Beranda > sang kyai > Sang Kyai 69

Sang Kyai 69

Sekali lagi saya tekankan, apa yang saya tulis ini hanya kejadian biasa, dan bisa saja terjadi pada siapa saja, saya menulis ini juga bukan bertujuan mencari popularitas, sebab saya sendiri tiap hari sudah sibuk mengobati pasien, dan membantu menyelesaikan banyak orang yang minta bantuan, di samping wira wiri Pandeglang, Jepara, Pekalongan, untuk memimpin dzikir, jadi ini sekedar pengalaman yang ku alami, bukan untuk dipercaya kejadiannya, sebab yang kita alami, belum tentu dialami orang lain, jadi jika tak percaya itu wajar, jika tidak percaya juga sebaiknya tidak komentar, sebab ini hanya kejadian, kejadian yang siapa saja bisa mengalami, atau siapa saja mungkin tak mengalami, namanya juga taqdir Allah, setiap orang ditaqdirkan berbeda kejadian perjalanan hidupnya.

Seperti seorang badui yang pergi ke kota, yang asalnya tak pernah sama sekali pergi ke kota, yang hidupnya di tengah hutan, juga teman-temannya tak tau akan kemajuan zaman, ketika si badui kembali ke hutan dan bercerita pada teman-temannya, teman-temannya menganggapnya aneh, padahal dia hanya cerita soal mobil, jalan raya, sepeda, tv, dan apa saja yang ada di kota, yang di pandangan orang kota itu hal yang sangat biasa, tapi bagi orang badui, malah ada yang bilang, “Kau bunuh aku , aku tetap tak percaya dengan ceritamu, sejak kau keluar dari tanah badui, sekarang bicaramu makin ngawur dan kau dijangkiti pernyakit gila, suka menghayal dan berbuat yang aneh-aneh, kalau mandi makai sabun, kalau mau tidur memakai alat yang mengeluarkan buih, kau sudah melanggar kebiasaan nenek moyang kita.” padahal yang diceritakan badui yang baru pulang dari kota itu hal yang biasa dan ada terjadi di keseharian di kota, bukan hal aneh, dan ada nyatanya, tapi bagi badui yang tak pernah ke kota hal itu jadi di jadikan alasan menuduh kalau badui itu mulai terjangkit penyakit gila.

Makanya saya sadar, sesadar sadarnya, kalau yang saya tulis nantinya juga tak selalu dipercaya, dan sekali lagi bagi para pembaca, tulisanku ini bukan untuk dipercaya, malah silahkan saja siapa saja menulis pengalaman pribadinya sendiri, syukur banyak yang mau membaca, jadi jangan mengirimkan pesan padaku, seakan kepercayaannya ku butuhkan, jangan merasa jadi orang penting, lantas mengirimkan pesan, “Aku tak percaya dengan tulisan mas di kisah sang kyai.”

Jika orangnya masih mengirim itu, ya berarti dia bodoh, ndak bisa baca sebenarnya, karena sudah ku bilang berulang kali bahwa ceritaku ini bukan untuk dipercaya kejadiannya. Karena ini hanya pengalamanku saja, bahkan orang yang bareng-bareng denganku saja yang mengalami bareng denganku dengan mata kepalanya sendiri saja belum tentu percaya, apalagi orang lain, istriku saja sering mengatakan, “kok kayak hayalan saja ya?”

Tulisan yang ku tulis ini akan banyak kejadian soal jin, jadi sekali lagi ku tekankan, sebaiknya jangan percaya, daripada mumet, karena membaca kisahku, jadikan saja bacaan ringan. Kalau mumet, hentikan membaca.

Setelah sekerajaan jin masuk Islam dan menjadi muridku, akhirnya banyak kejadian yang bertubi-tubi, kejadian yang awalnya tak terungkap, akhirnya terungkap, kejadian yang sebelumnya aku sama sekali tak memikirkan bahkan tak terlintas dalam pkiranku, akhirnya terbuka. Dan memahami, saya sendiri tak seratus persen mempercayai, karena sebenarnya juga aku tak mengerti dengan benar dunia jin, dan dunia yang gaib, yang kadang kita sangka hijau bisa jadi biru, kita sangka putih ternyata hitam.

Awalnya ratu jin, sebagai pemimpin jin mulai akrab denganku, dan dia siap dipanggil kalau aku ingin memerintahnya, dia dan anak buahnya siap diperintah, aku seperti punya mainan baru, walau tak percaya seratus persen, setidaknya ada bayang-bayang jawaban dari hal yang sebelumnya tak ku mengerti, awalnya ku tes ratu mendeteksi penyakit, dan metode paling simpel mengobatinya, ku cermati, bagaimana dia mendeteksi, ternyata dia masih memakai ilmu hikmah, juga mengobati penyakit masih memakai ilmu hikmah, lalu aku memerintahkan agar dia belajar menjalankan amaliyah thoreqoh, yang bersifah maunah, atau pertolongan Allah, bukan bentuk ilmu hikmah, ku contohkan pada ketika para panglima dan raja , suaminya ratu mau menyerangku dengan ilmu hikmah mereka, mereka semua gagal, alhamdulillah dia mau ku ajari dzikir dengan detail, juga semua prajurit jin yang sebanyak 30 ribu kemudian menjalankan dzikir dan sholat berjamaah, dan dia menceritakan setelah menjalankan dzikir yang ku berikan, tubuh mereka bercahaya, dan serasa tenang, juga raja dan semua pasukannya mengucapkan terimakasih, dan makin ingin mengabdi padaku selamanya, ya pelan-pelan ku didik, dan ku ajari ngaji, khususnya soal membersihkan hati dan ruhani menjadi punya watak terpuji.

Apa yang ku lakukan hanya mencoba meniru apa yang dilakukan Rosulullah SAW, ya setidaknya sedikit meniru, Firman Allah SWT : “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Surah az-Zariyaat, ayat 56) Demikian penegasan Allah dalam al-Quran tentang tujuan-Nya menciptakan jin dan manusia, yaitu semata-mata untuk beribadah kepada Allah Yang Maha Esa.

Golongan jin dan manusia terbagi dua, yaitu Islam dan kafir.

Jin menyatakan keIslaman mereka yang dijelaskan dalam al-Quran surah Jin artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad): Sudah diwahyukan kepadaku, bahwa sesungguhnya satu rombongan jin sudah mendengar (al-Quran yang aku bacakan), lalu mereka (menyampaikan hal itu kepada kaumnya dengan ) mengatakan: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang susunan (ayatnya) dan menakjubkan. Kitab yang memberi petunjuk ke jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya dan kami tidak sekali-kali akan mempersekutukan sesuatu makhluk dengan Tuhan kami.” (Surah Jin, ayat 1-2)

Peristiwa ini terjadi ketika Rasulullah SAW bersama sahabat sedang melaksanakan shalat Subuh. Ketika itu beliau membaca surah ar-Rahman, ayat 1-78. Dalam surah ar-Rahman ini ada beberapa ayat yang bermaksud: “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah kamu dustakan?”

Ketika ayat ini dibacakan, jin yang hadir saat itu langsung menjawabnya dengan kalimat: “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami tidak mendustakan nikmat-Mu sedikit pun. Segala pujian hanya bagi-Mu yang telah memberikan nikmat zahir dan batin kepada kami.”

Ibnu Masud menyatakan bahwa ia turut menyaksikan malam turunnya ayat Jin ini.

Rasulullah SAW bersabda: “Aku didatangi juru dakwah dari kalangan jin. Lalu kami pergi bersamanya dan aku bacakan al-Quran kepada mereka.”

Peristiwa ini terjadi di sebuah masjid yang terletak di Kampung Ma’ala, tidak jauh dari pekuburan kaum Muslim di kota Makkah. Kini masjid itu bernama Masjid al-Jin atau Masjid al-Bai’ah atau juga Masjid al-Haras. Itu diperbaiki kembali pada 1421 hijrah. Di sini jin berbai’ah atau menyatakan keislaman mereka kepada Rasulullah SAW untuk beriman kepada Allah SWT dan al-Quran.

Ada mengatakan, di masjid itu Nabi SAW mengislamkan jin kafir. Ada juga menceritakan, dekat Masjidil Haram ada tiang dinamakan tiang jin. Ketika Masjidil Haram sedang dibangun, tidak cukup tiang, kemudian jin mendatangkan tiang dari alam mereka. Mereka yang bisa jumpa tiang ini mungkin bisa nampak alam jin. Ada yang khurafat memeluk tiang jin ini ketika orang lain wukuf di Arafah seharusnya untuk menjadi tuan jin.

Masjid Jin menjadi monumen terpenting antara Rasulullah dan jin. Dijelaskan, jin ketika itu berencana menuju Tihamah. Namun, mereka mendengar bacaan al-Quran. Mereka sangat takjub mendengarnya dan kemudian berdialog dengan Rasulullah, lalu menyatakan keimanan mereka. Kemudian mereka menyampaikan hal itu kepada jin lain. 

Ketika Rasulullah sedang membaca ayat al-Quran, ada beberapa jin. Sebahagian riwayat menyatakan jumlahnya ada sembilan jin dan sebagian lain menyebutkan tujuh jin yang turut mendengarkan bacaan al-Quran dari Rasulullah. Kemudian salah satu dari jin itu mengingatkan temannya dan berkata: “Diamlah, perhatikan bacaannya.” Setelah itu mereka kembali kepada kaum mereka untuk mengingatkan pada jalan yang benar. Salah satu dari jin itu bernama Zauba’ah. Demikian menurut Ibnu Masud.

Dalam kitab Fathul Bari, disebutkan, jin itu berasal dari Nasibain, yaitu sebuah daerah yang terletak di perbatasan antara Irak dan Suriah, yaitu dekat Mosul.

Jin terbagi dua yaitu jin kafir dan jin Islam (mukmin). Jin yang beriman ditempatkan di surga, sedangkan jin kafir ditempatkan di neraka. Rasulullah menggambarkan jin itu terbagi tiga golongan yaitu yang bisa terbang di udara, golongan ular dan anjing serta golongan bermukim dan hidup berpindah-pindah. (Hadits shahih riwayat Ibnu Abi Dunya, dalam Maqasid as-setan)

Seperti manusia dan hewan, jin juga makan dan minum, menikah, beranak dan mati. Menurut Syeikh Abdul Mun’im, jin penghuni dunia yang hidup di tempat sepi dari manusia dan di padang pasir. Ada jin yang hidup di pulau di tengah laut, di tempat sampah dan bersama manusia. Jin memiliki kemampuan yang tidak dimiliki manusia, seperti terbang, naik ke langit, mendengar apa yang tidak bisa didengar manusia dan mereka juga melihat apa yang tidak dapat dilihat manusia.

Aku kemudian melatih jin itu mengobati dengan sistem pengobatan ala thoreqoh, yang perpaduan antara doa, dan penyatuan konsentrasi dan dzikir, dan alhamdulillah mereka cepat bisa, semua sudah menjalankan dzikir pondasi, dan ratu, raja, panglimanya mulai menjalankan amaliyah puasa tingkatan thoreqoh, dan setiap hari terjadi dialog denganku, tentunya dengan cara mediumisasi, dengan memakai perantara orang agar jin bisa bicara ala manusia.

“Pak kyai…” kata ratu jin.

“Ada apa?” tanyaku.

“Kok pak kyai baik, banyak yang memusuhi ya..?”

“Ya itu wajar, nabi SAW saja manusia paling sempurna yang paling baik budi pekertinya saja, banyak yang memusuhi kok, apalagi saya yang orang biasa, tentunya banyak khilaf dan gudangnya dosa.”

“Tapi pak kyai kan gak salah, kok dimusuhi..?”

“Iya gak papa ratu, kadang kita itu oleh Allah mau didekatkan padaNYA, tapi dilihat secara amaliyah ibadah, saya mungkin terlalu sedikit, jadi lantas Allah menurunkan cobaan dan ujian berupa dimusuhi orang, lantas Allah menganugerahkan kesabaran padaku, maksudnya agar aku bisa bersabar, dan dari kesabaran itulah terpetik pahala yang menjadikanku makin dekat dengan Allah, karena innalloha ma’asshobiriin, Allah itu beserta orang yang sabar.”

“Tapi pak kyai, saya tak rela, kyai yang tak bersalah kok dimusuhi.”

“Ya gak rela itu hanya akan mengeruhkan hati, kita harus rela, dan ridho dengan ketentuan Allah.”

“Tapi pak kyai, bukan hanya pak kyai saja yang dibuat sakit,”

“Lalu siapa lagi yang dibuat sakit?”

“Ya anak pak kyai, ya istri pak kyai, istri pak kyai itu ada pocongnya, ada genderuwonya, makanya dia suka marah-marah dan tak nurut sama pak kyai, juga kandungan istri pak kyai ditutup dengan sesuatu, agar tak bisa punya anak lagi, anak pak kyai itu sering muntah dan sering tak doyan makan, karena dalam perutnya diisi beberapa paku, apalagi kalau pak kyai tak ada di rumah, mereka akan mengirimkan santet ke anak istri pak kyai, saya heran dengan tingkah laku mereka, kan pak kyai ndak salah sama mereka.”

“Wah siapa yang berbuat sadis begitu ratu?”

“Itu Askan…”

“Kok Askan lagi…?”

“Iya dia yang selalu memusuhi pak kyai, malah sangat rajin pergi ke dukun, jalan ke rumah pak kyai ditaburi kembang, sehingga tak ada jamaah yang datang, karena jalannya tertutup, dan tak kelihatan, juga orang yang mau ke tempat pak kyai ada saja masalahnya, lalu lagi itu sumur masjid tempat pak kyai ngambil air itu dimasuki jin, untuk diperintah mengaduk aduk, supaya airnya jadi keruh.”

“Yang benar ratu?” tanyaku heran.

“Iya benar.” jawabnya mantap.

“Wah pantesan setelah kejadian soal ribut aku mengambil air di masjid itu, kok air masjid jadi keruh sekali, sampai berwarna kuning, ooo ternyata begitu. Padahal selama ini kan aku sudah 2 sampai 3 tahun ngambil air di sumur masjid itu, dan sumurnya tak pernah keruh, ini kok jadi keruh sekali heran juga.”

“Iya itu sumurnya dimasuki jin, untuk disuruh membuat sumurnya jadi keruh.”

“Begitu ya?”

“Malah istrinya juga yang mengambil laptop milik kyai yang hilang.”

“Hah….!” aku kaget sekali, “Yang benar ratu… kalau tak benar itu namanya memfitnah lo..” jelasku.

“Iya benar…”

Aku heran, karena sekitar tahun 2011 silam, laptopku hilang dalam rumah, aku bingung, la itu alatku satu-satunya kalau mau nulis banyak, nulis Sang Kyai kalau pakai hp juga kan repot, kok hilang, waktu itu laptopku merek BENQ ku beli di Saudi dari keringatku ngumpulkan uang, dan dari ngutang, hehehe…, kebetulan kyai cilik, guruku, mau minjam, mau dipakai ngetik kitab thoreqoh, karena laptopku ada kayboard bahasa arabnya, jadi lebih mempermudah untuk menulis arab, pas mau dipinjam istriku ditelpon, lalu laptop yang ku taruh di meja, ku datangi, dan kok gak ada, yang ada cuma cas casannya, ku tanya istriku mungkin menyimpannya, ee malah istriku gak tau, wah apa mungkin dibawa orang? Rasanya gak mungkin, soalnya tak ada orang yang masuk rumah, daripada aku disalahkan kyaiku, maka aku milih sowan saja, dan bilang kalau laptopku kayaknya hilang, “kayaknya” soale aku masih gak percaya kalau hilang, isi lemari semua ku keluarkan, juga tas laptop ku bongkar, kali saja nyelip, tetap saja laptop gak ada, yang membuat sedih kan banyak file di dalamnya, juga video waktu di Saudi, kenangan-kenangan di sana, tapi mau bagaimana lagi wong hilang. Dan guruku mengatakan, kalau yang mengambil adalah istrinya Askan, bener-bener gak percaya, apa juga perlunya dia ngambil laptopku, dia juga gak bisa laptopan, juga apa motifnya? Bener-bener bingung, tapi tetap saja kyaiku menjelaskan yang mengambil adalah istrinya Askan, malah kyai menyebut detail ciri-ciri istrinya askan bagaimana, sampai jalannya bagaimana, sampai bagaimana mengambil laptopku dijelaskan sampai detail, tapi tetap saja aku tak percaya kalau yang mengambil dia. Karena sama sekali tak masuk logikaku. Aku masih ingat waktu itu, kyai memanggilku, dan yang di tanyakan.

“Bagaimana laptopnya apa sudah di ambil?”

“Dimana kyai?”

“Ya di lemarinya Askan.”

“Wah masak saya ke sana kyai?”

“Ya iyalah, atau selidiki dulu, makai orang siapa gitu.”

“Apa benar dia yang mengambil kyai?”

“Ya masak aku bohong, aku kan gurumu..”

“Bukan gak percaya kyai, cuma gak masuk akal saja, apa perlunya dia mengambil laptopku, wong dia gak bisa makainya.”

“Itu kan karena iri saja padamu,”

“Yang diiri dari saya apa to kyai, saya gak punya apa-apa.”

“Ya iri kan dari setan, gak perlu kamu kelihatan punya apa-apa dulu baru iri..”

“Terus bagaimana ini kyai..”

“Ya diambil, nanti keburu dijual sudah gak bisa diambil lagi.”

Wah soal laptop ko malah mumet, sudahlah, ku ikhlaskan saja, biar saja, semoga Allah memberi gantinya. Eee bertahun sudah berlalu, kok ratu jin mengingatkanku,

“Apa juga perlunya dia mengambil laptoku?” tanyaku pada ratu jin.

“Ya dia iri sama kyai, kyai kok bisa beli apa-apa, padahal gak punya apa-apa, wong gak punya apa-apa, kok bisa apa-apa.”

“Aneh..”

“Apa sekarang kaptopnya masih di dia?”

“Sudah dijual kyai…”

“Dijual dengan harga berapa?”

“Dijual seharga 10 juta,”

“Wah mahal amat, aku beli laptop waktu itu kan sekitar 8-9 jutaan, kok jualnya mahal amat?”

“Ya dia bilang ke yang membeli, kalau laptop itu laptopnya orang pinter, jadi harganya mahal.”

“Walah..”

Tiba-tiba, ratu yang gerakannya lemah gemuai, tiba-tiba frontal…. dan membuat gerakan yang kayak perempuan ganjen…

“Kenapa ratu..?”

“Aku bukan ratu..”

“Lalu siapa?” tanyaku heran.

“Aku adiknya ratu..”

“Siapa namamu ?”

“Aku…… aku tak punya nama.”

“Mau ku beri nama?”

“Mau..”

“Baik ku beri nama….. Aisyah saja ya..”

“Ya… ya…. aku suka nama itu, namanya bagus…”

“Kalau ku panggil Aisyah, langsung kesini ya..”

“Iya siap..” jawabnya dengan lagak ganjen.

“Sekarang nyai ratunya mana?”

“Nyai ratu sudah pulang..”

“Ooo Aisyah… mau belajar denganku?”

“Iya kyai… Aisyah mau belajar sama kyai, Aisyah sudah lama ingin belajar sama kyai.”

“Lhoh memangnya sudah tau soal kyai sejak kapan.”

“Ya sudah lama sekali,”

“Yang benar?”

“Iya, di alam jin, kan kyai dibicarakan, kalau kyai orang baik, orang yang pinter, hebat, jempol, jadi Aisyah jadi ingin belajar sama kyai, sekarang Aisyah kenal dan belajar sama kyai, Aisyah senang sekali.”

“Kalau begitu yang sungguh-sungguh ya..!”

“Ya kyai…, Aisyah akan berusaha sungguh sungguh.”

—————————————————————————————–

Esoknya Aisyah mulai ku ajari mengobati pasien, dan sifat dan lagak kemayunya kental, dan membuat keadaan pengobatan tidak terlihat kaku dan penuh canda tawa, kalau ada Aisyah pasti ramai, pembawaannya menyenangkan, kemajuan Aisyah dalam hal mengobati juga termasuk pesat, dia juga mulai menjalankan puasa thoreqoh tingkat dasar 21 hari, saya juga heran Aisyah begitu cepat belajarnya, ku beri ilmu trawang, juga cepat bisa.

“Pak kyai… top.. top… pak kyai..” katanya di sela-sela mengobati pasien.

“Top apa nduk..?” tanyaku heran, aku biasa memanggilnya nduk, walau secara umur Aisyah sekitar 500 tahun, atau umur manusia sebesar orang seumuran 25 tahun.

“Top… top… milik pak kyai..” jelas Aisyah sambil membuat gambar kotak.

“Ooo laptop..” jawabku baru paham, “Kenapa nduk?”

“Top pak kyai diambil istrinya Askan.”

“Ya biarkanlah nduk, nanti juga pak kyai dapat gantinya.”

Aisyah nyaprut….

“Gak papa to nduk… kadang Allah itu mengambil milik kita, kalau kita ikhlas akan diganti dengan yang lebih baik..”

“Ya tapi dia jelek sekali perangainya, kenapa beda dengan pak kyai.., pak kyai sama bangsa jin saja baik…”

“Ah biasa saja lah nduk, mungkin dia tidak mendalami ilmu batin,”

“Tapi pak kyai… sumur masjid kenapa dia ceburi jin untuk membuatnya keruh, itu kan untuk wudhu orang banyak… “

“Ya ndak papa…., coba tolong bisa ndak kamu nanti nyebur ke sumur masjid, dan jin yang di dalam ditangkap semua, jadi sumurnya jadi bening.”

“Iya.. iya pak kyai, Aisyah nanti malam akan myebur sama prajurit nanti sumur masjidnya biar jadi bening, biar saya tangkap jin yang diperintah Askan.”

Memang esoknya sumur masjid mulai bening, dan perlahan mulai bening sebagai mana sebelumnya.

—————————————————————————————–

Setelah keberadaan Aisyah di majlis, majlis makin ramai, juga banyak orang yang berobat, dan banyak juga yang menanyakan barang yang hilang, dan akhirnya ketemu, yang berobat juga banyak yang disembuhkan, tentunya atas ijin Allah, Aisyah sudah mahir memakai ilmu pengobatan dengan media doa dan energi dzikir. Dia juga rajin dzikir.

Namun tak jarang orang yang berpandangan miring, dan menganggapku bersekutu dengan jin, sebab antipati dengan jin, selalu beranggapan jin itu jelek, setidaknya bagiku para jin itu muridku dan bagiku ini amanah yang dipercayakan Allah padaku. Aku hanya berdoa pada Allah agar diberi kekuatan menjaga amanah dari Allah, untuk mendidik para jin menjadi murid thoreqohku.

“Pak kyai…. anak pak kyai itu ada santetnya..” kata Aisyah.

“Di mana nduk?”

“Di perutnya ada pakunya.”

“Kok bisa.. siapa yang mengirim?”

“Askan yang mengirim pak kyai..”

“Kok Askan lagi..”

“Iya pak kyai… istri pak kyai juga, saudara dan anaknya saudara pak kyai juga, semua ada santetnya, anak pak kyai sering muntah-muntah kan, juga sering tak doyan makan, dia menginginkan anak pak kyai mati.”

“Ah jangan begitu nduk, kalau ndak benar itu namanya memfitnah, di alam manusia itu apa-apa harus ada buktinya nduk, ndak asal menuduh begitu.”

“Tapi benar kok pak kyai, saya mengatakan apa adanya, kalau anak saudara pak kyai itu juga disantet dikirim kunti sama pocong, anak saudara pak kyai itu pasti suka menggigit orang, karena di mulutnya ada jinnya yang berbentuk kera.”

“Kok ke anak saudara istriku juga to Aisyah?”

“Ya soalnya itu persaingan dagang.”

“Wah jelek amat dia.”

“Terus nyantet banyak orang begitu apa dilakukan sendiri, atau dia memakai jasa dukun?” tanyaku iseng saja.

“Dia memakai jasa dukun dari Kajen,”

“Wah bayar berapa sama dukunnya?”

“Kalau nyantet ke pak kyai dia bayar 150 juta, kalau nyantet ke keluarga saudara kyai dia bayar 60 juta.”

“Wah gak mungkin lah nduk dia punya uang sebanyak itu.”

“Punya pak kyai.”

“Uang dari mana?”

“Dari istrinya jaga lilin.”

“Jaga lilin? Jualan lilin maksudnya.”

“Ah masak pak kyai gak ngerti?”

“Ya gak ngerti lah nduk.”

“Itu pak kyai…… nanti istrinya jagain lilin di atas baskom, yang ada airnya, nanti suaminya keluar memakai pakaian, lalu jadi babi…”

“Ah jangan sembarangan menuduh, dia kan juga kyai, masak melakukan itu.”

“Iya kyai, memang benar.”

Aku jadi ingat mimpiku, kalau pernah aku melihat dalam mimpi, istri Askan menunggui lilin, dan Askan sendiri jadi babi, lalu ku tembak pakai senapan, tapi cuma mimpi. La kok ini ada cerita yang dibuat Aisyah…

“Nduk kalau di alam manusia itu, segala hal harus ada buktinya, kalau tak ada namanya menfitnah, jadi fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan, coba panggil ratu menghadap padaku, masuk pada mbak Sun, biar ku tanya dia.”

Aisyah pun memanggil ratu, dan ratu segera masuk ke tubuhnya mbak Sun.

“Assalamualaikum….” ratu mengucap salam dengan lembut.

“Waalaikum salam.” jawabku.

“Ada apa kyai?”

“Ini mau menanyakan apa yang disampaikan Aisyah, apa memang benar begitu?”

“Iya kyai memang kenyataannya begitu, dia sering mengambil uang di bank BRI Pekajangan, dan kemarin pas ada orang yang mau walimahan juga yang mengambil dia, dengan memakai ilmu hitam, menjadi babi.”

“Tapi itu malah akan jadi fitnah saja kalau tidak terbukti.”

“Iya kyai, saya akan membantu menangkapkan, kalau memang kyai memerintahkan, tapi setiap saya coba siagakan prajurit, seperti dia tau, dan tak melakukan kegiatannya, jadi saya masih mencari akal, sebenarnya sudah sering dia mau ketangkap orang kampung yang siaga, dan sudah mencurigainya, tapi sepertinya ada yang memberitahu, kalau ada yang mau menangkapnya, jadi ngepetnya dibatalkan.”

“Begini saja ratu, tolong ditempatkan prajurit di sekitar rumahnya, ya kalau dia keluar, nanti ditangkap saja, kalau dia tau tak keluar untuk ngepet, ya setidaknya kan dia gak ngepet, jadi gak ada orang yang uangnya hilang.”

“Siap melaksanakan kyai, akan saya perintahkan beberapa pasukan untuk mengawasi rumahnya, mohon ijin dan doa kyai.”

“Ya nyai, semoga bermanfaat untuk banyak orang, beramal saja berbuat kebaikan yang kita bisa, dan seikhlasnya nanti Allah akan memberikan balasan yang berlipat ganda.”

“Insa Allah kyai, saya dan anak buah saya mohon selalu dibimbing.”

“Ya insaAllah.”

“Oh ya, ratu kenal dengan Dewi Lanjar.”

“Kenal sekali kyai, dia itu masih saudara beda ayah denganku.”

“Lhoh dia itu bukannya manusia yang masuk alam gaib?”

“Bukan kyai, dia masih saudara saya, dari bangsa jin,”

“Oooo, jadi cerita yang beredar selama ini tak benar?”

“Ya kyai….”

“Lalu apa dia itu bukan perempuan cantik yang suka memakai kerudung biru, karena saya pernah ke tempatnya dia, dia berwujud seperti itu.”

“Itu cuma penyamaran saja kyai.”

“Lalu wujud aslinya apa?” tanyaku penasaran.

“Dia berwujud ular kyai… sama juga dengan nyai blorong, dan nyai roro kidul, semua berwujud asli ular.”

“Lhoh dalam cerita nyai roro kidul itu dari penjelmaan putri Pajajaran, itu bagaimana?”

“Ah itu hanya mitos dan cerita yang dibuat-buat orang.”

“Apa nyai ini kenal sama nyai roro kidul?”

“Kenal akrab kyai.”

“Kenal sebagai bawahan, apa sebagai sahabat?”

“Saya bersahabat dengannya kyai,”

“Ooo….” aku terheran-heran, “Apa sering kesana?”

“Sering kyai..”

“Dia agamanya apa?”

“Dia masih Hindu.”

“Apa dia galak?”

“Tidak kyai, dia baik, cuma kalau ada orang yang minta yang tidak-tidak, dia biasanya galak.”

“Agamanya apa?”

“Hindu kyai..”

“Kalau nyai blorong?”

“Nyai blorong dulu Islam, lalu murtad.”

“Kalau nyai dewi lanjar,”

“Dia Hindu kyai.”

“Hm…. begitu…” aku tenger tenger… dalam pikiranku, apa gak ada yang mengislamkan ya, bukannya ulama’ dari dulu sampai sekarang kan banyak.

“Apa kyai berkehendak mengislamkannya?” tanya ratu.

“Hm apa mungkin.”

“Kalau kyai mau menjadikan mereka murid, saya akan senang hati menjadi duta mereka, dan mengajak mereka, atas ijin kyai..”

“Ya saya sih silahkan saja, kalau ratu mau,”

“Ya besok saya akan berangkat.”

——————————————————————————————–

Baru bangun tidur, hari sudah siang, jam 12 siang, di majlis sudah ramai tamu, biasa Aisyah lagi dikerubuti tamu.

“Pak kyai…. pak kyai baru bangun ya..” celoteh aisyah.

“Iya Aisyah… kok Aisyah sudah di sini.”

“Iya pak kyai soale di rumah sepi, ndak ada nyai ratu, nyai ratu sedang pergi.”

“Kemana perginya?”

“Ke laut.”

“Ke Dewi Lanjar?”

“Iya.”

“Kapan kembalinya?”

“Kembalinya nanti malam minggu kalau ada dzikir bersama.”

“Hm,,, masih seminggu lagi kalau begitu..” kataku sambil berlalu, mengambil air wudhu untuk melakukan sholat dzuhur.

Di majlis masih ramai… sementara waktu sudah sore… Aisyah masih di kerubungi banyak orang, dan aku mendekat.

“Kyai… nyai ratu sudah kembali..”

“Lhoh kok cepat, katanya hari sabtu malam minggu.”

“Iya sudah kembali..”

“Kalau begitu suruh menghadap padaku.”

“Baik kyai..” sebentar nyai ratu sudah masuk ke tubuhnya mbak Sun, dan mulai mengucap salam,

“Ya kyai saya menghadap..” kata nyai dengan suara lembut.

“Katanya ratu dari tempat Dewi Lanjar, bagaimana hasilnya?”

“Iya kyai, saya sudah bicara banyak tentang kyai pada dia, dan dia memang sudah lama kenal sama kyai, kyai juga sudah pernah ke kerajaan dia.”

“Iya lalu apa dia mau masuk Islam.”

“Alhandulillah kyai, dia mau masuk Islam, dan minta ijin untuk menjadi murid kyai.”

“Ya boleh saja… kalau dia mau menerima syarat yang ku berikan.”

“Dia ada di rumah saya kyai, apa kyai berkehendak dia menghadap?”

“Boleh, suruh dia menghadap.”

Mbak sun mengejap sebentar pertanda sudah ganti jin yang masuk… tapi tetap diam, lalu terdengar Aisyah menceloteh. “Kyai, nyai Dewi tak mau bicara kalau ada orang banyak, beliau malu kyai…”

“Ooo ya sudah… ke sana saja..” kataku sambil ku ajak ke ruangan lain.

———————————————————————————

  1. 13 November 2013 pukul 11:57 am

    pak kyai saya inbox di fb ko gk dibles fb saya on jie

  2. aiman
    13 November 2013 pukul 12:29 pm

    Ditunggu kisah selanjutnya kyai,,,

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s