Beranda > sang kyai > Sang Kyai 17

Sang Kyai 17

Acara makan-makan pun cepat berlalu, apa yang dipesan tidak sampai seperempat jam telah pindah ke perut kami bertiga, dan terakhir ku sruput es kelapa muda, ah memang restoran memang kebanyakan cuma gengsinya doang, kelapa mudanya juga enakan yang bikinan pinggir jalan, bukannya aku ndak terima dengan apa yang telah aku telan, ini cuma bahan tulisan saja, atau kali aja lidahku yang lidah jalanan, tapi ndak kok emang ndak enak setidaknya menurut ukuran harga es kelapa muda di restoran kalau dibelikan kelapa muda di jalan, kayaknya dapat sejerigen, berlebihan ya, yang ku buat perumpamaan? Ya kalau ndak gitu nanti tidak ada yang diomongkan, nyatanya orang lebih suka menjual gengsi dari pada nilai suatu kejujuran, juga lebih suka bangga membeli gengsi dari pada makan yang sesuai di lidah, yah itulah perputaran kehidupan, kami segera naik mobil lagi, dan kami minta turun di lorong arah menuju ke tempat kami menginap yaitu di rumah pak Sugeng.

“Yan.., mbak Lina itu naksir kamu habis..” kata Edi saat kami berjalan bertiga di gang arah rumah menginap,

“Kok tau mas Edi..” kataku, sambil menyalakan rokok, yang selama di mobil ini aku tahan ingin ngrokok, minta ampun lebih kebelet dari pada orang yang mau ke toilet,

“Kita ini sudah enam tahun, baru sekarang mbak Lina ngajak kita makan-makan, la kalau ndak naksir kamu, apa alasan lain yang lebih masuk akal?” tanya Edi juga ikutan nyalain rokok. Ikhrom yang tidak ngrokok memang dia tidak merokok, itu aja bibirnya sudah hitam banget, mungkin alasan dia tidak ngrokok juga agar bibirnya tidak malah hitam, tapi aku tak pernah bertanya ke situ,

“Bisa saja karena alasan lain..” kataku sekenanya, karena juga aku bukan orang yang ingin ditaksir oleh mbak Lina, walau menurutku dia cantik lebih cantik dari setandar ukuran cantik yang ku pakai ukuran,

“Kita lihat aja nanti.” kataku menambahkan, sambil nyedot rokok kuat-kuat, biar agak mantepan dikit.

“Mbak Lina itu habis putus pacar lo Yan.” kata Ikhrom nambahi,

“Masak?” kataku agak neleng, kayak serius menanggapi,

“Iya.., cowoknya yang dulu ditendang, katanya ndak setia.” tambah Edi, kayak makin seneng aja ngomongin orang.

“Lah mbak Lina secantik itu masak cowoknya bisa ndak setia?” tanyaku asli merasa heran bukan ku buat-buat, karena memang aneh juga kalau orang cantik kok ada cowoknya yang ndak setia,

“Sebenarnya itu sih alasan aja, mbak Linanya sendiri yang udah bosen.” kata Edi menutup pembicaraan, karena kami sudah sampai pintu rumah pak Sugeng.

Setelah sholat isyak kami pun berangkat tidur, waktu telah menunjukkan jam 12 lebih lima menit, seperti biasa, aku dan Edi tidur satu kamar, dan Ikhrom tidur di kamar lain,

“Yan kalau mbak Lina naksir kamu beneran, kamu mau jadi cowoknya?” tanya Edi berbisik, padahal tidak usah berbisik juga suara Edi kurang keras, karena kebiasaan Edi kalau mau tidur nyalain tape recorder, dari tape mobil yang sudah bodol, dan yang diputer lagu itu-itu saja, lagunya Kus Plus kalau ndak salah judulnya Telaga Sunyi, dan urutannya yang aku sampai hapal itu lagu Mari Nyanyi Bersama, yah kalau di denger-denger lagu itu makin bosen, tapi lama-lama enak juga untuk pengantar tidur, tapi malah membuatku tidak konsentrasi untuk wirid dalam hati,

“Apa?” tanyaku karena memang suara Edi yang tak jelas,

“Ya kalau mbak Lina beneran naksir kamu, kamu mau gak jadi cowoknya?” tanyanya mengulang pertanyaannya dengan nada yang tak sama,

“Kalau nurut kamu aku mau apa ndak?” tanyaku.

“Lhoh ini kan yang jalanin kamu Yan kok malah tanya aku lagi?” rungut Edi.

“La aku sendiri tidak tau, aku baiknya mau apa nggak? Udahlah besok aja dibicarakan lagi, sekarang tidur..” kataku sambil menutupkan tangan pada atas mata.

Hari berlalu seperti melewati lingkaran yang berputar dalam satu poros, kami ini seperti tikus yang berlari dalam putaran roda, makin lama kami berlari, maka tetap saja kami ada di jalan yang sama, Matahari departement store, jalan rumah nginap, kok aku pikir makin jenuh saja, pagi jam sembilan berangkat kerja, jam sepuluh buka toko, sebelumnya sarapan dulu, menghadapi pembeli, sore pulang, kayaknya kalau kami pikir seperti robot saja, terus terang kalau aku ndak berjiwa muda, artinya masih anak muda, jenuhnya minta ampun, untung aku ini anak muda, sekali waktu nggodain cewek cantik yang jalan-jalan ngelewati toko kami, atau kadang kala aku iseng nggoda cewek, supaya membeli sepatu yang ku pajang, ku goda sampai akhirnya beli, padahal asal ngecap saja, kubilang kalau pakai sepatu yang ku pajang itu malah cakep, malah kelihatan modis, padahal aku ndak ngerti modis itu apa, dan kadang yang bikin aku ketawa, cewek yang jelas-jelas wanita, namanya juga cewek ya pasti wanita, ku godain supaya beli sepatu yang bergaya lelaki, dan ku bilang malah cuantik, dan akhirnya beli dan dipakai, padahal jelas nyalahi, tapi kok ya mau aja..,

Ah kalau di pikir emang makin ngawur dunia, kebanyakan remaja itu ngikuti kata orang, ndak tau kalau orang yang diikuti itu ngawur bicaranya ya mereka tetap saja ngikuti.

“Yan,.. sini.” tiba-tiba pak Sugeng manggil aku.

“Ada apa pak?” tanyaku setelah ada di depannya,

“Ya udah besok kamu kerja di sepatu bata, ndak usah potong rambut.” kata pak Sugeng.

“Oh gitu ya pak?” tanyaku.

“Iya.., orangnya bilang, kamu yang rapi aja, rambutnya di ikat ke belakang yang rapi, besok mulai kerja di sepatu bata ya..” tambah pak Sugeng jawab tanyaku.

“Iya pak..” kataku hormat, mengingat pak Sugeng banyak menolongku. Toko sepatu bata tak jauh dari tempatku kerja sekarang, dipisah empat toko, toko jam tangan, toko emas, butik bak lina, dan toko es krim, jadi toko sepatu bata pas sebelah toko es krim dan roti.

Waktu istirahat aku sempatkan nyamperi ke tempat toko septu bata, lalu berkenalan dengan pemiliknya dan dua gadis pelayannya yang nantinya jadi teman keseharianku,

“Mas ini ya yang besok kerja di sini?” tanya gadis bernama Mona, wajah gadis itu biasa saja, kayak gadis desa, rambut sebahu, tampang malu-malu, kulit sawo matang, tingginya pun paling seratus enampuluhan, dia memakai seragam, dan gadis yang satunya bernama Anna, cantik juga, lumayan tinggi mungkin tingginya seratus enampuluh enam, wajah cantik, bibir tipis, rambut lurus sepunggung, kulit kuning langsat, hidung mungil, cuma bedaknya rada tebal, mungkin untuk menyembunyikan jerawat yang ada di pipinya, padahal nurut aku makin banyak bedak, makin mudah jerawatan, karena pori-pori tertutup, itu juga menurut pendapat ndesoku.

Setelah kami melakukan perkenalan sebentar aku pun kembali ke tempat kerjaku setelah sholat dzuhur di masjid belakang plaza, esoknya pagi-pagi aku berangkat lagi sama Edi, walau mulai sekarang aku tak kerja lagi bareng Edi, tapi tetap tidurku bareng sama Edi di tempat pak Sugeng.

Kami berjalan, melewati lorong panjang pasar pagi dadakan, yang buka tiap pagi menjual sayur di jalur plaza, yah pasar yang entah berapa kali digusur oleh Satpol pp, tapi tetap saja buka tiap pagi, aku juga tak mau menyalahkan para pedagang yang tiap pagi jualan, mungkin mereka mau menyewa tempat untuk berdagang secara benar, tidak menggunakan ruas jalan, tapi mungkin harga sewa kios terlalu mahal, jadi karena modal cekak akhirnya juga tetep jualan di ruas jalan, dan yang terang saja mengganggu kelancaran lalu lintas, juga aku tak menyalahkan petugas Satpol pp, yang selalu mengobrak abrik dagangan mereka, karena tuntutan tugas menertibkan kota, tapi hari berlalu seperti itu akan terulang kalau pemerintah tak bijak mengambil keputusan, seakan pedagang itu bukan rakyat Indonesia, mereka digusur, padahal dagangan itu mungkin dari modal ngutang, untuk menghidupi keluarganya, ku rasa kalau ini berjalan terus tanpa adanya suatu solusi bijak, yang dirugikan akhirnya semua, orang yang lewat, juga pedagang kurasa tak banyak mengambil banyak untung dari dagangan yang diorat-arit,

Aku hanya menatap pada petugas Satpol pp, yang memakai tampang digarangkan, padahal mungkin orang tua mereka juga bisa saja salah satu yang digusur, andai orang Satpol pp itu sedikit berpikir andai mereka yang digusur bagaimana, dan pedagangnya yang sekali waktu disuruh jadi petugas Satpol pp, yah carut marut ini sebenarnya kuncinya ada di pemerintah, kalau rakyat tak miskin, kurasa kejadian seperti kejar-kejaran pedagang dan petugas tak mungkin terjadi.

Tapi inilah yang terjadi, terjadi dan terus terjadi entah sampai kapan?

“Yan…” suara Edi mengagetkanku.

“Ada apa.” kataku sambil menghindari orang yang hilir mudik di jalan yang hampir menabrakku.

“Soal mbak Lina, gimana tuh Yan ?” tanyanya lagi sambil berjalan cepat di sampingku.

“Gimana apanya?” aku balik bertanya.

“Maksudku apa ndak kamu kasih perhatian?”

“Perhatian yang gimana lagi?” aku balik bertanya.

“Ya apa kamu ndak nerima dia?” tanyanya lagi.

“Nerima gimana, la dia juga gak nyatain apa-apa, ndak ngasih apa-apa, aku mau nerima apa?” kataku dan kami mulai berjalan tenang karena telah melewati pasar sayur.

“Si Lina itu naksir aku, atau suka padaku, itu kan masih perkiraanmu saja, la kenapa harus ribut..” kataku ku buat dengan nada mangkel, tapi mulutku masih tertawa.

“Ya ndak gitu Yan, ya emang ini masih perkiraan, tapi andaikan ini bener-bener terjadi, dia jatuh cinta padamu, ini misalkan lo ya.., kalau dinilai dari sudut pandangmu, dia termasuk cewek tipe idamanmu gak?” tanyanya.

“Ya… ku akui si Lina tuh cantik, kaya, malah cantik dan kayanya sudah di atas bayanganku, tapi terus terang bukan aku takut apabila nanti aku jadi cowoknya, dia bosan, lalu aku dibuangnya kayak buang ingus, dicampakkannya kayak nyampakkan sampah ke tong sampah, bukan takut seperti itu, tapi jujur dia bukan typeku, terlalu muluk la bagiku, atau mungkin entahlah, walau aku jujur, aku juga lelaki normal, yang jelas tertarik dan merasa wah dengan kecantikannya dan keunggulannya, tapi kalau ditanya hati nuraniku, aku tak ingin jadi kekasihnya, hanya bikin kebat-kebit aja, nyiksa hati..” kataku panjang lebar, tak tau apa Edi paham dengan yang ku maksudkan.

“Wah kenapa kebat-kebit kuwatir Yan?”

“Banyaklah alasannya, kalau diuraikan satu persatu, akan makan waktu lama,” kataku singkat, tak terasa kami berdua telah sampai di belakang Plaza,

“Aku ndak ikut ke tempat mbak Ningsih ya.” kataku langsung masuk ke Plaza,

“Lhoh ndak sarapan?” kata Edi berhenti,

“Gampanglah nanti saja.” kataku nyelonong masuk lorong depan etalase kerja di sepatu bata, dan melakukan kesibukan tiap hari, membersihkan barang dagangan, menawarkan dan merayu pembeli yang datang, apalagi kalau gadis yang datang, pasti kena ku rayu untuk beli sepatu, kadang padahal aku rayu untuk beli sepatu pria, tapi karena rayuanku pas jadi ya akhirnya mau juga, apalagi aku copot sepatunya dan ku pakaikan sepatu baru, kayaknya ku lihat berbunga-bunga wajahnya pertama ada rasa senang.

Tapi mulai satu minggu bekerja ditemani pelayan wanita yang ada, membuatku bosan, walau dua wanita pelayan sering mengajakku ngobrol, ah kayaknya duniaku bukan di sini, aku seperti orang yang tersesat saja, monoton dan tak tau jalan, gelap dan teramat bisu dari perkembangan, aku seperti robot yang dipakaikan pakaian manusia, suntuk mulai menggelayuti pikiranku, untung ada hari jum’at libur giliran, jadi aku bisa menelaah diri, mengurai dan memikirkan apakah ini jalan yang ku ingini?

Seperti hari jum’at itu, aku libur dan ku pakai jalan, mengobati rasa rinduku, dari pagi aku sudah berangkat, bilang pada Edi dan Ikrom untuk jalan-jalan, karena liburan, aku tak mau suntuk dalam kamar, aku jalan saja, tak tau arah, dan tak memilih arah, jam sepuluh sudah sampai di pintu tol Porong, aku belok ketika ku lihat sebuah masjid, ah kurasakan batinku lebih tenang kalau aku jalan seperti ini lebih bebas dan tanpa terikat siapapun, lebih bebas merenungi dan menangkap segala gerak-gerik Alloh atas dunia ini, ku ambil wudhu dan masuk masjid lalu setelah sholat takhiyatul masjid, aku pun tiduran selonjoran, ah betapa damainya, dunia tanpa beban……

Seseorang setengah tua, menghampiriku, lalu mengucap salam, ku jawab, dan bersalaman dengan ku dia memperkenalkan diri bernama pak Teguh.

“Dari mana mas?” tanyanya sopan.

“Jalan aja pak, saya kerja di Matahari Plaza…” jawabku juga ku buat halus.

“Kok di masjid ini, apa gak kerja?” tanyanya lagi.

“Lagi libur pak…, ini lagi jalan-jalan, nyari suasana baru….” jawabku ringan.

Kami pun berdialog, yang asalnya membahas tentang perkenalan kami, sampai membahas tentang kesukaanku jalan kaki ternyata pak Teguh juga orang yang suka jalan, walau tak sesering sepertiku, dia juga cerita kalau dia asalnya bekerja di jawatan kereta api, sampai waktu azan kami ngobrol, dan adzan dikumandangkan, kami pun sibuk dengan diri masing-masing, aku mencari Al-qur’an ku baca sambil menunggu imam naik ke mimbar, untuk khotbah jum’ah.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s