Beranda > sang kyai > Sang Kyai 24

Sang Kyai 24

Kyai Cempli itu panggilan penguasa Desa di sebelah desaku, jaraknya kira-kira dari desaku satu kilo meter, di batas sawah.

Tiba-tiba kyai Cempli menyerangku dengan serangan yang aneh, tangannya seperti mulur memanjang, dan menangkap tanganku, lalu tubuhnya sekejap telah ada di belakangku, sehingga tanganku tertarik ke belakang bersilangan antara tangan kiri dan tangan kanan. Juga kakiku berpalitan tertarik ke belakang.

Anehnya ragaku juga dalam kamar seperti itu, sehingga Husna berusaha membetulkan letak tangan dan kakiku yang menekuk-nekuk.

Sementara aku berusaha melakukan perlawanan sebisaku, namun berbagai dzikir yang biasa ku lafadzkan tak juga bisa membebaskanku, bagaimanapun aku berusaha melepaskan diri tetap tangan dan kakiku terkunci, sampai ku rasakan bisikan dari Kyaiku, aku harus melafadzkan satu dzikir.

Dan akupun mengikuti anjuran, ku lafadzkan dzikir itu, dan seketika pegangan Kyai Cempli terlepas, dan dia bergulingan di tanah minta ampun, dan berulang kali jika ku lafadzkan lafadz itu maka kyai Cempli menjerit-jerit minta ampun,

“Ampuuuun…! Jangan dilafadzkan asma a’dzom itu aku tak kuat, ampuuun..!” kata kyai Cempli menjerit-jerit.

“Kau menyerah tidak?” tanyaku.

“Iya aku menyerah, kalah, takluk.” jawabnya sambil bersujud.

“Biasanya bangsamu suka menipu, suka mengambil kesempatan, di saat aku lena maka kau akan memanfaatkan kesempatan.”

“Ampuuun…! saya tak berani tuan..”

“Apa janjimu?” kataku mencari kepastian, sebab yang ku tau bangsa jin sejak jaman Nabi Sulaiman tak bisa dipercaya, selalu mengambil kesempatan bila manusia lena.

“Tuan minta apa, akan ku berikan, aku punya Jala sutra, wesi aji, batu bertuah, harta benda, emas perak, Tuan minta apa?” tanya Jin penguasa Desa itu mencoba mencari kelemahan hatiku.

“Kau kira aku tertarik dengan aneka benda macam itu?”

“Lalu tuan minta apa?”

“Aku tak minta apa-apa, aku hanya minta kau beserta bangsamu takluk padaku.”

“Iya saya siap… jika tuan membutuhkan bantuan, maka saya akan siap diperintah.”

“Aku juga ingin kau tak mengganggu manusia.” kataku.

“Ya saya siap tuan.”

“Sekarang apa di daerah sini ada tidak yang angker?” tanyaku.

“Ada tuan…”

“Di mana itu?”

“Di daerah bernama Secino,”

“Di mana itu?”

“Di daerah sebelah timur desa.”

“Kenapa kok bisa angker?” tanyaku.

“Karena di sana ada isi keris pusaka yang lepas,”

“Apa bentuknya?”

“Bentuknya macan loreng tuan.”

“Kenapa kau biarkan, tidak kau perintahkan agar tak mengganggu manusia?” tanyaku.

“Kekuasaanku tak meliputi sampai ke situ.”

“Dimana tempatnya, tunjukkan padaku.” kataku memerintah.

“Silahkan tuan mengikutiku.” katanya sambil berjalan mendahuluiku disertai anak perempuannya.

“Apa yang dilakukan oleh macan itu?”

“Dia sering meminta korban manusia, dan sering kadang manusia disesatkan, kadang manusia dimasukkan ke tengah gerumbul bambu, sehingga akan sulit keluar.” jelas Kyai Cempli.

“Lalu sekarang kerisnya di mana?” tanyaku sambil jalan di belakang Kyai Cempli.

“Ada di rumah seseorang.” jawab kyai Cempli.

Di dekat barisan gerumbul bambu nampak seekor macan sebesar anak kerbau tengah berdiri menatapku, kubuat lingkaran tangan di udara, lalu ku tepukkan tangan dengan tenaga menyedot, jin yang berbentuk macan itu seperti gambar yang tersedot mesin penyedot debu, mengecil dan masuk dalam genggamanku.

“Di mana keris tempat jin macan ini?” tanyaku pada Kyai Cempli.

Kyai cempli melangkah mendahuluiku, menuju satu rumah, dan masuk ke dalam kamar, lalu membuka lemari kuno, di mana tergeletak keris tua. Ku masukkan jin berbentuk macan itu ke keris, dan ku ikat dengan kekuatan gaib.

Terus terang hal seperti itu sama sekali aku awam dan tak tau, segalanya seperti ada yang menuntun, apa yang ku lakukan aku sendiri sama sekali tak mengerti, hal yang ku lakukan berurutan itu seperti sudah ada yang merancang, dan aku cuma menjadi wayang, sedang tanganku terikat oleh yang menggerakkan, hatiku mendapat petunjuk apa yang harus aku lakukan.

Tugasku ku rasa selesai, “Ku rasa aku sudah cukup di sini, sekarang aku akan kembali ke tempatku, lalu bagaimana jika aku ingin memerintah membantu keperluanku, aku memanggilmu apa?” kataku.

“Hamba kyai Cempli, siap diperintah, jika dibutuhkan.” jawab pak tua itu sambil membungkuk.

Aku segera kembali ke ragaku dan bangun, dimana Husna istriku bercerita kalau dalam tidur telah terjadi badanku menekuk-nekuk, dan menggereng-gereng, dikembalikan susah, kok akhirnya kembali sendiri.

Aku masih berusaha mengitari daerah Pekalongan dengan Raga Sukma.

Dalam kehidupan sehari-hari, aku bukan termasuk orang yang suka kumpul sama tetangga, bahkan aku kumpul sama orang hanya saat mengisi pengajian, mengimami masjid, dan kalau tetangga ada hajadan, selain itu aku sama sekali tak kumpul dengan orang, karena waktuku habis untuk menjalankan lelaku.

Biji itu kalau ingin menjadi besar, maka tanamlah dengan dipendam yang dalam di dalam tanah, jika dia tumbuh, maka akarnya akan jauh tertanam di dalam tanah, sehingga kuat mencengkeram, jika telah menjadi pohon yang rindang, dan dapat ditempati berteduh, jika diterjang angin, pohon tak tergoyahkan, karena kuatnya akar tertanam di dalam tanah.

Begitu juga manusia, jika manusia tidak menyembunyikan dulu, untuk menguatkan akar diri, maka untuk menjadi dipakai orang berteduh tak akan kuat bila diterpa angin cobaan, orang-orang yang besar itu tak akan sibuk nongkrong di gang-gang, dan ngomong ngalor ngidul membicarakan sesuatu yang tak ada manfaatnya.

Sebagaimana Nabi kita sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rosul, beliau menyepi di gua Hiro’ selama lima tahun.

Karena menyembunyikan diri, dan tak jarang kumpul dengan masyarakat, maka bertahun-tahun secara pribadi tak ada yang mengenal diriku.

Pada suatu hari aku mengantar istri ke dukun pijat di Desa yang pernah ku datangi lewat ngeraga sukma untuk mengurutkan perutnya, biasa orang desa kalau mengandung selalu ditata perutnya agar pas.

Dukun itu dukun perempuan tua yang sudah amat terkenal sehingga pasiennya dari mana-mana, sampai ada memakai nomer antrian, untuk mendapatkan pelayanan, waktu aku datang dengan Husna, nampak dari luar rumah Dukun urut itu ramai sekali orang sudah mengantri, padahal aku berusaha datang pas selesai sholat magrib.

Tapi tiba-tiba mbah Dukun keluar rumah menyibak antrian.

“Hari ini pijat ditutup, tidak melayani tamu..” kata mbah Dukun bernama Nyai Sari.

Orang-orang yang asalnya antri pun bubaran, termasuk aku mau balik pulang.

“Wah mungkin lagi tak untungnya kita mas, baru datang malah mbah Sari tak melayani tamu.” kata Husna.

“Ya ndak papa, besok-besok kan bisa.” kataku menghibur, dan ku putar motor untuk kembali.

Tapi mbah Sari malah menghampiriku lalu menggandeng tanganku, dan berbisik di telingaku.

“Ngger mari masuk…” kata mbah Sari, menggandeng tanganku.

“Lhoh bukannya pijitnya diliburkan to mbah?” tanya Husna.

“Oo itu untuk orang lain nduk, bukan untuk suamimu.” jelas Mbah Sari.

Aku dan Husna pun mengikuti masuk ke rumah Mbah sari.

Nyi Sari umurnya 60 tahun, orangnya setengah pendek, dan gerak geriknya cekatan, sudah terkenal di mana-mana soal kandungan, bahkan mungkin sudah sangat terbiasa soal kandungan, dia sering pas jika seseorang itu kapan pasnya melahirkan, jika sudah menginjak kandungan tua.

Masuk rumah mbah Sari, rumahnya sederhana, terbuat dari bangunan kayu yang lama, tanpa cat berwarna, hanya dilapis kapur, jika masuk orang akan mendapat kesan yang punya rumah amat sederhana, walau Mbah Sari ini sudah berangkat haji ke tanah suci, tapi secara penampilan hanya biasa-biasa.

“Mari-mari ngger bagus.. mari duduk.” kata Mbah Sari sambil membersihkan tempat yang akan ku duduki. Aku amat rikuh dihormati seperti itu.

“Sudahlah nyai… tak usah repot-repot.” kataku.

“Ndak kok… ndak repot, ini sudah selayaknya, malah saya minta maaf, kalau pelayanan saya tidak berkenan di hati panjenengan.” katanya yang membuatku makin bingung.

“Mbah.. sebenarnya ada apa to mbah, kok panjenengan jadi bingung gitu, aku ini orang biasa.” jelasku, soalnya aku orangnya tak suka dihormati.

“Orang biasa? Panjenengan itu kok pinter menyembunyikan diri.”

“Menyembunyikan apa to mbah, la ndak ada yang aku sembunyikan kok.”

“Aku ini tau ngger, semua penguasa desa ini mengiringmu dari belakang, sekarang semua berbaris ta’dzim di belakang rumahku, bahkan Kyai Cempli yang penguasa desa juga ada, jadi saya itu tak bisa dibohongi.”

“Ooo soal itu to mbah??”

“Iya.. juga karena panjenengan desa ini yang sebelumnya angker, sekarang adem ayem, saya sangat berterima kasih, walau panjenengan menyambunyikan diri, tapi mata batin saya tak bisa dibohongi.”

“Ya sudah kalau gitu mbah, ndak usah disebar luaskan, jadikan rahasia panjenengan wae, monggo istri saya ini dipijit.” kataku menentramkan suasana.

“Ooo nggih-nggih, monggo nduk, saya pijit, besok-besok kalau mau dipijit, mbok manggil saja, pasti saya datang.” jelas mbah Sri.

“Yo tak bisa begitu to mbah, panjenengan yang tua, sudah selayaknya yang butuh, yang muda datang.”

“Ya tak bisa seperti itu, itu namanya saya ndak punya unggah ungguh, la panjenengan penguasa Desa saya, masak saya yang andahan, rakyatnya didatangi pemimpin desanya. Ya namanya tak takdzim, ndak hormat.” jelas mbah Sri sambil tangannya lincah memijit Husna.

Repot juga, aku terdiam.

Memang sejak sa’at itu Mbah Sri sering datang ke rumah, menawarkan diri memijit keluargaku, dan kadang datang membawa pisang satu tandan. Sudah ku larang, tapi tetap saja datang.

Pernah lama dia tak datang, dan aku mau memijitkan Husna, aku pun datang ke rumahnya, ternyata dia sakit, sudah ada dua bulan terbaring saja di ranjang, melihat aku datang dia langsung bangun, lalu berkata. “Obatku sudah datang, monggo ngger, saya pijit.” katanya.

“Ndak aku yang mau dipijit, yang mau ku pijitkan istriku,”

“Ndak kok ngger, ini untukku, aku sakit, dan obatnya itu mijit panjenengan,” kata mbah Sri.

“La kok aneh mbah?” tanyaku heran.

“Apa njenengan tak melihat, saya sudah dua bulan tak bisa bangun dari ranjang karena sakit, ini panjenengan datang, saya langsung brigas.” jelas Mbah Sri sambil menunjukan badannya.

“Wah kok aneh begitu?” heranku tak habis pikir. Aku terpaksa mau dipijit, walau tak masuk logikaku, tapi memang setelah itu mbah Sri sehat segar bugar.

Dia sering meminta diijinkan memijitku, agar dia sehat, ya aku turuti saja, asal aku bisa bermanfaat untuk menolong orang lain, dipijiti juga enak.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s