Beranda > sang kyai > Sang Kyai 50

Sang Kyai 50

“Harapan dan angan-angan itu sangat berbeda sekali, harapan itu selalu dari sisi kebenaran dan akherat atau Alloh, tapi kalau angan-angan atau hayalan itu dari sisi dosa, dan dunia, contoh seseorang tak akan menyukai istri orang lain, itu namanya khayalan, kemudian dibawa hayalan itu di pikiran dipupuk dengan aneka gambar nafsu, tapi jika kemudian hayalan itu dibuktikan atau diusung kepada kenyataan maka akan bernama perselingkuhan, zina, padahal apa yang di kenyataannya tak enak, itu kalau diangan-angankan akan seakan-akan nikmat sekali, seperti orang ingin bakso, tapi baru habis 1 mangkok sudah lantas tak mau lagi, padahal semalaman tak bisa tidur karena menghayalkan dan menginginkan bakso itu dibayangkan dimakan segigit demi segigit, tapi setelah dirasakannya nikmatnya tak seberapa.”

“Sebaliknya harapan itu selalu berhubungan dengan akherat, atau perbuatan mulia, atau ridho Alloh, misal seseorang tak akan menyukai atau berharap agar orang yang sudah punya suami itu menjadi miliknya, sebab memang bukan miliknya, dan bukan haknya, antara harapan dan angan-angan itu sama-sama belum terjadi, tapi secara prakteknya dan jalur keluarnya beda. Walau secara bentuk tempat keluar sama dalam artian seperti dua paralon, satu mengeluarkan limbah, dan satu mengeluarkan air bersih.”

“Jadi orang yang menyukai saya itu tak benar kyai?” kata Dewi.

“Ya, dan lebih baik dihindari.”

“Lalu bagaimana solusi anak saya dengan suaminya kyai?” tanya ibunya Dewi.

“Itu suaminya berapa kali sebulan pulang ke rumah?” tanyaku.

“Biasanya sebulan datang sekali, itu juga tak menyentuh saya sama sekali, hanya sama anak-anak.” jawab Dewi.

“Apa mungkin dia punya penyakit?” tanyaku lagi.

“Iya itu yang selalu dijadikan alasan kenapa dia tak mau menyentuh saya.” jelas Dewi

“Lalu penyakitnya apa?”

“Dia punya penyakit di rusuknya, kalau kambuh ya katanya nyeri sekali, sudah diobatkan kemana-mana kyai, tapi sampai sekarang malah makin parah saja.”

“Begini saja nanti kalau suaminya pulang, dibawa kesini saja, biar aku bicara sama dia.”

“Dia seorang insinyur kyai, sepertinya akan susah bicara dengannya, dia selalu mengutamakan logika.” jelas Dewi.

“Iya tak apa-apa, bawa saja dia kemari.”

“Baik kyai kalau begitu nanti akan saya bawa ke sini, kami minta diri saja.” kata Dewi.

———————–

Seminggu kemudian Dewi datang lagi membawa suaminya, seorang pemuda yang berkulit kuning, tinggi sedang, di wajahnya ada sedikit keangkuhan, aku juga tak heran jika seseorang bekerja sebagai seorang manager sebuah perusahaan besar, itu biarlah menjadi pembawaannya, dia mengenalkan diri bernama Suryo Wisanggeni, nama yang aneh menurut penilaianku, mengingat nama adalah do’a setiap kita memanggil orang yang mempunyai nama indah, maka akan seperti mendo’akan orang yang kita panggil.

Aku sebelumnya telah memberitahu Dewi agar suaminya dibawa ke rumahku dengan alasan mau diobatkan penyakit di rusuknya yang nyeri, yang menurut Dewi bahwa penyakit itu telah dibawa berobat ke dokter atau ke shinse, atau paranormal terkenal, tapi tak juga sembuh.

Ketika Suryo menatapku, aku melihat pancaran keraguan di wajahnya, sebab aku memang selalu terlihat kecil tak berdaya.

“Sakitnya apa mas?” tanyaku ku tujukan pada Suryo.

“Aku sakit di rusuk sebelah kiri.” kata Suryo.

“Lalu sudah diobatkan di mana saja?” tanyaku.

“Ah sudah pegel aku nyari obatnya mas.”

“Apa sama sekali tak ada perubahan?” tanyaku.

“Sama sekali tak ada mas, tapi ada satu yang menjadikanku agak enak, yaitu minum darah ular kobra, maka beberapa hari sakitku seperti hilang, tapi seminggu kemudian aku sakit lagi, lalu aku konsumsi darah ular kobra lagi, maka sakitku pun mendingan lagi, dan seminggu kemudian sakit lagi, dan mulai ku hentikan, ketika di tubuhku banyak timbul benjolan-benjolan,” kata Suryo sambil menunjukkan benjolan di lengan, pundak, punggung, dan di bagian tubuh yang lain.

“Apapun walau pengobatan sekalipun kok itu dari hal yang diharamkan Alloh, maka pasti ada akibat buruknya, dan juga ada akibat baiknya, tapi akibat buruknya lebih mendominasi.”

“Lalu penyakitku ini bisa diobati tidak?”

“Ya semua penyakit bisa diobati. Cuma kadang suatu penyakit itu harus didiagnosa dulu, agar penyebab penyakit bisa diketahui, dan solusi obat bisa ditepatkan dalam mengobati, jadi tak asal, kalau asal saja mengobati ya tak akan sembuh, karena penyebab penyakit tak dipotong akarnya.”

“Memangnya bisa didiagnosa.” tanya Suryo ragu.

“Mendiagnosa penyakit sebenarnya gampang-gampang susah, begini saja, kalau menurutku segala penyakit itu pemberian Alloh, kadang dengan maksud menegur, seperti kenapa sampean penyakitnya di rusuk, kenapa tidak di mata, atau di jempol, atau di tempat lain? Kenapa di rusuk? Sampean mestinya orang cerdas, wong sekolahnya tinggi, la saya malah ndak pernah sekolah.”

“Maaf, apa bisa penjelasannya tidak muter-muter?” kata Suryo.

“Begini, manusia itu kan diciptakan Alloh, itu mau diakui atau tidak diakui, manusia itu tetap penciptanya adalah Alloh, juga segala pengaturan hidupnya itu di bawah cengkeraman Alloh, bahkan orang yang Alloh kehendaki mati, ya pasti mati, sekalipun dia lari bersembunyi di lubang semut sekalipun, maka akan tetap nyawanya bisa dicabut oleh malaikat maut, juga Alloh memberikan penyakit di tempat-tempat tertentu, agar kita sadar isyarat yang Alloh berikan lewat penyakit itu, namanya membaca khalil akhwal, membaca kehendak Alloh mencangkup segala kejadian itu ada maksudnya, seperti penyakit sampean yang kenapa diletakkan di rusuk, kenapa rusuk yang sakit? kenapa tidak di tempat lain? padahal bisa saja sakit di tempat lain, karena wanita itu diciptakan dari rusuk lelaki, dan jika seorang suami itu mendzolimi istrinya, maka akan diletakkan penyakit di rusuk lelaki itu agar suami menyadari kekeliruannya, iya bisa saja jika diobatkan penyakit itu akan sembuh, tapi jika suami tak mau menyadari kekeliruannya, dan meminta maaf pada istrinya, maka dijamin penyakit itu akan datang-datang lagi, sebab akar permasalahannya penyakit tidak berusaha diselesaikan, obat ampuh seharga jutaan bahkan trilyunan apa bisa mengalahkan kehendak Alloh?”

“Iya memang kalau dipikir-pikir memang masuk akal.” jawab Suryo.

“Ya sekarang dihubungkan pada kenyataannya, apa yang ku katakan itu benar apa tidak?” tanyaku.

“Iya memang benar mas.”

“Nah sekarang mas Suryo ini pengen sembuh atau tak pengen sembuh?” tanyaku.

“Iya saya pengen sembuh.” jawabnya.

“Kan mudah, tinggal minta maaf sama istri, lalu nanti soal kesembuhan biar ku do’akan, bagaimana? Nanti dilihat sembuh apa tidak? Kan bisa dibuktikan. Bagaimana? Ingat meminta maafnya yang tulus, dari lubuk hati terdalam, dan jika kembali mendzolimi istri, ya saya sendiri tak bisa menjamin jika penyakitnya tak kembali lagi, nah sekarang ku tinggal sama istri, silahkan saling mema’afkan.” kataku lalu berdiri dari kursi dan membiarkan dua orang itu mencurahkan hatinya.

Seperempat jam kembali aku ke ruang tamu, dan kedua orang itu saling berpelukan dan saling mengakui kesalahan.

“Ehmm..!, bagaimana mas Suryo? Sudah minta ma’afnya?”

“Sudah mas..” kata Suryo dengan air mata masih berlinang.

“Sudah yang lalu jangan diungkit-ungkit, sekarang mulai membuka lembaran baru, saling terbuka sesama suami istri, bagaimana rasa sakit di rusuknya mas?” tanyaku.

“Alhamdulillah sudah enakan mas…,”

“Ingat jangan lagi mendzolimi istri, jadilah pasangan yang saling melengkapi, saling terbuka dan saling mengerti, dunia kalian berdua, adalah dunia kalian berdua, buatlah dunia kalian berdua senyaman dan sebahagia sesuai yang kalian harapkan,”

“Kami sangat berterima kasih mas, dan kami tak bisa membalas dengan apapun yang lebih berharga dari apa yang mas lakukan pada kami berdua,” kata Suryo.

“Bagiku kalian saling rukun dan saling sabar menghadapi cobaan hidup, itu lebih dari cukup, sehingga tak bertambah lagi anak yang menjadi tersia-sia, kurang perawatan dan perhatian, karena orang tuanya berpisah, lalu anak tak mendapat kasih sayang, lalu tentu saja akan mempengaruhi kejiwaannya, yang pada akhirnya akan menyusahkan orang lain.” jelasku.

——————————————-

Beberapa hari kemudian Dewi dan Suryo datang dengan kedua anaknya, ku lihat mereka sudah rukun.

“Kedatangan kami ke sini, yang pertama mau mengucapkan terima kasih, dan yang kedua kok waktu air dari kyai itu kami pel kan rumah, kok kedua anak kami sakit panas sehari, itu kenapa kyai?”

“Wah aku juga ndak tau, aku tidak semua tau, tapi itu biasanya, jin yang ada di rumah membuat serangan karena mereka merasa diusir.”

“Jadi tak masalah kyai?”

“Tak apa-apa, la sekarang rumah kalian rasanya bagaimana?”

“Alhamdulillah rasanya tentram kyai.”

“Ya itu sudah bagus, segala sesuatu itu yang penting hasilnya, bagaimanapun cara, itu hanya cara, semua tergantung hasilnya baik, atau tak baik, jadi jangan takjub dengan cara aneh-aneh untuk menyelesaikan masalah, jika hasilnya tak baik juga untuk apa perlunya cara yang aneh.” jelasku.

“Iya kyai kami mengerti.”

“Lalu bagaimana penyakitnya mas Suryo?” tanyaku.

“Alhamdulillah sudah baikan mas, juga benjolan-benjolannya kok sudah kempes.”

“Syukur kalau begitu, tapi ingat sama istrinya yang baik.”

“InsaAlloh mas… do’anya, semoga saya tak mudah lagi tergoda..”

“Ya harus dari kemauan diri juga mas, misalkan mau nikah lagi lakukan dengan cara yang benar, ijin istri, kalau istri tak mengijinkan ya jangan maksa. Wong semua wanita itu rasanya sama, seperti makanan kalau sudah masuk perut, mahal atau murah di perut tiada beda, yang membedakan wanita itu kesolihannya, jika sholekhah ya akan menjadi penerang rumah tangga, jika ditinggal maka akan menjaga harta dan kehormatannya, selalu membantu suami seperti tangan satu dengan tangan lainnya, tangan satu memakai jam tangan, tangan lainnya memakaikan, tak masalah tangan lain itu tidak ikut dilingkari jam, sebab kehormatannya sudah terbawa oleh tangan satunya, istri yang solekhah juga penentu mutu anak nanti akankah menjadi anak yang kasar atau anak yang lemah lembut, penuh kasih, jika sang ibu suka membentak, maka akan mempengaruhi detak jantung anak, jadi anak akan lebih cepat detak jantungnya, dan akan lebih cepat pemompaan darahnya, secara otomatis anak akan menjadi kayak motor ngebut, apa-apa serba ingin buru-buru, apa-apa ingin cepat selesai, tapi jika ibu itu lemah lembut, mengutamakan pengertian, menasehati dari hati ke hati, maka anak juga akan dewasa berpikir, penuh perhitungan, menjalankan segala sesuatu dengan kehati-hatian. Ayah ibu yang suka cekcok, mendahulukan ego, saling pengen menang sendiri, sering banting pintu, maka akan menjadikan anak juga suka menang sendiri, jadi pelajaran dalam keluarga itu akan menjadikan anak nantinya akan menjadi seorang garong, atau seorang yang berjiwa lemah lembut, dulu ibuku semasa aku kecil, suka menceritakan, kisah para sufi, kisah para ulama’ besar, seperti kisah syaikh Abdul qodir jailani, atau syaikh Abu khasan Assadzili, atau Robi’ah adawiyah, ketika aku mau tidur, itu sangat mempengaruhi kejiwaan anak, sehingga tidak matrialis, tidak tamak, rakus, loba, dan akan dengan sendirinya terpatri dalam ingatan, lalu perlahan menjadi suritauladan yang harus dianut, dan menjadikan anak punya pikiran yang dewasa, maka itu dibiasakan, apalagi di jaman ini berbagai tontonan yang tak mendidik mudah sekali diikuti oleh anak, dan gaya-gayaan, hanya karena mengikuti teman-temannya, ujung-ujungnya kerusakan.”

“Makasih kata petuahnya pak.”

“Ya sama-sama, ini juga menasehatiku.”

Kedua orang itupun pulang, sedikit mungkin yang aku beri, tapi dalam hatiku, aku tak akan berhenti untuk berbuat baik untuk orang lain, bukan karena aku merasa pintar, tapi aku merasa jika aku mengandalkan amalku sendiri, maka aku sama sekali tak punya amal ibadah apa-apa, karena aku merasa belum ikhlas dalam beramal, dan masih jauh dari akan diterima Alloh, kalau aku tak menanam modal amal dengan mengajak orang lain menjadi baik, maka aku akan mati dalam kerugian yang nyata.

Di manapun, kapanpun, bagiku tak ada kata berhenti, untuk mengajak pada kebaikan, agar aku bisa menanam modal amal pada orang yang ku ajak, soal merela mau atau tidak mau itu bukan lagi urusanku, tapi kuasa Alloh, aku hanya melaksanakan perintah Alloh “wa’mur bil urfi, wanha ‘anil mungkar” perintah kebaikan dan cegah perbuatan merusak, tak perlu dengan kekerasan, tapi dengan kasih sayang, dengan kelembutan, dengan bukti nyata kebenaran itu adalah mendamaikan, dan keburukan itu merusak, dengan alasan apapun, merusak itu tak benar, dan mengajak orang lain dengan membakar, merusak, menghancurkan, dengan kemarahan, sama sekali tak akan diikuti, malah orang akan antipati, dan benci, aku hanya ingin menjadi air bening, yang tak menyembunyikan batu di dasar sungai, semua wajar, batu terlihat jelas, orang yang melihat, tak rela jika tak meminum airnya, dan merasakan kesegaran merambati tenggorokan, dan orang yang telah minum akan merasa ingin mencuci muka, dan orang yang mencuci muka akan berhasrat untuk mandi.

  1. dhani kusuma tanda tanya
    14 September 2013 pukul 11:41 am

    Alhamdulillah maturnuwun guru.terus nyimak

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s