Beranda > sang kyai > Sang Kyai 18

Sang Kyai 18

Setiap manusia itu selalu merasa cepat bosan bila berdiri dalam dunia yang tidak disukainya atau dunia yang bukan sama sekali dunianya, begitu juga aku, walaupun di dunia baruku itu semua materi selalu ada dan tercukupi, tapi hati yang dalam pencarian selalu cepat bosan dan seakan semuanya hambar sama sekali tak ada rasa manis yang bisa dikecap.

Aku telah pindah kerja di sepatu bata, kemaren malam bos sepatu bata yang dari Belanda datang menemuiku dan menawarkanku, untuk dijadikan kepala bagian pemasaran di Bali.

Jika dikumpulkan dengan orang bodoh, maka aku mungkin adalah barisan terdepan, sebab orang paling bodoh sekalipun pasti masih ingin uang banyak, tapi kenapa aku sama sekali tak menginginkan uang seperti orang lain.

Jika jalan kaki itu sama cepatnya dengan naik bus, maka aku lebih memilih jalan kaki, apapun yang tidak membutuhkan uang itu pasti jadi pilihan terdepanku, selalu terbersit dalam pikiranku, jika tidak memakai uang bisa, kenapa harus memakai uang, dan kenyataannya hidup di dunia ini bersebrangan dengan pola pikirku yang ngawur, sak karepe udele dewe, yah setidaknya itu yang selalu terlintas di pikiran dangkalku.

Terus terang menurut pendapatku, bila aku mempunyai uang, batinku akan terasa tak tenang, selalu ingin mencari lebih, dan selalu tak kerasan di tempat yang sama pada kesempatan yang sama, selalu ingin makan yang enak-enak, selalu ingin membeli apa saja yang nilai kemanfaatannya perlu diragukan untuk saat ini, jika haji ke Mekkah bisa tidak memakai uang, maka aku akan memilih barisan paling depan kloter penerbangan, tapi kenyataannya semua harus memakai uang.

“Aku tak kerasan Ed..” kataku kepada Edi.

“Maksudmu kamu mau pulang?” tanya Edi sambil berjalan menyusuri jalan rel kereta api.

“Iya, aku ingin pulang.”

“Bukannya kamu sudah dipercaya yang punya pabrik sepatu bata?”

“Tapi aku merasa ini bukan duniaku.”

“Lalu bagaimana kelanjutannya?” tanya Edi hambar.

“Ya aku pulang lah…”

Tiba-tiba urat leherku menegang, aku tak tau kenapa, tanganku mengepal, dan semua urat-uratku sulit ku kendalikan.

“Mas…! Kenapa…?” tanya Edi terkejut, ketika aku berguling ketika melintasi rel kereta api, Edi memburuku dan berusaha membangunkanku, tapi aku tepiskan, sehingga dia terlempar, lalu aku setengah sadar setengah tidak, mencoba melawan kekuatan yang berusaha menguasai alam bawah sadarku, aku melihat seperti ada bayangan hitam yang berusaha menguasaiku, aku pukul, aku tendang, tubuhku seperti orang yang kerasukan, Edi hanya memandang, aku kadang memukul kerikil yang ada di sekitar rel kereta, kadang seperti membanting sesuatu, Edi tak berani mendekat, sampai setengah jam berlalu, baru aku berhenti, duduk terengah-engah di tanah, lima menit kemudian baru Edi mendekatiku.

“Ian… kenapa kamu..?” tanya Edi masih setengah takut-takut.

Aku terdiam beberapa saat,

“Gak tau Ed…, kayak ada yang berusaha menguasaiku, aku tak tau itu apa…” kataku dengan heran dan melihat tanganku yang perih, ternyata tanganku lecet-lecet dan berdarah…

“Ayo… ayo kita pulang…” kata Edi sambil membimbingku bangun.

Aku tertatih, badan serasa letih, masih tak habis pikir, apa sebenarnya yang berusaha menguasai alam bawah sadarku.

“Ya udah kalau kamu dah pengen pulang, gak papa, tapi jangan ngamuk gitu, aku jadi sakit dadaku kena kamu pukul.” kata Edi sambil berjalan di sampingku.

“Aku gak marah kok Ed…, bener aku ndak sadar, kayak ada yang berusaha menguasaiku…” kataku menjelaskan, walau penjelasanku aku yakin, Edi tak akan mau mengerti.

Aku sendiri tak habis pikir, apa sebenarnya yang berusaha menguasaiku, ku lihat bayangannya tak jelas, hanya seperti warna hitam.

Sampai di rumah pak Sugeng, aku mandi karena tubuh kotor penuh debu, dan ketika tubuh ku guyur air, serasa perih semua, karena tubuh banyak yang lecet. Edi cerita pada Ikrom, sambil memuter lagu kesayangannya “mari bernyanyi bersama” aku ndak tau siapa yang nyanyi, moga bukan tukang siomay, sebab ku rasa suaranya gak seperti suara tukang siomay yang cempreng. Habis mandi, tanganku diberi obat merah sama Edi. Edi memang sudah menganggapku seperti saudara kandungnya.

“Ian ini ada titipan dari mbak yang jualan di warung tikungan,” kata Ikrom, sambil memberikan kresek berisi nasi bungkus.

“Mbak yang mana?” tanyaku.

“Itu mbak Ajeng apa mbak Endah sih kok lupa namanya?” kata Ikhrom,

“Ah aku juga namanya..” kata Ikhrom.

“Heran Ian, kenapa orang-orang pada suka padamu ya…, gak yang jual es krim, gak yang jual sepatu, gak orang warung, kenapa pada kasihan padamu?”

“Gak tau, kali aja wajahku kayak pengemis, hahahaha…”

“Aku malah lihat si Sita, yang penjaga toko emas, perasaan wira wiri entah sehari ada berapa kali di depan toko kita.” tambah Edi sambil membuka bungkusan tas kresek, ternyata isinya ayam panggang,

“Eee, perasaan mbak yang jual nasi di tikungan itu gak jual ayam panggang?” kata Edi sambil mengangkat potongan paha ayam.

“Tadi dia cuma bilang, untuk mas Ian, jangan-jangan dia naksir kamu Ian…?” kata Ikrom sambil mencomot ayam di bungkusan.

“Ngaco kamu Ik, dia kan dah punya suami,” bantahku,

“Kali aja mau dijadi’in simpenan, hahaha…” ejek Edi.

“Emang potonganku kayak uang receh, hahaha…” candaku.

“Terus terang aku ngiri Ian, la aku di sini sudah bertahun-tahun, masak gak ada yang sayang sama sekali.” kata Edi.

“Ya tampangmu aja kali kayak kriminal,” ejek Ikrom,

“Udah makan… enak juga ayamnya.” kata Ikrom sambil memotong sayap ayam.

“Ya namanya juga dikasih, ya enak lah…” kataku ikut makan tapi memang lumayan enak ayam kampung panggang, pasti udah rebus dengan bumbu, kerasa banget bumbunya, juga gak alot.

Taqdir, jika kita ditaqdirkan menjadi A bukan B, maka jalan ke arah A akan terbuka lebar, dan seakan kita akan seka saja ke arah A, dan jalan ke B akan seakan tak membuat kita senang.

Menjadi penjaga toko sepatu, rasanya benar-benar bukan jalanku, aku begitu bosan, pandangan kosong, dan serasa aku seperti robot, yang tak akan berkembang lagi menjadi manusia baru, hanya menjadi robot penjaga toko sepatu, seakan aku sudah mati terkubur dengan sepatu, hati sesek, padahal belum genap 2 bulan, dan ada saja kejadian yang membuatku tak kerasan, seperti saat itu, aku lagi memasang tulisan discount digantung, sejak berangkat kerja aku sudah tak enak, seperti mau terjadi sesuatu yang membuatku malu tapi aku tak tau apa itu, pagi berangkat memakai celana pemberian pak Sugeng, aku merasa celana itu tak enak, walau ukuran pak Sugeng gendut, dan aku agak kurusan, jelas celana pak Sugeng longgar ku pakai.

Tapi gara-gara kerja tak boleh memakai celana levis, padahal aku tak punya celana, selain celana levis yang menemaniku kemana-mana dan sudah sobek sana sini, celana levis saja sudah tidak boleh, apalagi yang sudah sobek sana sini, malah tak boleh lagi, maka Ikrom, pak Sugeng, Edi, semua memberi celana padaku, sekarang pas celana pak Sugeng yang ku pakai.

“Kenapa Ian?” tanya Edi yang sedang memakai hasprey.

“Ini Ed, aku gak nyaman aja sama celana ini.” jawabku sambil nunjukin celana warna coklat tua yang ku pakai.

“Ya pakai aja lah, wong yang dua juga belum kering.” kata Edi beranjak keluar kamar.

Dan apa yang ku kawatirkan terjadi juga.

Pas menaiki tangga stainles untuk memasang tulisan aku biasa saja, tapi pas kaki ku angkat ke arah tangga, terdengar kraaaak…! Celanaku robek memanjang, pas di tengah selangkangan, dari lutut kiri ke lutut kanan, aku cepat-cepat turun, walau memasang tulisan discount ku selesaikan tapi aku segera mepet ke tembok setelah turun, untung belum banyak orang yang lewat, juga belum banyak toko yang buka, aku berjalan dari toko sepatu bata, ke toko tempat Edi bekerja, tiap berpapasan sama orang aku menatap ke atas, supaya orang ikut menatap ke atas, tidak menatap ke celanaku yang robek tengah kayak rok, setelah orang lewat, aku berjalan beringsut-ingsut lagi ke arah toko tempat Edi bekerja, ku lihat Edi sedang menata sepatu jualannya, aku nyelonong saja, ke geladak penyimpanan sepatu…

“Eee ngapain kamu Ian??” tanya Edi.

“Anu…, celanaku robek.”

“Robek? sebelah mana?”

“Ini pas selangkangan sampai ke lutut.”

“Wah gimana?”

“Ya tolong ambilin celana yang di rumah.”

“Kan belum kering, jauh lagi.”

“Ya tolong deh Ed… masak aku kudu pakai celana kayak gini, gak lucu kan?”

“Tapi Ian… yang jagain tokoku siapa?”

“Ya aku kan bisa dari dalam kotak sini.”

“Iya deh, tunggu sebentar.”

Edi pun berlalu dengan cepat, aku jaga dagangan dia, dari dalam gerobak, cuma kelihatan kepala, geladak gerobak itu untuk menyimpan sepatu, sekaligus menata sepatu, bentuknya undak-undakan kayak tangga, di dalam ruangannya lebar, tapi aku terus berdo’a semoga tak ada yang beli, mengingat jika harus melayani, sementara aku seperti ini.

Kebetulan Ikrom datang sambil membawa ember dan alat pel, dia celingukan karena Edi tak ada, tempat kerja Ikrom beda toko, walau kedua toko adalah toko sepatunya pak Sugeng, dia melihatku.

“Ngapain di situ Ian..??” tanyanya dengan senyum khas bibir hitamnya. “Mana si Edi?”

“Si Edi pulang bentar.”

“Wah sembarangan si Edi, kalau pak Sugeng datang, dia tak ada, bisa dimarahi habis-habisan.”

“Dia lagi ngambilin celana untukku.”

“Lhah memang celanamu kenapa?”

“Robek Ik…”

“Wah bahaya…”

“Bahaya kenapa?”

“Di tokomu tadi mbak Lina nyari-nyari kamu.”

“Yang bener Ik??”

“Ya bener lah, napa aku bohong.”

“Nah tuh dia kesini tuh..”

“Ssst bilangin kamu ndak tau.”

“Ndak tau gimana? La jelas aku lihat gini, aku bohong dong.”

“La kan bohong demi kebaikan juga dibolehkan Ik.”

Aku langsung menyembunyikan diri di kotak.

“Lihat mas Ian gak Ik?” suara khas Lina yang lembut, setengah centil terdengar renyah kayak kacang sanghai waktu dikunyah.

“Ian….?” dug..dug.. aku khawatir pasti si Ikrom akan omong apa adanya.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s