, ketika Pak Lurah keluar, semangka itu telah hilang termakan tak tersisa sampai kulit-kulitnya.

Pak Lurah keluar bersama istri dan anak perempuannya, sambil membawa minuman di nampan.

“Ini lo bu murid dari Pesantren Pacung, anak-anak muda yang sakti-sakti.″ terdengar suara Pak Lurah yang benar membuat aku jengah, serba salah, tapi aku berusaha bersikap wajar.

Anak Pak Lurah bernama Anggraini, wajahnya ayu wajah polos anak desa, tapi aku kaget ketika Anggraini meletakkan minuman matanya mengerling, bagaimanapun aku lelaki normal wajarlah kalau berdesir hatiku. Setelah kenal-kenalan, istri dan anaknya Pak Lurah ke dalam, tinggal aku, Mujahidi, dan Pak Lurah. Sementara satu pemuda dan dua orang desa yang sebelumnya menemani Pak Lurah telah melanjutkan ronda. Aku melanjutkan pembicaraan sambil sekali-kali mencicipi tahu isi dengan cabe kesukaanku.

“Sebenarnya ada pencurian yang bagaimana sih pak, kok sampai meminta bantuan Kyai?”

“Begini lo nak mas Febri,” Pak Lurah mulai bercerita, setelah menarik napas panjang.

“Desa Pasir Seketi adalah desa yang damai, tak pernah ada pencurian, kehilangan. Sampai satu hari… Anak perawan desa ini ada yang hilang, namanya Nining. Sehari dua hari Nining tak muncul, kedua orang tuanya menyangka Nining pergi ke kota menyusul abangnya yang bekerja di Jakarta, jadi orangtuanya kemudian menghubungi abang Nining yang ada di Jakarta, tapi abangnya mengatakan, Nining tidak menyusul ke Jakarta, semua orang bertanya lalu kemana Nining, sampai seminggu kemudian tubuh Nining ditemukan di sungai pinggir desa sudah tak bernyawa. Semua orang geger, siapa yang tega melakukan kekejian seperti itu? Setelah diperiksa forensik ternyata Nining diperkosa sebelum dibunuh, Polisi berusaha menyelidiki tapi hasilnya tak ada. Pembunuh Nining tak bisa ditemukan. Sampai sebulan kemudian, lagi-lagi Melati perempuan desa ini pun menghilang, malah menurut ibunya Melati malam itu menghilang dari kamarnya, karena memang jendelanya terbuka, seluruh desa telah diubeg-ubeg tapi Melati tak ditemukan, sampai seminggu kemudian mayatnya ditemukan di sungai dulu Nining ditemukan. Ini jelas bahwa penjahat yang menculik adalah penjahat cabul belaka. Tapi kami tak tau bagaimana dia beraksi.” Pak Lurah berhenti bercerita, dia mengambil rokok Dji sam soe dan menyalakannya, aku dan Mujahidi pun ikut-ikutan mengambil rokok dan menyalakannya, selama ini kami ngerokok tingwe alias ngelinteng dewe. Itu pun tembakau puntung, maka rokok Dji sam soe terasa nikmat sekali, asap mengepul-ngepul bergulung.

Pak Lurah melanjutkan ceritanya.

“Kami tak mau kecolongan lagi, maka perondaan ditingkatkan, dibantu para Polisi, sampai seminggu yang lalu, kami meronda, salah satu rombongan peronda melihat bayangan dalam gelap malam, “berhenti.!!” tapi bayangan itu, malah berlari, dan ternyata menggendong karung di pundaknya, tak salah lagi, penculik, sebagian rombongan segera mengejar, yang lain memukul kentongan memanggil bantuan, semua orang berlarian ke arah suara kentongan, dan setelah tau semua mengejar, saat itu Pak Lurah sendiri dan tiga Polisi ikut mengejar. Betapa saktinya orang itu, dengan masih menggendong orang yang diculiknya dia melesat meloncati pagar meloncat ke wuwungan atap rumah, lalu meloncat ke atap yang lain, Polisi mau menembak tapi takut mengenai perempuan yang dipanggul, lalu penculik itu berhenti dan menoleh, seperti mengejek. Lalu melesat cepat, dan hilang di telan gelap malam. Tempat sekitar penculik itu menghilang sudah kami aduk-aduk tapi kami tak menemukan apa-apa, dan yang hilang kali ini gadis bernama Tunik, seminggu kemudian kami menemukan nyawa Tunik dibuang begitu saja di sungai ujung desa. Maka setelah kami adakan rapat, kami memutuskan meminta bantuan Kyai Lentik …,” belom lagi Pak Lurah menyelesaikan ceritanya, tiba-tiba terdengar jeritan istri Pak Lurah dari dalam.

“Anggraini..! Anggraini pak.” Pak Lurah segera lari ke dalam, aku dan Mujaidi segera mengikuti, nampak bu Lurah menangis.

“Anggraini hilang pak,”

“Hilang gimana?”

“Tadi di kamar, sekarang nggak ada..”

“Sudah dicari kemana-mana?″

“Sudah pak tapi kgak ada.”

Tiba-tiba ditabuh kentongan bertalu-talu. Aku segera menghambur ke arah suara kentongan, disusul Mujahidi.

“Kejar..!” “penculik tangkap…!”

Aku berlari cepat, Mujahidi menyusul di belakangku, orang berserabutan mengejar. Tubuhku terasa ringan, aku dapat menyusul yang lain, malah aku tak sadar ada paling depan di antara pengejar. Kulihat bayangan meloncati sebuah pagar, di pundakya kelihatan karung, tentunya berisi, ah pasti Anggraini, aku makin cepat mengejar, semangat, meloncati pagar, meloncati sungai kecil, menerobos kebon pisang. Aku berhenti membungkuk mengatur napas, mengusap keringat yang membasahi jidatku. Aku baru sadar kalau aku sendiri, kemana yang lain, aku tengak tengok tak ada orang, yang lain pada kemana, tapi aku tadi benar-benar melihat orang itu lari ke sini, dengan sinar bulan yang seperti kuku, kucoba mengenali tempat sekitarku.

Perlahan pandanganku mulai jelas. Kuburan. Benar tempat ini kuburan, mungkin pemakaman orang desa Pasir Seketi, tapi semakin ku perhatikan ini pemakaman tua, terlihat yang tak begitu terurus, dan batu nisannya dari batu yang menyerupai batu candi, semua hitam berlumut. Segala pohon melintang kesana kesini, rumput setinggi lutut, pohon besar di tengah pemakaman, sungguh tempat yang angker, mungkin dulu aku kalau tidak digembleng Kyai mengitari pulau Jawa dan tidur di sembarang tempat yang lebih serem dari tempat ini, tentu aku akan takut.

Aku melangkah berhati-hati sambil kaki meraba-raba, sekali waktu mataku menengok ke arah aku datang mengharap ada yang menyusulku, tapi keadaan teramat sepi, aku mau memutuskan tuk kembali, tiba-tiba terdengar, suara daun kering terinjak,

”Siapa?” kataku, tak yakin. Muncul di depanku bayangan manusia, pakaiannya hitam-hitam dan memakai penutup wajah hitam.

“Heh cuma mas Ian ha ha ha.” suara orang itu dan bentuk tubuhnya yang tinggi besar, aku seperti pernah mengenalnya.

“Hah kau penjahat cabul…” kataku sambil masih tengak tengok, mengharap orang yang datang.

Sebab kalau sampai aku berhadapan dengan lelaki ini sendirian bisa berabe. Apakah begini rasanya kalau mau berkelahi, tubuh gemetar. Bagaimana aku menghadapi orang ini, kulihat tubuhnya tinggi besar, berotot, kalau dibandingkan denganku tubuh kecil ceking, tangan kecil kurang gizi, jangankan berkelahi salaman aja kalau tanganku diremasnya tentu seperti meremas kobis. Apalagi sampai berantem, aku takut membayangkannya.

Terus terang selama ini belum pernah aku berkelahi, pernah juga mau berkelahi, waktu aku kelas SD, kelas dua, kursi yang ku tempati ditempati sama anak lain, lalu ku suruh dia pergi, tapi tak mau malah ngajak berantem, lalu dia memegang hidungku, akupun menangis sekencangnya. Tanpa sadar ku pegang hidungku yang mancung. Wah bagaimana kalau nanti hidungku dipukul sampai patah, pasti tak bisa ku banggakan lagi, apalagi kalau sampai aku mati.

Ah aku kan masih punya hutang ama teh Ipar, warung yang dekat pondok, apa aku lari aja ya, eh pembaca jangan mengira aku ini pengecut, aku lari cuma mau bayar hutang, apa aku jujur aja ya sama orang di depanku. Aku pergi dulu bayar hutang, nanti balik ke sini, dia bisa nunggu sambil ngrokok-ngrokok, kuraba sakuku, tadi sebelum pergi aku sempat menyambar rokok Djisamsoe yang ada di meja pak Lurah, tapi alangkah kecewaku, rokokku hilang pasti terjatuh saat kejar-kejaran tadi, ah pupuslah harapanku, tapi kalau dipikir-pikir kalau untuk bayar hutang saat ini aku sendiri tak punya uang.

Eh kamu jangan hiha hihik kalau baca, pasti kamu mengira aku pengecut, bener aku mau bayar hutang tak bermaksud lari, ini pilihan sulit tak seperti yang kau kira, aku hanya takut kalau mati masih menanggung hutang. Dan aku tak takut berkelahi, soal aku di terminal Pulogadung ditodong preman kemudian semua uangku diminta lalu ku berikan, itu memang karena aku tak mau berkelahi dan tak suka berkelahi, kalau mau orang di depanku ini, daripada berkelahi mending main gaple, atau skak, atau macan-macanan, atau yang lebih gampang lagi, suit.

Yang kalah harus mengakui kalah, jadi gak ada yang terluka, eh pembaca jangan ketawa-ketawa aja, aku tahu kalian menganggapku pengecut, lagian kalau aku mati, kalian kan gak tau kelanjutan cerita ini, oke aku ngalah memang aku pengecut, lalu kalian mau apa?

Bingung, terjadi pergolakan dalam pikiranku. Ah aku masih berharap ada pemuda kampung yang datang kesini membantuku, repotnya kalau menjadi orang udah terlanjur dianggap sakti, keringat mengucur, dari semua pori-pori tubuhku, bahkan punggungku basah.

Padahal udara sangat dingin sekali. Sesaat hatiku lega, ketika kulihat bayangan mendekati. Tempat aku dan orang bertopeng itu berhadapan. Tapi rasa legaku segera sumpek lagi, karena yang datang ternyata Mujahidi, wah sama aja, parah. Bisa tambah runyam ini urusan. Gimana gak runyam, Mujahidi ini lebih pengecut lagi, mungkin embahnya pengecut. Sama ulat aja takut, jangankan ulat, di tubuhnya dirambatin kecoak aja gindrang-gindrangnya aja tak henti, merinding terus.

“Hua ha ha, rupanya pendekar dari pesantren Pacung lagi yang datang, sungguh bangga bisa bertarung dengan orang gagah.” kata orang bertopeng itu dengan nada menghina, mungkin dia sudah tau kalau kependekaran kami cuma cerita saja,

“Heh Muja, kenapa kamu kesini..?” tanyaku berbisik, setelah dia ada di dekatku.

“Aku cuma ngikuti mas Ian, soalnya tadi arah larinya kesini. Dia tuh siapa mas?”

“Ya ini orangnya yang suka nyulik gadis.”

“Waduh bahaya kalau begitu mas, mending lari aja mas..” Mujahidi beringsung sembunyi di belakangku, itu sudah aku kira, jadi aku tak terkejut melihat tingkah Mujahidi. Lalu bisikku,

“Eh apa enggak perlu pake alasan?”

“Ya enggaklah ya lari, lari aja,” aku baru saja mau menyetujui usul Mujahidi, tiba-tiba orang bertopeng itu telah bicara,

“Ah jangan banyak bacot, terima seranganku.” kaki orang itu lurus menendang ke perutku, gerakannya begitu cepat. ngehg.! Perutku kena tendangan telak.

Aku tak sempat lagi mengelak, atau lebih tepatnya tak tau cara mengelak, karena memang tak tau bagaimana bertarung, perutku mulas bukan main, tapi aku masih untung jatuhku menimpa Mujahidi yang ada di belakangku.

Aduh perutku mules banget. Ah mungkin bisa jadi alasan aku beol dulu, tapi setahuku dalam cerita silat tak ada yang menghentikan pertempuran untuk beol dulu, apa nanti tak malu-maluin. Tiba-tiba bruuuet…! Angin keluar tanpa bisa kucegah lagi, Mujahidi mendorongku, “Ah kentut, beuh baunya seperti kentut gendruwo…” Mujahidi memegangi hidungnya seakan-akan yang kukentuti hidungnya. Dia berbangkis-bangkis. Aku segera berdiri, setidaknya mulas di perutku berkurang.

Tiba-tiba kudengar bisikan halus di telingaku, jelas aku tau itu suara Kyai. “Mas Ian, baca Basmalah.” panas seperti balsem cap lang, mengalir deras ke setiap urat-uratku, mengalir ke ujung jari kaki tangan dan kakiku. Sehingga tubuhku makin lama makin ringan, dan kakiku serasa tak menapak lagi ke bumi, mengalir ke kepala sehingga mataku makin lama makin jelas melihat, tempat ini pun menjadi seperti siang di penglihatanku. Bahkan seekor nyamuk yang terbang kian kemari tampak nyata sekali, suara nyamuk yang hinggap pun terdengar kakinya menapak di nisan.

Aku tak tau apa yang terjadi denganku, hawa yang mengalir dari pusarku masih terus mengalir.

“Huahaha…., pendekar, jawara tai ayam, curot, murid pesantren Pacung tak ada isinya..,” suara orang bertopeng itu memecahkan sunyi yang menyelimuti pemakaman tua itu.

“Mati saja kalian.” setelah mengatakan itu tubuh orang itu berkelebat. Kaki dihantamkan lurus ke arahku, kaki satunya menekuk. Tapi di pandanganku serangan itu seperti filem dalam gerakan lambat.

Tiba-tiba kurasakan ada tenaga dari dalam tubuhku. Aku menyamping, kaki yang menderu ke arahku, ku cengkeram dan ku tarik sehingga lelaki itu terlempar mengikuti tendangannya. Dan tanganku menelusup menghantam lehernya dengan pergelanganku.

Hugh!!, tubuhku terseret oleh tubuhnya, kaki kiriku yang terangkat segera memalu belakang kepalanya sementara tanganku menarik lepas kain penutup kepalanya, dan bret..! Aku kaget bukan main.

“Hah carik Sanusi…!” orang yang menjadi maling para gadis itupun kaget, tutup wajahnya lepas.

Lebih kaget lagi dia tak menyangka akan seranganku. Cepat beruntun, telak, aku sendiri kaget, dan tak tau apa yang menimpaku sehingga mampu menyerang begitu jurus yang kupakai seperti jurus taici. Mujahidi juga terlongo-longo menyaksikan sepak terjangku.

“Setan alas. Bajulbuntung, tai kebo, jiampot, rupanya punya simpanan hah.” umpat carik Sanusi panjang pendek, lalu segera mencabut goloknya.

Aku pun segera mencabut golokku. Golokku ini dibilang golok biasa ya memang golok biasa, karena sering kupakai memotong kayu bakar. Soal kesaktiannya sudah tak terhitung berapa nyawa ayam termakan ketajamannya. Golok ini pemberian Kyai, karena memang aku tak punya uang untuk membeli golok, golok ini bergagang kayu sawo kecik, dibuat oleh orang Ciomas. Kampung pembuat golok paling punya nama di tlatah Banten.

Sebelum membuat golok besi ditancapkan di tanah pada waktu bulan purnama, dan baru diambil bulan purnama kemudian, sehingga besinya menjadi besi kuning tahan karat dan tua. Ilmu kekebalan yang bagaimanapun akan terluka tersentuh golok ini, karena diisi oleh Kyai. Tapi aku tak mau terbawa oleh cerita mistik tentang golok, makanya golok ini kubuat bekerja di dapur.

“Suing…!” terdengar desingan ketika Sanusi menyerangku dengan ilmu goloknya, aku tak mengerti ilmu golok, tapi yang jelas serangan Sanusi tak bisa dianggap remeh, goloknya menderu menjadi beberapa bagian, lagi-lagi kekuatan dalam tubuhku seperti menggerakkanku, aku mengikuti saja. Ketika tubuhku juga berkelebat yang jelas di seluruh tubuhku seperti ada sentakan-sentakan kecil seperti setrum listrik, yang membuat golokku berkelebatan kesana kemari. Sangat cepat dan tak terduga. Mengurung Sanusi dari segala arah, wut,wut, betbetbet. Begitu suara nya.

“Trang…!” Golokku berbenturan dengan golok Sanusi, tak terasa apa-apa, tapi golok Sanusi terlepas dan dia memegangi tangannya. Ada kekuatan yang menarikku mundur, badanku pun melayang seperti kapas, kemudian hinggap di tanah dengan perlahan melayang. Kulihat Sanusi terhuyung, ternyata hasil seranganku sungguh mengerikan, beberapa detik kemudian terlihat di sana sini tubuh Sanusi penuh luka sedalam setengah senti. Bahkan pakaiannya tercabik-cabik tak karuan, Sanusi melenguh lalu melemparkan sesuatu ke arahku, ku kira itu sebuah tulang kecil-kecil, dan “bulz” asap mengepul tipis.

Tiba-tiba saja telah muncul, empat pocong mengurungku, aku kaget dan ngeri melihat empat pocong yang wajahnya ada yang cuma tengkorak, ada yang biji matanya sudah hilang satu, biji mata yang satu keluar seperti mau jatuh. Sementara tempat hidung telah gerowong, juga rahang dan giginya hilang, aku pontang panting karena pocong itu tak mempan dibacok, golokku membal ketika mengenai kain pocong itu sehingga aku panik, dan hanya bisa menendang tuk menjauhkan pocong itu, tapi ketika pocong itu terjengkang maka tubuhnya seperti memantul, tegak lagi.

“Hai Mujahidi bantu aku.” aku berteriak panik karena sudah lelah, tapi Mujahidi rupanya pingsan tubuhnya menyender ke pohon sambil berdiri. Ah rupanya aku harus berjuang sendiri, tenaga di dalam tubuhku melontarku ke atas, tubuhku melayang ringan di atas pocong-pocong, lalu bersalto dua kali dan hinggap di dekat Mujahidi. Ku dekati dia memang benar-benar pingsan, mungkin pingsan saat melihat pocong-pocong itu, uh matanya sampai melotot dan mulutnya terbuka lebar.

Tiba-tiba terdengar bisikan Kyai di telingaku, “mas Ian kalau membacok pocong itu baca takbir.” Mendapat pesan seperti itu aku lantas menggenjot tubuh, berkelebat bak anak panah lepas dari gendewa membabat empat pocong sekaligus. Sambil membaca takbir, dan memang golokku bisa merobek kain ules mereka. Dan blesss.! Begitu saja pocong-pocong itu berhamburan seperti debu yang ditaburkan ke udara. Hilang.

Aku berdiri sejenak memandang berkeliling, carik Sanusi telah tak ada dia tadi melempar tulang kearahku langsung kabur. Ku dekati Mujahidi, ah enak-enakan dia pingsan, ku coba membangunkan dengan cara apa saja tapi tetap aja pingsan, aduh nih orang nambah kerjaan aja. Sekarang mungkin jam dua dini hari, embun sudah mulai turun. Aku berpikir pasti Anggraini di sembunyikan di pemakaman tua ini. Ku tinggalkan Mujahidi, menuju arah tadi aku pertama kali aku melihat carik Sanusi datang, untung penglihatanku terasa terang, sehingga aku dapat melihat jelas sekitarku.

Nampak makam-makam yang aneh berbatu nisan batu ukir, mungkin makam zaman Hindu kuno, pohon kemboja, randu alas, dan pinggir makam ditumbuhi pohon bambu yang rapat. Aku berhenti di sebuah nisan aneh bentuknya seperti kepala kuda, tapi patah sampai matanya, juga telinganya yang keatas sudah patah, aku bersandar, tapi ketika aku sandari nisan kepala kuda itu bergeser, aku terkejut, karena tanah yang ku injak terbuka begitu saja dan aku pun jatuh ke sebuah tangga semen, menuju ke bawah. Sebentar aku terkejut, rupanya di makam ini ada ruangan rahasia, pantas Sanusi selalu dapat menghilang kalau dikejar orang kampung.

Rupanya rahasianya di sini, perlahan ku turuni tangga, golok kukeluarkan, untuk berjaga-jaga dari sesuatu yang tidak kuinginkan, dinding bawah tanah ini lumayan rapi, karena disemen walau asal-asalan dan kasar. Ada lampu minyak menempel di dinding yang cahayanya bergoyang-goyang karena tertiup angin yang masuk. Wah gila juga si carik Sanusi menciptakan tempat seperti ini, ruangan bawah tanah ini ada dua aku masuki ruangan satu, luasnya kira-kira empat kali tiga meter, ada meja kursi, piring, mangkok dan peralatan masak, ruangan ini rupanya dapur dan tempat makan, aku ke ruangan satunya lagi, rupanya yang ini ruangan tidur, ada ranjang kayu berkelambu. Ku dekati ranjang kayu, dan aku terkejut, menemukan Anggraini walau sebelumnya sudah mengira Anggraini ada di situ.

Mata gadis itu melotot, tubuh Anggraini digeletakkan begitu saja, di kiri kanannya bertaburan bunga aneka warna, pasti di sini juga gadis yang lain menemui ajalnya, aku merinding juga membayangkannya, seperti banyak mata gadis yang mati memandangku, meminta keadilan, atas kehormatan dan nyawa yang terenggut tanpa sisa. Tiba-tiba hawa yang keluar dari pusarku mengalir, deras menuju jari telunjukku, dan kuikuti saja ketika tanganku bergerak, membuka totokan yang ada di tubuh Anggraini, aku masih tak mengerti apa yang bergerak di tubuhku, sampai di pondok pesantren nanti aku akan bertanya kepada Kyai.

Anggraini setelah bebas dari totokan segera saja menghambur memelukku. Menangis sejadi-jadinya. Aku sempat gelagapan, maklum aku tak pernah dipeluk wanita, kringetan juga, gemeter. Apalagi meluknya dengan erat. Aku lelaki normal, bagaimanapun juga, walau imanku kuat, pasti imron kgak bakal kuat. Sebelum setan membisikkan yang enggak-enggak, aku segera melepaskan tubuh Anggraini dari tubuhku.

“Sudahlah, sekarang sudah aman.”

“Tapi aku takut sekali kak.” katanya mengiba, air matanya berderai-derai membasahi pipi.

“Sekarang mari pulang, kuantar ke ayah ibumu, pasti mereka sangat mencemaskan keselamatanmu.” Anggraini mengangguk, kemudian kami keluar, Anggraini masih menggenggam lengan kiriku. Mungkin takut, mungkin menyukaiku, ah tak taulah, aku kasihan, gadis muda begini, mengalami pengalaman yang mengerikan, tak terbayangkan bagaimana dia diperkosa dan dibunuh seperti gadis-gadis yang telah mati menjadi korban carik Sanusi.

Kami berjalan pulang ke Pasir Seketi, di tengah jalan kami bertemu dengan serombongan para pemuda yang semalam ikut mengejar Sanusi. Semua ribut menanyakan bagaimana Anggraini bisa ditemukan bagaimana penculiknya, agar tidak bertanya terlalu banyak, maka kukatakan penculik yang selama ini membuat resah warga desa adalah carik Sanusi. Sontak para pemuda itu kaget tak percaya, tapi setelah Anggraini mengiyakan, maka mereka marah, dan berbondong-bondong mendatangi rumah Sanusi. Aku dan Mujaidi melanjutkan perjalanan mengantar Anggraini. Sampai di rumah bu Lurah yang sangat kuatir keselamatan anaknya segera menghambur memeluk anak semata wayangnya. Tangis-tangisan ramai terdengar.

Sementara istri dan anaknya bertangis-tangisan pak Lurah mengajakku dan Mujahidi ke ruang depan, ku ceritakan dengan singkat sampai para pemuda yang mau mendatangi rumah carik Sanusi. Ketika tau yang menjadi biang segala pembunuhan adalah Sanusi, pak Lurah terkejut dan menggeleng-gelengkan kepala tapi segera mengajakku untuk mendatangi rumah Sanusi sebelum terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Aku dan Mujahidi mengikuti pak Lurah yang melangkah tergesa, namun di jalan tak henti-henti mengucapkan terimakasihnya.

“Sekali lagi aku dan segenap warga desa, khususnya aku pribadi sangat berterima kasih dengan nak mas Ian, kalau tak ada nak mas Ian, apa jadinya Anggraini, mungkin kami tinggal menunggu mayatnya ditemukan di pinggir kali.” Pak Lurah berjalan sambil menangis haru.

“Sudahlah pak, yang penting semua telah berlalu.” aku mencoba bersikap bijak, walau kedengarannya wagu.

Yah bagaimana kata bijak keluar dari mulut pemuda seperti aku, rambut panjang sepunggung, walau selalu ku ikat dengan rapi, anting kecil di telinga kananku, wajah hampir mirip perempuan, yah mungkin karena pergaulanku, sebagai pelukis motor airbrush. Sehingga tampang cuek dekil, seenaknya, semua melekat begitu saja dalam diriku, bagaimana mungkin, kata bijak bisa keluar dari mulutku, kalau ada kata bijak mungkin kata itu akan terbang karena tak punya bobot mati. Sampailah kami di rumah carik Sanusi.

Teriakan para pemuda ramai terdengar bersahut-sahutan.

“Bakar saja rumahnya, seret saja keluar, lalu bacok rame-rame. Dirajam saja, terlalu enak kalau mati cepat.” tapi semua pemuda tak ada yang berani maju, melewati pagar rumah Sanusi. Karena setiap melewati pagar, paku-paku segera beterbangan, malah telah ada dua pemuda yang terluka lengan dan pahanya kena sambitan paku.

“Bagaimana ini nak mas?” tanya pak Lurah.

Aku menggeleng tak tau.

“Hei Sanusi ayo keluar serahkan dirimu!” Tiba-tiba pak Lurah berteriak, dan teriakan pak Lurah dijawab dengan meluncurnya paku kecil hitam kearahnya. Aku segera berkelebat, tring…! Sepuluh paku rontok jatuh ke tanah, tertangkis golokku.

“Bagaimana ini mas?” tanya pak Lurah kawatir, aku menggeleng.

“Tak tau lah pak,” sementara waktu telah beranjak pagi kicau burung mulai terdengar di sana sini, orang-orang sudah tak ada yang berteriak-teriak lagi, mungkin sudah lelah, sehingga keadaan hening.

Kulihat rumah carik Sanusi, rumah yang besar namun biasa saja, dinding rumah bagian depan menggunakan kayu tanpa dicat. Dan dinding rumah bagian belakang menggunakan bambu yang dianyam, sedang lantai rumah geladak setinggi kurang lebih tujupuluh senti dari tanah. Depan pintu utama ada balai-balai yang ada tangga kecil dari kayu. Balai-balai kayu itu selebar dua kali empat meter. Tiba-tiba terdengar suara mobil datang, rupanya mobil Polisi. Dua polisi keluar dari mobil, lalu menghampiri pak Lurah,

“Bagaimana pak keadaannya?” tanya Polisi itu setelah ada di dekat Pak Lurah.

“Wah sulit pak.”

“Sulit bagaimana.”

“Yah setiap orang mau maju langsung dihujani paku, sudah ada korban dua orang.”

“Bagaimana kalau kami menyerbu?”

“Apakah itu tak berbahaya sekali?” aku maju menimpali.

“Pak Polisi, bagaimana kalau saya maju mengajak berunding carik sanusi?”

“Lho anak muda ini siapa?” tanya Polisi itu ditujukan pada pak Lurah. Mungkin dia curiga, karena tampangku, yang lebih mirip kriminal daripada orang baik-baik.

“Oh dia murid Kyai Lentik, yang kami mintai bantuan, sebenarnya Sanusi sudah terluka parah karena semalam telah bertarung dengan nak mas Ian.”

“Oh maaf saya tak tau.” wajah Polisi itu menatapku kagum, kemudian menghormatiku dengan sedikit membungkuk, sementara temannya manggut-manggut.

“Bagaimana menurut nak mas?” tanya Polisi itu ditujukan padaku.

“Yah gimana seandainya aku maju mengajaknya berunding, sementara pak Polisi menghadang dari pintu belakang, kalau-kalau dia lari?”

“Yah patut dicoba.” Dua Polisi itu pun kemudian berjalan memutar menuju belakang rumah, sambil mencabut pistolnya, aku mengeluarkan golokku bersama sarungnya kepada Mujahidi.

“Wah apa kgak terlalu berbahaya mas? Nanti kalau mas Ian disambitin paku, aku kgak bawa tang tuk nyabutinnya.” Mujahidi menerima golokku dengan ragu.

“Udahlah berdo’a aja.”

“Kalau menurut saya dikepung aja, yang satu ngepung yang lain makan, gantian gitu, lama-lama juga dia pasti kelaparan dan mati.”

“Ah kamu ini.” aku menepuk pundak Mujahidi seraya melangkah maju, semua mata menatap ke arahku, orang-orang kampung Pasir Seketi juga sudah mengerumuni tempat itu mungkin juga dari desa-desa tetangga, mereka menonton dari jauh, seakan ini tontonan yang gratis. Aku tak perduli, dengan langkah mantap aku melangkah maju.

Semua mata tegang menatapku, aku berhenti dua meter dari tangga kecil untuk naik ke balai rumah Sanusi, sambil menunggu kalau-kalau ada paku yang menyambar. Lengang aku berkata, “Carik Sanusi, aku tak bersenjata, aku mau berunding,” kataku seraya membuka lebar-lebar lenganku, kalau-kalau dia mengintip dari dalam maka akan melihatku tanpa senjata, lalu aku memutar tubuhku untuk meyakinkan.

Suasana masih hening tak ada jawaban. Setelah menunggu beberapa menit aku melanjutkan melangkah maju. Melewati anak tangga satu-satu, lalu menginjak papan paling tepi dari balai-balai rumah itu, “braak!!”

Pintu depan rumah itu lepas, melayang cepat ke arahku yang berdiri dalam posisi yang tak menguntungkan, di belakang pintu itu Sanusi yang dengan goloknya beringas menyerangku.

“Mampuslah kau, anak setan alas..! Kau telah menggagalkan semua usahaku selama ini.!” aku yang terpelanting karena hantaman daun pintu, tak bisa menghindar lagi ketika Sanusi menghantam kepalaku, semua orang yang menonton menjerit, mukaku pun pucat. Ah mati aku ! Tapi, “prak!!” Golok Sanusi telak mengenai kepalaku, tapi aku tak merasakan rasa sakit sama sekali, malah kekuatan dalam tubuhku, menggerakkanku dengan cepat, tubuhku begitu ringan berkelit dari timpaan daun pintu tau-tau telah berdiri di belakang Sanusi, dan melakukan totokan sana-sini, sehingga Sanusi jatuh menimpa daun pintu yang jatuh dahulu.

Tubuhnya kaku, karena totokanku yang tak ku sadari telah mencabut semua ilmu yang dimiliki, seketika semua orang bersorak. Lalu terdengar suara berteriak, “Habisi penjahat cabul…” kontan semua orang menyerbu. Pagar pun roboh diterjang orang-orang kampung yang marah, aku tak bisa menahan ketika tubuh Sanusi dihujani golok, batu, pentungan, massa rupanya teramat marah. Pengeroyokan baru berhenti setelah terdengar suara tembakan.

Semua orang kampung yang mengeroyok mundur, tubuh Sanusi, tak berbentuk lagi, aku yang berdiri di atas balai-balai melihat dengan jelas, betapa mengerikannya, wajahnya telah tak dikenali lagi, terlalu hancur, juga tubuhnya sudah tak karuan, darah seperti dituang begitu saja, sungguh kengerian yang tiada tara, aku berjalan meninggalkan tempat itu menghampiri Mujahidi yang juga terbengong, aku segera menarik tangannya tuk segera meninggalkan tempat itu, Pak Lurah melihatku, dan menghampiri.

“Nak Ian, mampir dulu ke rumah dan tunggu aku di rumah, biar aku mengurus dulu di sini.” aku manggut aja, lalu menyeret Mujahidi untuk bergegas pergi. Dalam perjalanan, Mujahidi selalu menyanjungku.

“Ah bener-bener kagak nyangka saya, kalau mas Ian sehebat itu, punya ilmu kebal lagi, uh uh, apa kgak sakit mas tadi dibacok di kepala? Wah saya ampek teriak mas tadi, ngira kepala mas Ian pasti belah, ee, ternyata kgak apa-apa.”

  1. muhamad sudarlan
    6 Oktober 2015 pukul 7:54 pm

    Mas kyai bolehkah saya muhamad sudarlan dari demak bintoro dan tinggal di jakarta pusat minta alamat kyai lentik di gunung putri karena luas saya mau silaturahmi dan menimba ilmu saya pernah wirid torekat qodiriyah juga tapi guru pembimbing tidak ada

  2. liem
    26 Oktober 2015 pukul 4:30 pm

    ijin copy kyai unt sebagai ilmu

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s