Beranda > sang kyai > Sang Kyai 34

Sang Kyai 34

“O, mas ini yang katanya adiknya pak Abdullah?” tanya orang yang bernama Muhsin. Dia kerja di Saudi sudah hampir 16 tahun.

“Iya mas…” jawabku. Di dalam kamar banyak pekerja lain yang berangkatnya lebih dahulu dariku sedang berkumpul.

“Kata temen-temen mas ini banyak punya kelebihan.” kata Muhsin lagi.

“Kelebihan? Kelebihan hutang kali, la telingaku juga dua, tangan dua, punya kelebihan apa?” kataku heran.

“Kamarnya sebelah mana mas?” tanya Muhsin.

“Aku di D 1-1,” jawabku, “Kalau ndak salah.”

“Nanti saya main ke sana boleh ya mas…” kata Muhsin.

“Boleh, silahkan saja.”

——————————————-

Muhsin main ke kamarku.

“Anu mas kalau boleh mau nanya.” kata Muhsin.

“Nanya apa mas?” tanyaku balik.

“Nanya soal istri saya di Indo.”

“Wah mending jangan, saya gak enak mencampuri urusan rumah tangga orang lain.”

“Tolong dilihatin istri saya bisa kan mas?”

“La sekarang nelpon pakai 3G kan bisa video call??”

“Ya maksudku biar tau keadaannya di rumah gitu.” kata Muhsin.

“Kadang tak tau keadaan istri itu lebih baik, dan menyerahkan segala urusan kepada Alloh, meminta Alloh menjaga istri, itu lebih baik, dan Alloh itu sebaik-baiknya penjaga.”

“Soalnya saya pernah mendengar kabar kurang enak soal istri.”

“Itu ndak usah diperduli, ada orang pengen mengganggu rumah tangga orang di kala si lelaki tak di rumah itu wajar, la yang suaminya ada di rumah saja kadang istrinya digoda, apalagi suami tak ada di rumah, hal seperti itu biasa, menunjukkan setan berupa manusia itu ada di mana-mana.”

“Iya… iya mas, penjagaan Alloh memang melebihi penjagaan siapa saja.” jawab Muhsin.

“Nah begitu baru benar.”

“Iya mas, terima kasih atas sarannya, kalau saya sering main ke sini, boleh kan mas?”

“Boleh silahkan saja.”

Lalu Muhsin minta diri.

Hari-hari pertama di Saudi, sibuk mengurus surat-surat, wira-wiri ke accounting, mengurus ATM dan KTP atau aqomah, tanda diri mukim, dan urusannya yang membuat sibuk itu bukan masalah sulitnya tapi masalah orang Saudi yang malas, misal ngurus kartu ATM ke bank, sudah nyerahin data, besoknya disuruh kembali lagi, kadang kesiangan sedikit maka ditolak, padahal jaraknya kan jauh, naik taksi, taksinya juga tak ada, nunggu taksinya di bawah panas terik, ya belum apa-apa memang kerja sudah kesiksa.

Di Saudi itu kerja mungkin 10 kali lipat beratnya kerja di Indonesia, walau dalam bentuk pekerjaan yang sama bentuknya, la belum kerja sudah keringetan, apalagi kalau sudah kerja, baju bisa basah kayak dicelup ke air lalu diangkat dan dipakai, keringet mengucur seperti pancuran, dan tentu saja kalau tidak banyak-banyak minum, maka dijamin dehidrasi. Badan lemes, karena kehabisan cairan. Nyatanya banyak orang tetep mau jadi TKI, sebenarnya bukan masalah kerja di Saudi enak, tapi nilai rupiah itu besaran nilai real mata uang Saudi, jadi walau digaji rendah, tapi kalau ditukar dengan mata uang Indonesia masih banyak bentuk uangnya jika dipakai di Indonesia.

Jika berurusan dengan orang Saudi, apalagi soal pengurusan surat, ku jamin akan gondok, suntuk, apalagi sifat orang Saudi yang kebanyakan suka meremehkan orang lain, padahal kalau menurutku orang yang meremehkan orang lain akan nantinya diremehkan.

Kali saja aku ini yang lagi apes, tiap ketemu orang Saudi kebanyakan kok ya ketemu yang jarang jarang mandi, jarang sikat gigi, sampai giginya menghitam, kalau tersenyum seperti orang yang kebanyakan makan tembakau.

Badan penat habis ngurus Kartu ATM, tes kesehatan, tes darah, memberi data di klinik dan rumah sakit, foto untuk KTP.

Masuk ruang kerja, ee ada yang marah-marah, orang Pakistan bernama Kumar datang ke tempat kerjaku, aku sih gak ngerti bahasanya, kalau pernah nonton film India, ya seperti itu bicaranya, tangannya ke sana-sini, lehernya geleng-geleng tak mau berhenti, Kumar bicara kalau melihat wajahnya dan sinar matanya juga bicaranya yang pakai gebrak meja, aku yakin dia lagi marah, tapi aku heran juga, kenapa dia bisa marah denganku, sayang aku tak tau dengan bahasanya, apa dia salah orang ya? Atau mungkin aku dikira orang yang punya hutang sama dia? Mungkin lebih baik kalau bicara dengan bahasa India dia diterjemahkan dengan gambar, misal kalau aku nyuri kucingnya, digambar orang membawa kabur kucing, bukankah lebih mudah dipahami.

Untung Sarno masuk ke ruanganku, karena mendengar ribut-ribut.

“Ada apa mas?” tanya Sarno yang masuk disertai orang India yang bekerja dengannya.

“Gak tau mas Sarno, la ini orang masuk-masuk ke ruanganku, langsung marah-marah, gak tau ini orang kesambet di mana.” jelasku.

Lalu orang India yang masuk dengan Sarno menanyakan masalah kenapa Kumar marah, kemudian diterjemahkan ke bahasa Arab pada Sarno, dan Sarno mengucapkan dalam bahasa jawa kepadaku. Jadi bicara dalam tiga bahasa.

“Orang ini, Kumar marah karena mas kerja di sini, ini kan ruangan kerja ayahnya, sekarang sedang dikirim ke pabrik baru, dan karena mas kerja di sini maka nantinya ayahnya Kumar akan dipecat, makanya dia marah-marah, karena mas membuat ayahnya Kumar dipecat.” jelas Sarno.

Lalu ku jawab yang jawabanku diterjemahkan Sarno dalam bahasa Arab kepada orang India yang bernama Jabir lalu diterjemahkan dalam bahasa India kepada Kumar. Jadi proses 1-2 kata saja bicara jadi lama dan berbelit-belit.

“Bilang mas, aku kerja di sini tak kenal dengan bapaknya, apalagi satu sekolah, aku kan orang baru, penempatan kerja juga tergantung managernya, soal bapak dia dipecat atau bukan itu bukan urusanku, tapi urusan manager.”

“Dia tak perduli, pokoknya mas Ian ini menurutnya sebagai penyebab dipecatnya bapaknya.” terjemah Sarno.

“Ooo berarti dia ngajak ribut..?” tanyaku.

“Pokoknya mas tidak boleh bertempat di ruang kerja bapaknya, kalau perlu pulang lagi ke Indonesia.” terjemah Sarno.

“Ooo begitu…” jawabku.

Kumar pergi sambil menendang kursi, dan semua barang yang ada diambil takutnya ku pakai.

——————————————-

Tapi seminggu kemudian Sarno bilang padaku.

“Mas…! Orang yang bernama Kumar yang marah-marah di sini itu, sekarang kecelakaan, tak tau bagaimana nasibnya, soalnya dia naik taksi dan mobil taksinya masuk ke bawah truk gandeng dan dilindas truk gandeng.” kata Sarno.

“Kok bisa?” tanyaku heran.

“Ceritanya dia mau umroh naik taksi, lalu kecelakaan, menurut cerita mobilnya dilindas truk gandeng, jadi roda truk gandeng sampai naik ke atas taksi.” jelas Sarno.

“Wah kayak di film aja…”

“Kalau menurut cerita si Kumar lehernya patah, tak tau mati apa masih hidup, tapi sekarang di rumah sakit.” jelas Sarno.

Sebagaimana biasa tiap malam Muhsin main ke kamarku.

“Mas, ada orang Indonesia yang ingin minta tolong, apa mas mau?” tanya Muhsin.

“Mana orangnya kok ndak ke sini saja, kalau aku bisa menolong ya akan ku usahakan menolong, kalau aku tak mampu ya aku minta maaf.” jawabku.

“Orangnya bukan bekerja di pabrik sini kok mas, tapi bekerja di luar sini.” jelas Muhsin.

“Ya suruh saja dia ke sini sendiri, lalu masalahnya apa… dia cerita, kalau aku bisa menolong, akan ku usahakan.”

“Oh ya bagaimana soal istri saya mas…, apa ndak bisa dilihat?”

“Wah balik lagi ke istri, istri sampean ndak ada masalah apa-apa, gini saja, bagaimana kalau ku katakan di dalam sumur sampean ada belut putihnya, sampean percaya tidak?”

“Tidak percaya.”

“Makanya kalau ku bilang ada belut putihnya, aku bohong gak?” tanyaku.

“Ya kalau ada gak masuk akal juga, soal bohong apa tidaknya kan perlu bukti.” jawab Muhsin.

“Makanya segala sesuatu itu perlu bukti, jangan percaya dengan kata siapapun sebelum kita membuktikan sendiri, Alloh saja berfirman, wa’budulloha khatta a’tiyakal yaqin, jadi segala sesuatu itu harus yaqin, dan keyakinan itu ada karena ainul yaqin, melihat dengan yaqin, sebab melihat dengan mata kepala sendiri, bukan kata si A, atau kata si B, juga bukan karena kata saya, seperti saya mengatakan ada belut putih di sumurmu,”

“Aku pernah masuk ke rumahmu tidak?” tanyaku pada Muhsin.

“Tidak pernah Mas.” jawab Muhsin pasti.

“Apalagi melihat sumurmu, kira-kira pernah tidak?”

“Tidak pernah mas.” jawab Muhsin lagi.

“Berarti kataku mengatakan di dalam sumurmu ada belut putihnya mengada-ada kan?” tanyaku lagi.

“Iya mas…”

“Makanya jangan percaya, apalagi kamu bertanya soal istrimu padaku.., lebih-lebih hal pribadi lalu menyandarkan suatu jawaban dari orang yang tidak tau permasalahan, itu namanya ngawur.”

——————————————-

Pagi-pagi Muhsin nelpon,

“Ada apa?” tanyaku.

“Istriku pas nimba di sumur, mendapatkan belut putih di timbanya.” kata Muhsin.

“Hm… lalu…”

“Kan berarti kata mas benar, di sumurku ada belut putihnya, mas… saya dijadikan murid ya…?”

“Jadi murid saya itu berat, harus puasa, harus dzikir, harus nurut sama kata guru.”

“Gak papa mas, saya siap.”

“Ya kalau siap, silahkan saja.”

“Ya nanti malam saya ke kamar mas.., “

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s