Beranda > sang kyai > Sang Kyai 37

Sang Kyai 37

Suara sirene polisi memberi peringatan, agar setiap mobil segera meninggalkan parkir di tepi jalan, jika tidak akan segera diderek, menandakan kami harus segera pulang, kembali ke pabrik, dan bekerja seperti biasa, dan tak pernah tau apa yang akan terjadi selanjutnya.

Taqdir telah dalam tergurat, baik buruk siapapun tak ada yang akan tau akhirnya, kita seperti pejalan kaki yang melintasi gelap, tak ada yang memberi cahaya kecuali Sang Maha pemberi cahaya, dan Alloh hanya memberi cahaya pada siapa yang dikehendaki, dan kita berharap kita, khususnya aku sendiri mengharap cahaya itu menjadi penerang di hati, memperoleh sedikit sudah cukup menjadi panduan, agar aku bisa melewati kegelapan hidup yang penuh tipu daya, sebab ketertipuan yang halus lebih menakutkan karena diri tidak merasa, dan selalu merasa benar walau jelas telah salah jalan, itu lebih menakutkan dari masuk ke jurang secara nyata, sebab telah jauh amal dilakukan bukan menambah kita menuju kebenaran, walau sisa umur habis sudah di perjalanan panjang yang sia-sia, tak pernah bijak memaknai sepi, dan tak pernah mengerti tujuan perjalanan yang sejati.

Sampai di pabrik, masih ada waktu istirahat, dua orang TKI sudah ada di kamarku. Kami bicara tentang cerita masing-masing, dan tentu saja rokok Indonesia kebiasaan bagi TKI yang datang dari cuti atau baru datang dari Indonesia, sebab rokok di Saudi harganya selangit untuk rokok Indonesia.

Dua orang TKI baru itu bernama Yatno dan Umam.

Karena sudah teramat lelah aku pun tertidur. Hari-hari kerja seperti biasa, Alhamdulillah aku mendapat lemburan membersihkan masjid, walau waktunya setengah hari, tapi cukup lumayan untuk tambahan membeli rokok.

Biasa jam 9 istirahat, karena kerja di masjid sendiri, aku memilih tempat menyendiri untuk menulis pakai hp N75, sambil menyalakan rokok.

“Haram… hada duhon haram…!” seorang mutowak (kyai) membentakku. Dia seorang Arab. Maksudnya, “Haram, ini rokok haram.”

“Siapa yang mengatakan haram?” tanyaku.

“Aku.”

“Siapa kamu berani menentukan hukum tanpa dasar.” elakku.

“Aku kyai.”

“Kyai bukan Nabi, Al qur’an saja tidak mengatakan haram, bagaimana kamu mengatakan haram.”

“Aku mengatakan haram, ya haram…” bantah Mutowak.

“He… di mana-mana haram itu sudah jelas, alqur’an juga sudah menetapkannya, zina, mencuri, mabuk-mabukan, riba, membunuh, itu sudah jelas di-nas, ditentukan oleh qur’an, kalau rokok makruh iya, karena tidak ada manfaatnya, tapi kalau haram tidak, bahkan tak ada wala taqrobu duhon, jangan mendekati rokok juga tak ada, jadi jangan membuat hukum tanpa ada dasar hukumnya, kalau Alloh tidak mengharamkan maka jangan diharamkan, kalau melarang dalam ruang tertentu ndak papa.” kataku juga ngotot.

“Pokoknya kalau haram, ya haram,” Mutowak juga tak mau kalah, walau dia tak punya dasar.

“He… aku tau kamu mutowak, dan aku orang bodoh, tapi tidak bisa seseorang itu memaksakan kehendaknya pada orang lain, kecuali hal itu benar-benar berbahaya untuk orang lain, seperti seorang dokter melarang orang darah tinggi makan daging kambing, tapi untuk orang lain daging kambing kan bukan larangan, pemerintah saja tidak melarang rokok, la kok kamu melarang, sekarang kalau gad (sejenis rumput yang bisa menambah stamina dan jika dikonsumsi bisa menjadikan orang yang mengkonsumsi ketagihan, dan di Saudi itu dilarang sebab hampir seperti ganja, walau efeknya aku sendiri tak tau apa bisa sakau) apa itu halal kok kamu mengkonsumsi?” tanyaku.

“Kalau itu halal.” jawab Mutowak.

“Tapi itu kan pemerintah melarang?”

“Ya itu kan urusan pemerintah.” jawab Mutowak.

“Lo yang rokok ndak dilarang, kamu haramkan, kok gad yang dilarang pemerintah kamu makan? Bukankah firman Alloh, ta’atlah pada Alloh, ta’atlah pada Rosul, dan ta’at pada pemimpin kalian, bukankah itu malah menyalahi Al-qur’an?”

“Kamu sok pinter.”

“Lhoh itu kan sudah ada di Alqur’an, bukan aku sok pinter.” elakku.

“Begini saja menurutmu ayat yang menyatakan: “wa anzalna minassama’i ma’an” [dan Aku (Alloh) turunkan air hujan dari langit], menurutmu ayat itu benar tidak kalau Alloh yang menurunkan hujan dari langit?” tanyaku.

“Ya benar itu kan Qur’an.” jawab Mutowak.

“Nah karena yang menurunkan hujan dari langit itu Alloh, jika yang kamu katakan benar, coba kamu berdo’a minta hujan pada Alloh, kalau kamu benar tentu Alloh akan menurunkan hujan dari langit, bagaimana? Aku akan berhenti merokok sekarang juga.” kataku.

“Ya tidak bisa seperi itu.” kata Mutowak.

Karena di Jizan sendiri setahun memang belum tentu ada hujan, bahkan telah berulang kali dilakukan sholat minta hujan di lapangan, tetap saja panas amat terik. Dan dari kyaiku aku sudah dibekali sendiri cara meminta hujan, memindah mendung, dan memerintah angin, maka aku berani menantang kyai dari Saudi itu.

Walau sebenarnya aku tak ingin apa yang diberikan kyaiku itu untuk membenarkan atau mendukung hujahku, aku hanya ingin orang Arab itu tidak terlalu selalu menganggap ucapan dia adalah hukum, dan kebenaran, sementara ucapan orang di luar Arab itu salah.

“Nah kamu tak berani kan? Anak kecil juga bisa ngomong ini itu, netapkan sesuatu dengan ukuran udelnya sendiri.” kataku memanasinya.

“Coba kamu…” kata Mutowak itu yang sudah termakan siasatku.

“Kalau turun hujan bagaimana?” tanyaku.

“Tak mungkin.”

“Bener aku yang berdo’a?”

“Iya kalau turun hujan bagaimana?” tanyaku lagi.

“Kamu boleh ngerokok semaumu, bebas di mana saja.” kata Mutowak itu yakin kalau aku tak akan bisa meminta hujan.

“Baik ku pegang ucapanmu.” kataku.

Aku segera ke luar dan melihat ke jauh, di mana ada setitik mendung jauh, lalu aku berkonsentrasi, meminta kepada Alloh, memadukan dengan dzikir dan do’a, juga tenaga prana, angin lima menit kemudian berhembus keras, dan mendung bergulung mendatangi, aku tetap konsentrasi, dan menyatukan permintaan dengan kesungguhan, dan sepuluh menit kemudian hujan deras, aku berlari ke tempat teduh, menghindari hujan.

“Bagaimana?” tanyaku pada Mutowak.

“Itu sihir…” kata Mutowak.

“Lhoh kamu ini bisa dipegang kata-katanya tidak, jelas-jelas di qur’an Alloh yang menurunkan hujan, ini bukan aku yang menurunkan, bagaimana kau anggap sihir, la coba saja airnya disentuh, tanah basah gitu, kalau sihir mampu melakukan seperti itu, sampai tanah basah, air mengalir, wah hebat benar sihir itu.” kataku agak jengkel.

Memang tak ada gunanya otot-ototan sama orang Arab, sebab kebanyakan mereka memperdebatkan sesuatu tanpa dasar, dan hanya memakai dasar agar diri dianggap benar.

Aku tinggalkan Mutowak Arab itu, dan kembali bekerja.

Esoknya lagi Mutowak itu mendatangiku, dan memberikan rokok padaku.

“Apa ini?” tanyaku.

“Aku hanya ingin mengatakan, kamu jangan menunjukkan kelebihanmu di hadapan orang lain, karena kamu bisa dibawa polisi, dituduh melakukan sihir, dan akan dipancung.” kata Mutowak.

“Lhoh aku sama sekali tak melakukan sihir.”

“Iya, aku tau, tapi di Saudi seperti itu tak ada, kamu memiliki ilmu haq, tapi di sini, Saudi, seperti itu tak ada, pemerintah mempunyai mazhab wahabi, yang bersandar pada ibadah yang logika, masuk akal, dan wajar, jadi kalau minta hujan ya pakai istisqo’, do’a itu ada kalanya diijabah di akherat sana.”

“Hehehe… aneh.”

“Apanya yang aneh?”

“Coba bayangkan, kalau semua do’a minta hujan diijabah di akherat, apakah akheratnya ndak kebanjiran, apa itu namanya tak aneh, di akherat bukannya orang yang masuk surga sudah disediakan semua kelengkapannya, kalau do’a minta rizqi diijabah di sana, apa ndak aneh? Di surga bukannya ndak ada orang sakit? Kalau do’a minta disembuhkan diijabah di sana, apa ndak aneh?” kilahku.

“Wah kamu terlalu mengerti banyak, itu akan membahayakanmu.”

“Lhoh bukannya itu hal yang masuk akal.”

“Ijabah Alloh itu tidak mesti dalam bentuk sesuatu yang kita minta.” jelas Mutowak.

“Iya tapi Alloh kan tidak terhalang dalam memberi ijabah.” kataku.

“Sudah-sudah aku mumet bicara denganmu, hanya pesanku, jangan kamu perlihatkan kelebihan yang kamu miliki, kepada orang lain, itu demi keselamatanmu.”

“Baik-baik…” jawabku.

“Damai.” kata dia mengulurkan tangannya.

“Damai.” jawabku menyalaminya.

Semua orang berpegang pada keyakinan masing-masing, sekalipun kita yakin seyakin yakinnya kepada apa yang kita yakini, maka itu untuk kita sendiri, dan semua orang berhak ada dalam apa yang diyakini, selama apa yang diyakini itu tidak mencedrai keyakinan orang lain.

Sesuatu apapun itu menjadi salah atau kebenaran sekalipun jadi salah jika dipaksakan kepada orang lain. Kecuali itu telah disetujui menjadi hukum suatu negara, maka negara berhak memaksakan kehendaknya pada rakyatnya. Jika rakyat tak mau, turunkan saja pemimpin yang memaksakan kehendaknya pada rakyat itu.

Sebagai pribadi, maka tak selayaknya kita memaksakan kehendak atau keyakinan kita kepada orang lain, sekalipun apa yang kita yakini itu telah terbukti kebenarannya, cukup wa’mur bil urfi wanha ‘anil mungkar, memerintah kebaikan dan mencegah kemungkaran, hidayah atau petunjuk itu di tangan Alloh, jika kita telah memaksakan keyakinan diri pada orang lain, maka berarti kita telah berusaha menjadi TUHAN.

Aku amat percaya, jika seseorang berusaha menjadi Tuhan, yaitu yang memaksakan kehendak pada orang lain, supaya mengikuti apa yang diperintahkan dan dikehendakinya, maka selamanya tak akan sukses, sejak dulu banyak orang yang berusaha menekankan dan memaksakan kehendaknya pada orang lain, juga sejak dulu tak ada satupun yang berhasil, malah akan menimbulkan pertengkaran dan perselisihan baru, permusuhan yang tiada ujung pangkalnya.

Menurutku kita ikuti saja perintah Alloh, Alloh memerintahkan kita kepada kebenaran, maka kebenaran itu kita sampaikan, tak perlu menggurui, tak perlu menunjukkan diri berilmu, bahkan kadang kita tak perlu berbicara lebih, cukup menjadi contoh dan mencontohkan, lisanul khal afsokhu min lisanil maqol, lisannya perbuatan itu lebih fasih berbicara dari lisan ucapan.

Kejernihan hati itu akan berimbas pada orang yang memiliki kejernihan itu, dan berimbas pada orang yang melihat, suatu ketenangan akan merambat menjalari hati siapa saja yang bertemu dengan orang yang kejernihan hati, seperti orang yang berdiri di tepi danau, dan akan merasa tenang ketika melihat danau yang tenang, angin yang lembut menyegarkan menerpa pipi, dan damai dengan sendirinya akan merasuk ke hati, walau dia tak menyentuh danau yang tenang itu.

Hari-hari biasa, jika sudah malam, kamarku sering didatangi teman-teman yang sekedar nongkrong, duduk ngobrol, juga banyak yang belajar internet gratis.

Yatno termasuk yang sering main ke kamarku,

“Kamu punya masalah ya No..?” tanyaku suatu hari.

“Kok tau kang?” tanya Yatno heran.

“Ya kan bisa dilihat dari wajah yang kelihatan sumpek, dan suntuk.” jawabku.

“Aku mau nanya soal perempuan kang…, kalau boleh.” kata Yatno.

“Lhoh bukannya kamu sudah punya anak bini?”

“Iya kang…, tapi aku sudah gak kumpul, dan aku punya pacar baru..”

“Wah jangan teruskan No…, percayalah kamu akan menyesal nantinya.” jelasku.

“Wong aku cuma bantu kang…”

“Hahaha… mbantu? Aah gak usahlah banyak alasan, aku tau semua, pokoknya ingat kata-kataku ini, kamu akan menyesal kalau kamu teruskan, nanti kalau ada apa-apa jangan minta tolong padaku lo…”

“Wah mbok sampean jangan nakut-nakuti aku to kang.”

“Lho nakuti gimana to, sesuatu perbuatan itu ya No, jika keluar dari jalur kebenaran pasti akan celaka, menyesal, makanya karena aku merasa kita senasib di Saudi ini, kamu aku ingatkan, agar tak menyesal nantinya.”

“Ya… aku jalani dulu kang…”

“Kamu ini kok ya lucu..”

“Lucu bagaimana kang.”

“Yang kamu jalani itu ya apa enaknya.”

“Maksudnya kang?”

“Kamu itu kan di sini, pacarmu di Indonesia, coba apa kamu nyentuh, nyium? La apa enaknya pacaran kayak gitu, kalau aku orang gak bener, ngapa juga pacaran kayak gitu dilakuin.”

“Ah ndak tau lah kang..”

Mungkin di Saudi itu orang kesepian, apalagi kami yang terkungkung seperti di penjara, melihat perempuan ibarat seperti barang langka, melihat perempuan mungkin kalau pas beruntung lagi pergi ke kota, itu juga perempuan yang cuma kelihatan matanya, tak tau kalau pas dibuka ternyata perempuan tua.

Kesepian itu merajut hati siapa saja, dan memenjarakan kehendak, tentu saja seperti nafsu itu seperti kuda yang lama dipasung di kandangnya. Bahkan sebelum aku mengajari cara berinternetan gratis, semua orang pada terseret pada penyakit telpon menelpon TKW, tiap habis kerja semua pada sibuk mojok, telpon telponan dengan TKW, tak tau orangnya jelek, hitam, jerawatnya batunya numpuk, asal terdengar suaranya yang merdu manja, semalaman pun kuat bicara, dan kebanyakan gaji habis untuk telpon-telponan, aku melihat merasa kasihan juga, sebab jelas semua orang jauh-jauh ke Saudi bukan untuk enak-enakan rekreasi, tapi mau memperbaiki ekonomi, mau agar taraf hidup jadi lebih baik, lalu kok gaji habis cuma untuk nelpon cewek yang tak jelas juntrungnya, perawan apa janda juga masih tanda tanya, juga sudah tua atau muda juga masih perlu dibuktikan, tapi semua karena kodrat, lelaki itu membutuhkan wanita, dan wanita membutuhkan lelaki.

Walaupun aku tak sampai ikut-ikutan, dan maklum akan kebutuhan teman-temanku mengisi sisi hatinya yang kosong, apalagi yang punya istri mau telpon istri di Indonesia juga mahal, aku maklum, kalau masih nelpon cewek, dan tidak nelpon kambing, kan kalau nelpon kambing jadinya kan kelainan, tapi aku juga kasihan mengingat tujuan ke Saudi adalah mendapat uang untuk memperbaiki taraf hidup, jadinya uang dihabiskan, malah ada yang sampai habis uang 3 ribu real perbulan, atau tujuh juta setengah dalam rupiah, uang segitu hanya dihabiskan untuk haha-hihi dengan cewek yang tak jelas.

Kayak pemuda bernama Tony, dia selalu telpon-telponan di dekatku, sambil sayang-sayangan, suara perempuannya sih kedengaran manja merayu.

“He Ton…!”

“Apa mas…”

“Kamu itu telpan telponan tiap hari, apa sudah lihat ceweknya?”

“Ya belum mas…”

“Setahuku cewek yang suaranya merdu begitu, apalagi mau bicara gak genah jorok gitu, biasanya jelek.”

“Ah mana mungkin jelek, la suaranya saja merdu gitu.” elak Tony.

“Lha kenapa kamu ndak minta fotonya, dibuktikan kata-kataku, daripada sudah yang-yangan gak karuan ceweknya malah lebih tuwir dari emakmu, apa ndak menyesal.”

“Dia sudah ku mintai foto, tapi tak punya hape yang ada kameranya.”

“Nah ketahuan, apalagi pakai alasan segala, sudah jelas jelek amit-amit itu orangnya.”

“Lha kalau memang dia tak punya hape yang berkamera gimana?”

“Kan bisa pinjem hape orang lain, bilang saja kalau tak mau memberikan kamu foto, dia kamu putusin.”

“Iya deh ku minta fotonya lagi.”

“Sekalian bilang kalau dia ndak ngasih foto sekarang juga, kamu putus sama dia, tak mau telpon-telponan lagi.”

“Iya ku bilang.”

Tony pun nelpon lagi, dan meminta foto, juga mengatakan akan memberi foto.

“Gimana sudah mau ngasih?” tanyaku pada Tony yang sudah nelpon.

“Iya, setelah ku ancam mau ku putusin dia mau, dan mau minjam hape temennya.” jawab Tony.

“Nah itu baru bener.”

——————————————-

Suara pintu diketuk.

“Masuk, tak dikunci.” kataku mempersilahkan masuk yang mengetuk pintu.

Ternyata Muhsin dengan temannya, yang tak ku kenal karena bukan dari salah satu di antara pekerja pabrik semen.

“Wah ramai sekali, pada ngumpul.” kata Muhsin sambil masuk.

“Mari silahkan, desak-desakan,” kataku karena memang kamar sudah agak penuh orang.

“Ini mas… orang yang pernah aku ceritakan mau minta tolong.” jelas Muhsin setelah duduk memperkenalkan namanya Mabrur.

“Lha ada masalah apa mas?” tanyaku.

“Itu mas, saya membeli tanah di rumah di daerah Cirebon.” cerita Mabrur.

“Trus ada apa?” tanyaku.

“Nah itu, ceritanya begini mas, yang punya tanah itu dulunya pernah nyupang, bekerja sama dengan sebangsa buto ijo atau apa gitu, yang jelas kan di tanah yang ku tempati itu ada pohon sawo tua, nah sering kejadian orang lewat di sekitar sawo tuwa itu menjadi korban.”

“Maksudnya menjadi korban?” tanyaku.

“Ya kayak tiba-tiba mati tercekik, dan orang yang ada di sekitar pohon itupun pada satu persatu mati, dan memang di dekat sawo itu juga tempat saya mau tinggal nantinya, ini masih belum ku tinggali, sebab saya dan istri masih kerja di sini.” cerita Mabrur.

“Lalu…”

“Ya kalau bisa, mau minta tolong dipindahkan atau mau diapakan agar buto itu tidak meminta korban lagi…” kata Mabrur.

“Hm… ” aku merenung.

“Ini sudah ku mintakan orang pinter, atau paranormal untuk memindah mas, tapi tak ada yang kuat, malah ada yang sampai mati tercekik.” jelas Mabrur.

“Wah ngeri juga ya…” kataku asli merasa ngeri juga. Biasanya jin kalau sudah diajak kerja sama dengan manusia memang sudah kuat.

“Iya coba nanti ku usahakan, moga-moga Alloh memberi ijin dan kekuatan padaku untuk mengusirnya.”

“Makasih sebelumnya.” kata Mabrur.

“Lalu yang kedua mas..” tambah Mabrur.

“Wah kayak buku saja ada yang kedua, hehehe…” candaku.

“Ya sekalian mas, soalnya jauh-jauh sudah sampai di sini.”

“Apa itu yang kedua?” tanyaku.

“Ini soal majikanku mas, aku punya majikan, nah aku sudah lama bekerja sama istri di tempat majikanku itu, tapi gaji gak dikasih-kasih…”

“Siapa nama majikannya?” tanyaku. Lalu Mabrur menyebutkan nama.

“Ya insaAlloh nanti ku bantu do’akan.”

Teman sekamarku namanya Safi, orang Madura, dibilang lucu ya lucu juga, kerjanya tukang potong rambut, jadi di dalam perusahaan semen ini seperti layaknya kampung, semua bidang pekerjaan ada, dari sopir, satpam, tukang kayu, tukang batu, tukang listrik, mekanik, sampai tukang cukur juga ada, semua di bawah naungan pabrik semen, jadi orang tak perlu kemana-mana, semua sudah tersedia di dalam, bahkan lapangan bola, lapangan basket, kolam renang, juga mini market yang lumayan lengkap juga ada, dari pabrik seminggu sekali ada bus yang siap mengantar karyawan ke kota untuk belanja, dengan gratis.

Di dalam juga ada kantin, jadi mau makan tinggal potong gaji, mau masak sendiri juga boleh, dengan belanja sendiri tentunya.

Safi teman sekamarku itu orangnya suka bercanda. Malam-malam dia mendekatiku, sambil nelpon,

“Ada apa?” tanyaku heran karena dia nelpon dengan suara perempuan.

“Ssst…! Jangan keras-keras mas, aku lagi ngerjain mas Widji.” kata Safi,

“Ngerjain apaan?” tanyaku heran.

“Ngerjain nelpon dia, aku pura-pura jadi perempuan, biar kapok, masak orang kok sukanya telponan sama perempuan.” kata Safi.

Walau aku mengerti maksudnya tapi aku kasihan juga sama yang dikerjai, karena sampai mau mengirimi pulsa, dikiranya Safi yang memakai nama perempuan itu benar-benar perempuan, sehingga sampai malam larut masih ngobrol sayang-sayangan, juga masih perawan, sakitlah, aku jadi tidak konsen nulis di hp.

Besoknya yang dikerjai orang lain lagi, bernama pak Bunawi, pak Widji dan pak Bunawi itu juga orang tua yang sudah ubanan, la heranku kok bicara yang sayang-sayangan. Anehnya lagi nanti setelah nelpon pada ke tempatku, dan cerita sama Safi kalau habis telpon-telponan sama cewek, dan yang-yangan, kayak anak baru remaja saja, gak tau kalau yang barusan nelpon orang yang sekarang diajak bicara, ah bener-bener sudah edan semua, gara-gara pada kesepian.

Aku tinggal saja melepas sukma, pergi ke Cirebon ke daerahnya Mabrur.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s