Beranda > sang kyai > Sang Kyai 43

Sang Kyai 43

“Mungkin saja dari pihak lelaki yang mengalami kemandulan?” jawabku di pesan.

“Tidak mas, ini memang diriku, karena aku pernah mengalami kecelakaan jadi kandunganku mengalami masalah, dan dokter sudah menetapkan aku tak bisa mengandung.”

“Memangnya dokter itu Tuhan, bisa menetapkan orang bisa atau tidak mengandung?” tanyaku.

“Ya tentunya dengan ilmu dan peralatan yang mereka miliki,” jelas mbak Inayah.

“Ah menurutku tak bisa seperti itu, hal-hal yang di luar perhitungan akal itu bisa saja terjadi dan akal dan tehnologi itu tak bisa dibuat sandaran akhir dari suatu keadaan, masih banyak yang di luar nalar dan logika terjadi, dan kejadian itu tak menunggu akal dan logika menerima, baru akan terjadi, malah bumi ini diciptakan sebelum adanya manusia dan segala akal dan logikanya, nyatanya bumi ada, dan ditempati manusia, tidak menunggu akal dan kecanggihan ada baru bumi diciptakan dengan kecanggihan.”

“Tak taulah mas, yang jelas kandunganku bermasalah, dan menurut dokter tak akan bisa punya anak, ya saya baca setatus mas banyak dimintai do’a, jadi saya memberanikan diri meminta mas mendo’akan saya.”

“Pasti akan saya do’akan, tapi saya punya syarat.” kataku.

“Wah kayak dukun aja mas pakai syarat segala, apa syaratnya mas?” tanya Inayah.

“Syaratnya kamu beritahu suamimu, ajak dia mencintaiku karena Alloh.” kataku.

“Wah syaratnya aneh bener mas?” tanya Inayah.

“Ya mau apa tidak?”

“Ya aku beritahu suamiku dulu mas, tapi kenapa syaratnya seperti itu?”

“Aku hanya minta dukungan saja, dukungan agar do’aku diijabah Alloh, dan do’a yang sangat cepat ijabahnya itu salah satunya do’anya orang yang saling mencintai karena Alloh.” kataku.

“Ok kalau gitu, saya beritahu suamiku.”

“Ya ku tunggu.”

Besoknya Inayah dan suaminya menyatakan cinta dan mencintaiku karena Alloh, ditulis di pesanku.

Setelah membaca tulisan di pesan, aku segera mendo’akan Inayah, agar dikaruniai anak.

Besoknya ada pesan lagi dari Inayah.

“Mas semalam perutku kayak bergerak-gerak, semalaman selalu bergerak-gerak, kayak ada tangan di dalam perutku yang merubah-rubah, mas apakan?” pesen Inayah.

“Ya tak aku apa-apakan, kan aku jauh di Saudi, memangnya bisa ngapakan orang yang di Indonesia?” tanyaku.

“Ya tapi jadi aneh, oh ya mas kata suamiku, sekalian dido’akan biar punya anak kembar, hehehe…, biar langsung punya momongan dua.”

“Ya insaAlloh.” kataku.

——————————————-

“Mas… aku tidak men lagi.” kata Inayah, setelah lima belas hari terakhir kirim pesan,

“Ya moga-moga saja hamil.” kataku. “Ku tunggu perkembangan selanjutnya.”

“Mas aku mual-mual, tadi ku periksakan ke dokter, aku positif.” pesan Inayah di facebook. Mungkin jarak empat puluh harian setelah ku do’akan.

“Mas anakku kembar, sudah ku USG kan,”

“Ya syukur.”

Begitulah Inayah selalu memberitahu perkembangan kandungannya, aku senang, dia bisa senang, walau bertemu sekalipun aku tak pernah, dan tak pernah melihat wajahnya.

“Mas kok yang berkembang cuma satu, kembarannya tidak berkembang,” pesan Inayah ku trima lagi.

“Ya makanya kalau meminta pada Alloh itu jangan dibuat candaan.” balasku di pesan.

Begitu salah satu cerita di antara banyak kisah di facebook, sebagian orang menjadikan facebook itu untuk iseng, berkeluh kesah, dan main-main saja, tapi bagiku di mana saja orang bisa berbuat baik, semakin seseorang itu bisa berbuat baik, dan beramal seperti tangan kanan memberi dan tangan kiri tak melihat, ya seperti menolong orang yang tidak kita kenal, dan mereka tak mengenal kita dalam artian tidak pernah bertemu berjabatan tangan, maka keikhlasan akan lebih terpelihara.

Dan keikhlasan seseorang itu ternilai dari pamrih apa yang didapat, dan Alloh sungguh Maha Melihat setiap perbuatan sekecil apapun perbuatan itu akan tetap dinilai di sisi Alloh, Alloh tak pernah mendzolimi hambaNya.

Siapa yang mampu melepas kebaikan seperti melepas anak panah, maka akan mendapat derajat di sisi Nabi.

Do’a yang tak ikhlas itu tak akan menembus langit tujuh, apalagi sampai di sisi Alloh, akan tertahan di langit, dan mungkin malah hanya sampai langit pertama, maka kenapa tidak mengukur keikhlasanmu dengan coba berdo’a, diijabah tidak do’amu, jangan banyak berteori dan memperdebatkan kata-kata kosong, buktikan jika kau mampu, jika cuma bicara, anak kecil juga bisa, itu yang selalu terngiang di dalam pikiranku, punya iman? buktikan, ikhlas? buktikan.

Setiap hari ada saja orang yang datang ke rumah, anehnya biasanya musiman, aku hanya yakin semua diatur oleh Alloh, jika lagi musim urusan rumah tangga, perceraian, masalah perkawinan, anehnya selalu yang datang soal rumah tangga, jika lagi musim soal penyakit dalam, anehnya juga orang yang datang soal penyakit dalam, dan jika yang datang soal santet, atau penyakit kiriman orang, maka anehnya yang datang selalu soal santet, mungkin jika ku ceritakan semua maka tak akan habis waktu bercerita, mengingat sangat beragamnya orang yang datang kepadaku, entah tak tau mereka bisa tau dari mana, aku tak pernah menanyakan satu persatu.

Seperti pagi itu datang seorang wanita muda, aku biasanya kalau pagi tidur, bangun jam 10 pagi, sebab biasanya kalau malam tak tidur sampai pagi, kebiasaan di pesantren kalau malam tak tidur, sampai setelah sholat subuh baru tidur.

“Ada apa mbak?” tanyaku dengan mata masih perih.

“Ngganggu tidurnya ya mas?” tanya perempuan yang ku kira umurnya 25 tahun. “Anu saya mau minta tolong.” kata perempuan itu yang ku tanya bernama Harni.

“Minta tolong apa mbak?” tanyaku.

“Ini mas, saya didiagnosis dokter katanya saya mengidap kista, dan saya diharuskan operasi,”

“La kenapa tak operasi saja mbak? Kalau memang dokter menyarankan begitu.”

“Ya kalau bisa jangan operasi lah mas…, kalau andai bisa saya bisa sembuh dengan tanpa operasi.”

“Saya sendiri tak tau mbak soal penyakit kista, kayak apa itu, tapi kalau mbak ini ku lihat seperti ada yang tak beres.”

“Ndak beres bagaimana mas?”

“Mbak berapa kali nikah?” tanyaku.

“Dua kali mas.”

“Ada masalah dengan suami pertama ya? Maksudku perceraiannya ada masalah?”

“Iya mas…”

“Soalnya ada penyakit lain selain penyakit kista tersebut, dan penyakit itu ada hubungannya dengan perbuatan orang.”

“Iya mas, penyakitku ini sebenarnya sudah 6 tahunan, dan sudah ku obatkan kemana-mana, tapi tak ada hasilnya, tetap saja, aku sakit, malah pernah aku sama sekali tak bisa bergerak,”

“Coba mbak Harni ceritakan dengan agak mendetail, soal urusan dengan suami pertama.” kataku.

“Kami bercerai karena suamiku itu suka main judi dan menghasilkan uang dari usahaku membuka warung makan, sehingga aku bangkrut, maka aku minta cerai, tapi walau sudah cerai suamiku itu masih suka berusaha merayuku, dan sampai aku akan menikah dengan suamiku yang sekarang, bekas suamiku itu mengancamku, akan menjadikanku tak bisa bahagia, karena menikah lagi, pernah suatu kali ada bola api yang menghantam teko sampai hancur berkeping-keping, aku yang kaget, mengira apa gitu, dan segera ku anggap lalu, tapi sejak saat itu aku sakit-sakitan.”

“Hm… begitu, nanti ku kasih pagar diri dan rumah, semoga santet tak bisa membahayakan lagi, dan soal penyakitnya nanti ku kasih air, diminum setelah bangun tidur, dan sebelum tidur, nanti jangan lupa mengabari perkembangan selanjutnya.”

“Iya makasih mas…” kata Harni.

——————————————-

Esoknya Harni nelpon,

“Mas tadi pagi kok aku kencing isinya lendir banyak sekali, kayak nanah, dan ingus, tapi banyak sekali, apa tak apa-apa?” tanya Harni.

“La sekarang bagaimana?”

“Sekarang tubuh enteng dan enak.”

“Moga saja sembuh penyakitnya.” kataku.

——————————————-

Seminggu kemudian Harni nelpon lagi.

“Ada apa?” tanyaku.

“Anu mas tadi ada orang datang ke rumah saya, dia berkata, pagarmu ini dari mana, ku santet kok gak tembus-tembus,”

“Ya aku jawab, pagar apa? dan dia pergi begitu saja, aku jadi takut.”

“Tak apa-apa, biarkan saja, usaha saja seperti biasa, kalau ada apa-apa jangan lupa memberi kabar.” kataku, dan sejak saat itu Harni tak memberi kabar lagi. Pernah datang ke rumah sekali dan mengucapkan terima kasih.

Setelah sholat isya’, seorang lelaki berjaket kulit datang bertamu, biasanya aku santai setelah sholat isya’ kadang duduk di teras, sambil melihat orang lewat.

“Ada keperluan apa mas?” tanyaku pada orang tersebut, setelah ku persilahkan duduk, yang ku taksir umurnya 45 tahun.

“Ini pak kyai… saya sakit.” kata orang itu yang bernama Munawar.

“Sakit apa mas? ” tanyaku.

“Sakit saya ini ya kalau kata dokter macem-macem mas, ada jantung, ginjal, asma, dan saya sudah berulang kali operasi.” kata lelaki itu sambil membuka jaket kulitnya dan memperlihatkan bekas bedah, di sana-sini.

“Tapi saya sudah dioperasi berulang kali kayak begini tapi tak juga sembuh mas, sudah sepuluh tahun tak bisa kerja, dilihat dari luar kelihatan sehat, padahal saya amat sakit dan sering tak kuasa apa-apa, saya sampai dibenci anak istri, mengiranya penyakit saya ini saya pura-pura, dan sawah ladang sudah habis saya jual untuk berobat.”

“Coba angkat tapak kakinya,” kataku sambil melihat tapak kakinya yang diangkat dan ku lihat tapak kakinya mengembung.

“Coba tapak tangannya lihat.” kataku dan ku lihat tapak tangannya juga mengembung.

“Perutnya selalu terasa penuh ya?”

“Iya mas kyai, perut saya terus terasa penuh.” jawabnya.

“Ya diedel-edel dokter percuma saja, kamu itu terkena santet angin, atau hawa, jadi hawa yang dikirim seseorang, berupa angin atau hawa, biasanya sulit dideteksi, karena berupa angin.”

“Jadi ini bikinan orang?” tanyanya.

“Ya kan udah bisa dilihat, tapi ndak perlu curiga pada siapa saja, yang penting penyakitnya sembuh saja.”

“Iya mas kyai.”

“Pernah diobatkan ke orang pinter?”

“Wah kalau itu sudah kemana saya dengar orang ada bisa ngobati pasti saya datangi, tapi ya itu tak ada hasilnya apa-apa.”

“Ini nanti saya kasih air, untuk mandi dan diminum, air lagi untuk dipelkan di seluruh rumah, ingat di seluruh rumah, lalu nanti aku kasih empat batu untuk ditanam di empat tempat pojok rumah, ingat nanam batunya setelah selesai mengepel seluruh rumah, ingat kan caranya, mandi dulu, lalu ngepel, lalu menanam batu, itu lakukan berurutan.” jelasku pelan-pelan.

“Iya mas kyai akan saya ingat.” jawabnya. Lalu dia pun pamit pulang.

——————————————-

Dua hari kemudian Munawar menghubungiku lewat Hp.

“Ada apa Mas?” tanyaku.

“Ini Mas kyai waktu mengepel rumah, saya lupa kamar mandi tidak saya pel, dan ini kok ada yang aneh.” suara Munawar kedengaran ketakutan.

“Aneh bagaimana?” tanyaku.

“Istri saya cerita, kalau mandi di kamar mandi kok kayak ada yang memegangi gayungnya, awalnya saya tak percaya, la malah saya mengalami sendiri, gayung saya waktu mau nuang air di kepala kayak ada yang memegangi, kami serumah jadi takut kalau ke kamar mandi.”

“Wah itu jin yang terjebak di kamar mandi, kan kalau kena air pel-pelan itu dia kepanasan, jadi mundur, maksudku di-pel semua, jadi kalau ada jin dan keluar rumah, nah baru dipagar pakai batu, agar jinnya tidak kembali ke rumah, ya ndak papa nanti ku buangnya.” jawabku.

“Ya kapan buangnya mas kyai, soalnya kami semua jadi gak mandi ini, karena ketakutan.” kata Munawar.

“Ya nanti malam saya buang.” kataku.

“Makasih sebelumnya mas Kyai, jadi ngerepotin.”

“Ya tak apa-apa, lalu bagaimana penyakitnya mas Munawar sendiri.”

“Alhamdulillah ini sudah enakan, juga sudah mulai kerja.”

“Syukur kalau begitu.”

“Tapi ini mau ngerepotin lagi, ada teman saya yang juga mau berobat, bagaimana kalau saya ajak teman saya kesana, apa mas kyai ada waktu?”

“Ada, ada waktu, tapi nanti selepas isya’ aja ya datangnya.”

“Iya nanti saya kesana, selepas isya.” jawab Munawar.

Sore hari seorang perempuan seumuran 40 tahunan datang kerumah dengan kepala diikat handuk. Perempuan itu terus mengaduh-aduh tiada henti, suaranya ribut, bicara dengan istriku. Lalu istriku memanggilku,

“Bah… itu ada bu Sundasih mau minta tolong.” kata Husna.

Aku keluar kamar menemui.

“Ada keperluan apa bu?” tanyaku.

“Aduuh maas…, saya mau minta tolong, aduuh.. sakitnya kepalaku rasanya mau pecah, nafas sesak, aku ini sakit apa to…” kata bu Sundasih merintih-rintih. Ku lihat aura sangat jahat melingkupi tubuh bu Sundasih.

Sakit bu Sundasih ini sudah ada lima belas tahunan, dan berulang kali dia dibawa ke dokter, sampai habis uang berjuta-juta, katanya sih tumor otak, tapi di dokter lain, dibilang kanker kelenjar, lalu di dokter lain beda lagi penyakitnya, sampai setiap dibawa ke rumah sakit akan beda penyakit yang di temukan, membuat yang sakit sendiri sampai kebingungan sebenarnya dia sakit apa? Beda menurut dokter, beda lagi menurut dukun, ada yang bilang sakitnya karena diguna-guna, ada yang bilang karena kena santet, ada yang bilang karena kuwalat kepada lelakinya, ada yang bilang karena pernah menabrak ular di jalan, dan di kepalanya ada ularnya, ada juga yang bilang karena kuwalat dengan benda pusaka.

Namanya juga manusia boleh saja membuat perkiraan, dan sah-sah saja perkiraan apapun.

Dan anehnya orang yang mengobati dengan membuat prediksi sendiri itu ada bukti nyatanya, contoh Sundasih pernah berobat pada seorang dukun wanita tua, oleh dukun itu dikatakan kalau di kepala Sundasih ada banyak ular kecil, karena menurut dukun itu Sundasih pernah menabrak ular jin, dan mati tak dikubur, sehingga menurut dukun itu, bapaknya jin marah dan menanam telur ular di kepala Sundasih, dan telur itu telah menetas menjadi ular kecil-kecil yang mengeram di kepala Sundasih, dukun itupun menempelkan telur ayam katanya untuk menyedot ular yang ada di kepala Sundasih, dan telur dipecah, di dalam telur banyak ditemukan ular kecil-kecil yang masih hidup menggeliat geliat.

Entah sihir atau apa, tapi sakit Sundasih tak juga sembuh. Dibawa ke dokter, katanya kangker kelenjar, dokter menyarankan disinar, dan Sundasih pun disinar, beberapa juta biaya dikeluarkan, tapi penyakitnya tetap utuh.

Di bawa lagi ke seorang dukun dari Batang, kata si dukun terkena sengkalanya keris dan peninggalan ayahnya suaminya Sundasih, semua keris dan pedang disuruh mengeluarkan oleh dukun itu untuk diruwat dan dibersihkan, tapi si dukun malah muntah darah dan pulang digotong, lalu memanggil gurunya, dan gurunya juga merasa tak sanggup, sudah sepuluh tahun Sundasih sakit dan sudah berganti dukun, dokter, bahkan dibawa ke tempat Gus Muh yang di tivi tapi tetap saja tak ada hasilnya.

Cuma kekurangan Sundasih suka berganti-ganti lelaki untuk dijadikan pacar, walau dia sendiri sudah bersuami.

“Aku ini mbok ya dido’akan to ustad biar sembuh…” kata Sundasih kelihatan wajahnya menahan rasa sakit.

“Boleh aku do’akan, tapi aku punya syarat.” kataku.

“Syaratnya apa?”

“Syaratnya sampean harus taubat.”

“Mbok sarat laen to mas kyai..” kata Sundasih.

“Syaratku cuma itu.”

“Tak kasih uang saja ya, sampean minta berapa?”

“Tidak bu… Alloh memberi penyakit, dan mengijinkan penyakit apapun menyerang manusia itu, agar manusia sadar, diingatkan agar mendekatkan diri pada Alloh, jadi syaratku cuma itu, sampean mau taubat, saya do’akan, insaAlloh langsung sembuh.”

“Ya kalau begitu saya minta diri…,” kata Sundasih.

“Silahkan…” kataku, melihat Sundasih berlalu, dan aku hanya geleng-geleng kepala.

Kembali Sundasih mengundang dukun, dan dibacakan yasin sampai ratusan kali oleh dukun itu, juga dibakarkan menyan, tapi tetap saja sakitnya tak sembuh.

Sundasih seminggu kemudian datang lagi ke rumahku.

“Bagaimana bu…, mau memenuhi syarat saya?” tanyaku melihat Sundasih sampai menekuk-nekuk tubuhnya menahan sakit, dia sudah tak kuasa menjawab, suaranya tak keluar, dan dia manggut.

Ku ambil air mineral, lalu ku tiup dengan do’a, dan ku serahkan.

“Ini diminum, dan dipakai mandi sebagian,” kataku dan menjelaskan mandi taubat, yang harus dilakukan. Lalu Sundasih minta diri.

Malamnya dia datang lagi.

“Bagaimana bu, sudah enakan?” tanyaku.

“Sudah mas kyai…, saya malah sudah bisa sholat, asalnya ku pakai rukuk dan sujud badanku sulit ditekuk, tapi kok kepalaku masih sakit.” kata Sundasih, “Kalau sesak nafas, nyeri di seluruh tubuh sudah tak ada, tapi kepalaku kok masih sakit.”

“Hm… ooo bu Sundasih ini memakai susuk ya?”

“Iya… dulu disuruh kyai Askan.”

“Pasang susuk itu kan dilaknat Alloh, ya pantesan kalau penyakitnya di kepala tak mau hilang, karena ada susuk di wajah, pipi, bibir, wah.. wah… kalau tak dilepas ya tetap saja penyakitnya tak hilang, susuk itu harus dibuang, siapa yang memasang?” tanyaku.

“Dulu orang dari Magelang.” jawab Sundasih.

“Ya sekarang minta dia melepaskan susuk itu.” kataku.

“Ya kalau orangnya tak ada, apa jenengan tak bisa melepas susuk ini mas kyai..?” tanya Sundasih.

“Ya aku insaAlloh bisa, tapi itu bukan tanggung jawabku, sampean harus berusaha sendiri.”

“Baik besok saya akan mencari rumah tempat prakteknya di Pekalongan.” kata Sundasih.

———————————-

  1. 22 Oktober 2012 pukul 3:25 pm

    mbak ini kisah nyata semua? Termasuk yang punya anak itu???

    • Erwin
      22 Oktober 2012 pukul 3:44 pm

      iya mbak.🙂

  2. heryadi
    9 Mei 2013 pukul 7:10 pm

    Assalamualaikum wr.wb maaf mas minta alamat di pekalongan .terima kasih

    • Erwin
      10 Mei 2013 pukul 1:42 am

      waalaikumsalam wr. wb.
      silahkan add FB beliau: Majlis Bligo

  3. taufik msq
    2 Agustus 2013 pukul 4:14 am

    subhannallah allahu akbar salam sejahtera,,maaf mas saya hanya belajar membaca dan memahami pelajaran hidup, dari pengalaman mas yg sungguh banyak hikmah yg saya petik ,,salam sejaterah selalu kepada kita semua semoga Allah selalu memberikan rahmat dan hidayah bagi kita semua aminn ya robbal alamin.

  4. 24 Maret 2015 pukul 3:59 pm

    gimana caranya sekarang untuk menghubungi pa kyai,soalnya fbnya ga aktif,,makasih

  5. 5 Oktober 2015 pukul 12:17 pm

    SubhanAlloh,semua serba kebetulan saya bisa belajar dr tulisan tersebut Mas.Tks,Wass

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s