Beranda > sang kyai > Sang Kyai 75

Sang Kyai 75

Sekali lagi aku mau bercerita soal mimpiku, ini mimpiku sendiri, jadi jangan dikomentari kalau mau cerita maka ceritakan mimpimu sendiri, siapa yang hadir dalam mimpiku, maka itu bukan karenaku, sebab mimpi yang ku alami juga bukan karena kehendakku, jika aku di dalam mimpi makan enak dan naik mobil mewah, sebaiknya jangan didengki, sebab itu juga cuma mimpi, kalau mau, mimpi saja sendiri, jangan merebut mimpiku, dan jika ada yang komentar, mimpi saja kok diceritakan, ya saya akan jawab, mimpi saja kok mau maunya dibaca.

Aku bermimpi, hari masih sore, tapi di majlisku yang sederhana datang seorang yang mengeluhkan sakit, setelah ku tanya sana sini, lalu ku obati dengan pengobatan sebagaimana biasa ku lakukan, minta pada Allah sakitnya disembuhkan dan yang menyebabkan sakit khususnya para jin di dalam tubuhnya dibersihkan, agar sakitnya tak kembali lagi, menurut pendapatku, dan memang atas ijin Allah orang itu sembuh.

Ternyata kejadian itu tak sesederhana itu, semua orang yang hadir di majlis juga tau kalau orang yang berobat itu sembuh karena bukan aku hebat, tapi karena Allah menyembuhkan, dan aku hanya sebagai hamba yang bisanya hanya meminta pada Allah, tapi bagi orang awam yang kebanyakan atau orang umum tak hanya seperti itu, malah aku yang diminta menyembuhkan malah dituduh sebagai yang menyebabkan sakit… ngelus dada, ternyata jelas-jelas berbuat baik itu belum tentu dinilai baik di mata orang lain.

Anak menantu orang yang sakit dan anaknya datang ke rumahku, marah-marah dan menuduhku sebagai yang menyebabkan sakit yang dialami oleh ibunya yang sakit, buktinya setelah ku sentuh langsung sembuh, ah aku tak mau banyak bicara, aku tinggalkan saja tamu yang mengajak ribut, dan menuduhku yang menyebabkan keluarganya sakit, malah ku dengar aku mau diperkarakan, ya Allah… aku menangis pada Allah sendiri dalam kamar, minta diberi kekuatan menerima cobaan ini…. setelah marah-marah kedua orang itu keluar dari rumahku dengan tanpa permisi, setelah berdebat dengan ibunya sendiri, yang sering disuntik bius agar tak keluar keluh kesahnya kalau lagi mengalami rasa sakit.

Mimpi lagi.

Datang seorang yang membawa anaknya yang kecil sakit, ya aku tanpa banyak kata segera mencoba mengobati anak itu, ternyata karena diganggu jin, sehingga mau diambil nyawanya, jin itu dikirim seseorang karena permasalahan warisan. Dan sebenarnya yang dituju ayahnya, tapi yang kena anaknya, sekalian ku cabut saja ruh dukun santet yang menyerang anak itu ada 3 dukun, dan jin yang ada di anak itu ku keluarkan semua. Anaknya sudah enakan, dan kelihatan mulai sembuh.

Tapi cerita ternyata tak sampai disitu, habis dari rumahku, anak itu meninggal dunia.

Dan besoknya ayahnya dengan membawa dukun melabrakku, menuduhku yang menyebabkan anaknya mati.

“Saya ingin minta kejelasan soal kematian anakku..” kata pak Jo dengan muka agak tak suka.

“Begini pak kyai, anda seorang kyai, bagaimana mungkin anda menyebabkan anak kecil itu mati, anak kecil itu mati secara tak wajar, bagaimana pertanggung jawaban sampean, ini kakak anak itu,” kata dukun yang dibawa, dia menunjuk anak remaja yang juga hadir. “Dia itu mimpi kalau adiknya mati secara tak wajar, maaf kalau saya berkata kasar, kami minta kejelasan.”

“Bagaimana saya bisa dituduh?” tanyaku dengan berusaha tenang dan tak terpancing emosi, “Bapak kemaren ke rumahku, minta tolong padaku, saya juga tak meminta, bapak yang datang sendiri, juga tak saya undang, bahkan waktu anak bapak ke sini saya juga sama sekali tak menyentuhnya, bagaimana mungkin saya malah yang dituduh menyebabkan mati? Kemarin bapak kan melihat sendiri bagaimana saya mengobatinya, juga kemarin pas di sini, malah ruhnya dukun yang menyebabkan anak bapak sakit sudah saya panggil, dan bapak bicara sendiri dengan ruh dukun itu, la kok malah sekarang saya yang dituduh?”

“Kami ingin minta kejelasan.” kata dukun itu ngotot.

“Kejelasan yang bagaimana?” tanyaku

“Ya kejelasan apa penyebab anak ini meninggal.”

“Bukannya bapak ini kemarin sudah jelas?” kataku menunjuk kepada ayah anak itu. “Iya kan pak?”

“Iya…” jawab pak Jo. “Tapi sekarang saya ingin lebih jelas lagi.”

“Bapak ini bagaimana to… kemarin sudah ku hadapkan pada dukunnya, bapak ku suruh bertanya sejelasnya lalu bapak tak mau bertanya mendetail, kemarin kan bapak sudah bicara panjang lebar dengan ruh dukunnya, sampai dukunnya juga minta maaf bapak juga sudah memaafkan, kok sekarang berubah?”

“Maaf saya menyela..” kata dukun, “Saya masih tak percaya… dengan apa yang pak kyai lakukan, bisa saja itu hanya rekayasa.”

“Rekayasa bagaimana?”

“Coba pak kyai buktikan lagi, jika itu bukan rekayasa.”

“Baik… aku akan ambil ruh anak bapak yang sudah meninggal, akan ku masukkan ke orang, nanti bapak tanya sendiri, kalau ndak percaya, nanti mas yang suka usil ini jangan salahkan kalau ku cabut ruhnya, ku lempar ke neraka…, atau ku pindah ke hewan.” kataku yang segera minta ijin ke malaikat Isrofil untuk didatangkan ruh anak kecil yang kemarin meninggal. Namanya juga mimpi, ya aneh aneh saja.

Satu menit berlalu.

Dan ruhnya anak kecil yang meninggal sudah ada di dalam tubuh mediator.

“Huuuu huuu..” dia menangis…

“Nduk jangan menangis nduk… ini bapakmu ingin minta pak yai bertanggung jawab atas kematianmu, silahkan bapak bertanya, ini ruh anak bapak.”

“Nduk bener ini kamu nduk…”

“Iya pak ini aku pak… huuu huuu.. jangan menuduh pada pak kyai yang tak bersalah, yang berusaha menolongku, malah bapak salahkan…, pak…, ikhlaskan aku mati ya pak…, aku kesakitan kalau bapak tak ikhlas..” jawab ruh anak kecil yang di dalam mediator.

“Apa meninggalmu tak wajar nduk.”

“Bapak sendiri kan tau kalau aku meninggal tak wajar, kemarin pak kyai sudah menunjukkan, tapi kenapa bapak jelek sekali perangainya, kenapa malah menuduh pak kyai yang dengan ikhlas menolong, kenapa bapak begitu,”

“Aku tak menuduh nduk… tapi bapak bingung,” kata pak Jo.

“Paak.. pak.. ikhlaskan aku ya pak, memang aku awalnya mati tak wajar, tapi Allah sudah memperbolehkanku dan aku meninggal dengan ikhlas…, pak, aku disiksa, kalau bapak menuduh pak kyai, aku kesakitan pak. Bapak begitu tega padaku, malah tidak mendoakanku, malah menuduh pak kyai yang melakukan ini, padahal dia menolongku, pak kyai maafkan bapakku pak kyai, huu huuu…”

“Ya nduk, kyai ndak papa dituduh, Allah maha tau…, silahkan pak… bertanya apa lagi?”

“Ya pak kyai, saya sudah ikhlas… dan tak akan menuduh pak kyai..” kata pak Jo.

“Ini mumpung anak bapak di sini, jadi mau tanya apa lagi…?” tanyaku.

“Sudah pak kyai.”

“Sudah ya nduk, maaf pak kyai memanggil ruhmu kembali, sekarang ku serahkan lagi ke malaikat Isrofil.”

“Ya pak kyai, maafkan saya dan bapak saya..”

“Ya nduk…, yang tenang di sana.”

Aku mengembalikan ruhnya anak itu ke akherat. (namanya juga mimpi, ya aneh-aneh saja)

“Bagaimana, apakah mas ini masih mau menuduhku?” telunjukku ku arahkan pada dukun yang menyertai. “Kalau masih tak percaya, akan ku buktikan kalau itu disangka bukan ruh asli, akan ku pindah ruh mas ini ke kecoak… mau?”

“Ah ndak pak kyai, kenapa begitu?” kata si dukun.

“Ya biar percaya, apa yang saya lakukan ini benar atau bukan…., cuma rekayasa atau bukan.”

“Sudah saya percaya saja…”

“Ya tidak bisa begitu… mumpung masih di sini, dibuktikan kan bisa, daripada nanti di belakang ndak bener, kan sekarang saja dibuktikan.”

“Ndak.. ndak, saya percaya kok.”

“Saya itu orangnya tak suka main-main…” kataku ku pertegas.

“Lalu bagaimana dengan kakak anak ini yang mimpi dilihatkan kejadian kalau adiknya itu tak beres meninggalnya?” tanya dukun.

“Nah itu juga bisa dibuktikan.”

Ku tarik jin yang memberi mimpi pada anak remaja itu, dan ku masukkan ke mediator.

“Sukses..” kata jin yang masuk ke mediator.

“Sukses apa?” tanyaku.

“Sukses memperdaya anak remaja ini, ku masuki mimpinya, dan ku bisiki dia, agar menyangka kalau adiknya matinya karena pak kyai, hihihi…” kata si jin.

“Hm, begitu ya… apa kamu ndak takut denganku..?” tanyaku.

“Takuuut, takut sekali, siapa di dunia jin dari ujung barat dan timur yang tak kenal dengan kyai Nur, semua kenal, raja segala jin di penjuru bumi, makanya aku takut, lalu memperdaya anak ini, agar menuduh pak kyai… hihiiii… aku berhasil…, tapi tertangkap basah… “

“Hm, kenapa kamu jahat begitu…?”

“Karena aku pengikut iblis…”

“Ya sudah kamu mati saja…”

“Ampuuun ampuun pak kyai jangan bunuh aku…”

“Aku tak akan membunuhmu, silahkan malaikat maut cabut nyawanya…”

Mediator segera mengejang, dan jin sudah tercabut nyawanya.

Kejadian mimpi makin panjang, dan berlanjut pada orang tua anak yang meninggal minta rumahnya dibersihkan, dan berlanjut pada cerita keluarganya dibersihkan semua dari gangguan jin, juga si dukun juga ikut-ikutan minta dibersihkan dari jin. Ah cerita mimpinya jadi gak seru.

_________________________________________________

Cerita mimpi yang lain saja, ku tekankan yang tak suka baca, sebaiknya jangan baca soal mimpiku ini, karena ndak ada manfaatnya sama sekali, juga jangan diikuti alur ceritanya karena namanya juga mimpi, sama sekali ndak nyambung. Jamin!

Tapi aku akan menulis saja mimpiku ini… walau sekedar mimpi.

Kali ini mimpi, nabi Sulaiman AS mendatangiku, ya bisa saja jin, atau setan yang mendatangiku, dia mengaku sebagai nabi Sulaiman, karena dalam mimpi aku juga gak sempat nanya nomer hp nya, namanya juga mimpi, jika ada yang nanya nomer hpnya nabi Sulaiman itu berapa?, dia menyerahkan sebuah mahkota ke kepalaku, dan menyematkan cincinnya di jariku, katanya cincin di jariku adalah cincin untuk menaklukkan segala macam jin. Wah jan mimpi kok ya aneh-aneh…

Setelah itu aku diminta memanggil semua jin yang dulu takluk padanya, dan diminta mengislamkannya, dan datang berjuta-juta trilyun jin, berbentuk kelelawar, dan segera ku mediumisasi, dan ku Islamkan, kalau ada yang tanya, mana mahkota nabi Sulaiman?, ya gak ada lah, wong mimpi kok ditanyain wujudnya.

___________________________________________________

Mimpi nyatanya ya aneh-aneh, tapi tetap saja mimpi…., dan kebanyakan mimpi itu bukan logika.

Jadi bingung kadang mau cerita mimpi, banyak mimpi-mimpi mau diceritakan keburu lupa, sampai kadang kepikiran apa ada gak ya alat untuk memutar ulang mimpi, agar mimpi yang aneh-aneh itu bisa diceritakan, paling tidak daripada membicarakan kejelekan orang, sama-sama nganggurnya, mending membicarakan mimpi yang tidak menyakiti orang lain, misal kok ada nama atau kejadian yang sama, ya kali saja kebetulan, seperti kalau di buku-buku fiksi, jika ada kejadian atau nama yang sama dengan cerita ini maka itu hanya kebetulan saja, sama sekali tak ada unsur kesengajaan.

Juga sama dengan mimpiku, jadi kalau ada kejadian yang sama atau mencakup siapa saja, maka itu tanpa ada unsur kesengajaan, aku hanya menulis mimpiku, kamu juga bisa menulis mimpimu, kalau perlu sedia buku siapa tau mimpi bisa diterjemahkan ada maksud di balik kejadian di alam bawah mimpi, yang tukang tombok TOGEL saja selalu mencari arti di balik mimpi. Heheheh…

Ku lanjutkan di cerita mimpi yang lain.

Suatu kali iseng-iseng aku memanggil ruh para leluhur sampai pada tarapan tertentu, aneh juga berbondong-bondong ruh para leluhur para silsilahku datang, dan yang membuatku lebih aneh, ada di antara ruh itu adalah orang yang berwajah sebagaimana Sunan Ampel dan Sunan Giri, kenapa ku kenal dengan Sunan Ampel dan Sunan Giri, sebab sebelumnya aku pernah bertemu dengan Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Kalijaga yang memberikan ilmu padaku, juga memberikan nasehat padaku, sehingga aku paham dengan wajahnya, aneh juga.

“Apa ini semua adalah ruh kakekku?” tanyaku polos.

“Benar kami para kakekmu, ada keperluan apa ngger kamu memanggil kami?” tanya salah satu.

“Boleh saya tau nama-nama kalian, agar saya bisa mendoakan satu persatu?” kataku beralasan.

Lalu salah satu berkata.

“Kalau mendoakan, dijama’ saja ngger… ndak usah satu satu….”

Wah gak bisa tahu kalau begitu, waduh aku mati kutu.

“Ya kalau begitu, terimakasih atas kehadiran kalian semua…. maaf telah mengganggu istirahat para kakek…” kataku serba salah.

Aku melupakan saja mimpi itu, ah rasanya ndak begitu penting, selama ini aku ndak tau siapa kakekku juga tak masalah. Tapi makin aku berusaha tak ingin tau, makin saja menggelitik rasa ingin tauku. Apa bener kalau Sunan Ampel atau Sunan Giri itu adalah kakek buyutku?

Mimpi lagi…. Sunan Ampel dan Sunan Giri duduk di depanku… mereka menyebutku khatib,

“Maaf saya bukan khatib kanjeng Sunan…”

“Heheeh, kamu khatib ngger, kami memanggilmu khatib, itu julukanmu di alam ruh…”

“Maaf kenapa kanjeng Sunan berdua selalu mengunjungiku? Apa mungkin ada darah kanjeng Sunan berdua yang mengalir di darahku.”

“Benar sekali…” jawab Sunan Ampel.

“Ya benar sekali ngger, darahku mengalir di darahmu…, coba kamu tulis silsilah sampai kepadamu.” kata kanjeng Sunan Ampel.

Setengah jam menulis silsilah yang panjang, dari beliau berdua. Dari Sunan Ampel lebih pendek silsilahnya menyambung ke beliau, tapi dari Sunan Giri lebih panjang dan berkelok kelok. Tapi aneh nama kakekku aku tak pernah mendengar itu.

“Apa ini benar kanjeng Sunan?” tanyaku, “Kenapa nama kakekku di kanjeng Sunan Ampel sama di kanjeng Sunan Giri berbeda?”

“Itu nama julukan ngger, bukan nama asli.”

“Terimakasih kanjeng Sunan.” kataku masih diliputi kebingungan, karena di silsilah yang ku ketahui, aku pernah dengar kalau aku ini keturunan dari Jaka Tingkir, dan kalau di daerahku aku ini keturunan dari silsilah Syaikh Abdul Jabar, tapi kenapa kok sampai kepada Sunan Giri? Ah makin membuatku bingung saja.

Aku diam saja dalam kebingunganku, dan mendengar pesan mereka.

“Sebelum kami pergi, ingat ngger yang kuat menanggung amanah ini dirimu, jadi yang sabar ya ngger cobaanmu sangatlah berat.”

“Doakan saya kek, saya hanya orang biasa, cucumu ini orang lemah tak ada daya.”

Aku tertegun sampai mereka berdua mengucap salam dan pergi.

Masih dikungkung kebingungan. Aku coba tanyakan khodam malaikat, dan dia juga menjawab bahwa silsilah itu benar adanya. Makin bingung.

Di mimpi berikutnya, aku didatangi Syaikh Abdul Jabar, beliau tersenyum…

“Siapa ini?” tanyaku.

“Aku Abdul Jabar, kakekmu…”

“Syaikh Abdul Jabar Nglirip?” tanyaku.

“Benar….”

“Apa benar menurut para ayah dan kakekku, aku ini ada keturunan dari kakek Jabar?”

“Benar sekali ngger… itu sama sekali tak salah.”

“Tapi kemarin Sunan Giri dan Sunan Ampel mendatangiku, kalau aku ini keturunan mereka.”

“Itu juga benar, darah mereka memang mengalir di darahmu ngger…”

Aku mengambil silsilah yang ditulis Sunan Giri dan Sunan Ampel. Dan ku tunjukkan pada Syaikh Abdul Jabar.

“Apa silsilah ini benar, tapi kenapa nama kakek-kakekku kok bisa tak sama begitu?”

“Begini ngger, orang dahulu itu selalu memakai nama-nama julukan, jadi yang Sunan Giri dan Sunan Ampel tulis itu nama julukan, bukan nama asli.”

“Ooo rupanya begitu ya kek…, apa kakek itu juga saudara sama kakek Sangmbu yang di Lasem itu ya kek?” tanyaku menyelidik.

“Iya ngger… silsilahmu itu sampai kepada Jaka Tarub.” jelas Syaikh Jabar.

“Kok sampai sana juga?”

“Kamu ini bagaimana to ngger…, ngger…, memangnya ada orang yang bisa punya kelebihan sepertimu ini, kalau tidak bercampurnya silsilah yang berpadu, dari Rosululloh SAW, berpadu dengan silsilah dari alam kahyangan, kan di darahmu mengalir darahnya istri Jaka Tarub, Dewi Nawang Wulan, makanya kenapa kamu bisa menaklukkan dan menjadi raja diraja jin, aku saja ndak bisa kok, heheheh….”

“Saya jadi merasa kecil kek, aku ini ndak punya apa-apa kok… malah dapat amanat kepercayaan sebesar ini…”

“Sudah, dijalankan saja taqdirnya gusti Allah ngger…”

“Doakan saya kek…”

“Oh ya macan putih yang menunggu makam kakek sudah kamu Islamkan ya..”

“Iya kek, macan, dan semua penunggu hutan Nglirip juga jin yang mengaku putri Nglirip semua sudah ku Islamkan kek..”

“Weh… weh… cucuku, aku bangga mempunyai cucu sepertimu ngger, sudah menjadi raja segala jin penjuru bumi, masih juga mengurusi jin-jin yang bersifat kecil…. kakek saja ndak bisa mengislamkan mereka, karena kakek ndak punya ilmunya, ingat cucu… jangan banyak jin di sini, nanti kepenuhan gak baik, kalau sudah Islam ya suruh kembali ke tempat tinggalnya masing-masing, aku lihat di sini sudah terlalu penuh jin, ndak baik mengurusi banyak jin, lebih baik memperbanyak mengajak manusia.”

“InsaAllah kek… kalau boleh cucu minta ilmunya…”

“Wah kamu sudah tinggi jauh di atas kakek, sudah tidak butuh ilmu kakek…”

“Aku malah gak bisa apa-apa kek, sungguh cucu masih tak tau sama sekali ilmu, cucu sebenarnya sangat minim ilmu agama…”

“Sudah jangan merendah begitu…, ikuti saja apa kata gurumu, kyai kecil itu….”

“InsaAllah kek, doakan selalu cucumu yang daif ini..”

Begitulah dialog dengan Syaikh Abdul Jabar.

Mimpi masih berlanjut, makin aneh saja alurnya…. dan melober kemana-mana.

Seorang perempuan yang cantik sekali mendatangiku. Tak bisa aku melukiskan kecantikannya, cantik sekali, kayaknya bintang film juga tak ada yang secantik perempuan ini, rasanya aku akan cepat lupa akan kecantikan wanita seperti ini, karena aku tak menemukan perbandingan akan kecantikan yang dimiliki.

Tapi matanya terpejam, tak mau melihatku, tapi hidungnya mengendus-endus, seperti membaui sandal jepit yang kebakar. Setelah mengucap salam,

“Siapa ini?” tanyaku agak dag dig dug.

“Aku…” jawabnya sambil terus mengendus-endus, dan matanya terpejam.

“Aku siapa, kalau boleh saya tau..”

“Aku… aku… aku mencium darah keturunanku…”

“Di mana?” tanyaku.

“Kamu ngger, kamu darah keturunanku, aku mencium darah keturunanku memancar kuat dari tubuhmu.”

“Kalau boleh saya tau, siapa bunda ini?”

“Aku Dewi Nawang Wulan, istri Jaka Tarub.”

“Haa…, jadi cerita Jaka Tarub itu benar?”

“Iya benar sekali ngger… aku Nawang Wulan.. nenekmu.”

Aku masih bengong, kayaknya mimpiku ini makin ke arah cerita dongeng.

Sudahlah biarkan saja, mimpi ini… kemana juga terserah, kenapa aku repot, mimpi kecemplung jurang saja gak sakit kok, apalagi mimpi ketemu bidadari.

“Berarti nenek Nawang Wulan itu benar ada, dan nenek ini adalah nenekku?” tanyaku.

“Benar sekali, wah aku kehilangan mahkota, aku kehilangan mahkota waktu turun ke bumi, dan tak ku temukan.”

“Mahkota apa itu nek?”

“Mahkota yang dipakai oleh para bidadari di kayangan.”

Lalu tanganku reflek mengambil sebuah mahkota, namanya juga mimpi, jadi ‘lap’ gitu saja di tangan langsung ada mahkota.

“Apa ini nek?”

“Tidak, tidak seperti itu ngger, mahkotanya seperti ikat kepala dari emas, dan di depannya ada ukiran hiasannya…”

Lalu tanganku mengambil mahkota lagi. “Apa ini nek?”

“Ya benar, benar sekali cucuku… wah ilmumu sakti sekali…, hanya melambaikan tangan kamu sudah menemukan mahkota nenekmu, padahal nenek sudah lama mencarinya.”

“Nek, kenapa nenek tidak membuka mata, apa tak ingin melihat cucumu?”

“Aku tak boleh melihat bumi ngger….”

“Kenapa?”

“Kamu sendiri tau ceritanya… nenekmu membuat kesalahan karena menikah dengan kakekmu Jaka Tarub, jadi nenek tak bisa membuka mata, tapi nenek melihatmu kok cucuku, walau mata nenek terpejam, hm, nenek bangga padamu…”

“Apa kayangan itu ada to nek?”

“Ada… “

“Apa nenek ini dari bangsa jin atau malaikat?”

“Bidadari itu bukan golongan jin dan malaikat.”

“Lalu dari apa nek?”

“Ya dunia kami di antara jin dan malaikat…”

“Lalu nenek lahir dari apa?”

“Nenek tak berayah dan tak punya ibu… tapi kami dari berbangsa, dan ada rajanya…”

“Hm, begitu ya…”

“Sudah ya cucuku… aku kembali ke kahyangan, jaga diri cucuku….”

Setelah salam Dewi Nawang Wulan segera terbang ke kahyangan. Bener-bener mimpi yang makin aneh saja. Ada suara yang memberitahuku, apapun di dunia ini menjadi bentuk yang sempurna itu karena perpaduan berbagai komponen yang menjadi satu, bikin sambel saja harus ada cabe, bawang merah putih, bahkan garam harus ada, jika tak ada cabe, atau garam misalkan, maka tak akan tercipta sambel yang enak, sebagaimana seseorang itu dari berbagai keturunan yang menyatu lantas akan terbentuk seorang yang mumpuni, besi pilihan, dan barang yang bermutu tinggi.

Mimpi masih berlanjut, sekarang kakekku yang menjadi ayah dari ibuku, yang menemuiku. Ku lihat wajahnya sedih. Aku kenal betul kakekku ini karena sampai umur 16 an aku masih melihat kakekku masih hidup.

“Mbah nang?” tanyaku, setelah ku jawab salamnya. Aku biasa memanggilnya mbah nang.

“Iya Nur… wah kamu sudah jadi orang besar, ilmumu sudah tak terbatas…”

“Wah tidak juga mbah…. aku masih seperti dulu…”

“Ya ndak lah nang, kamu sekarang dikenal di mana-mana, eee, kok di kepala mbahmu ada mahkotanya…, padahal tadi tidak…, nang… mbah bangga padamu… derajat mbah diangkat di sana karenamu…”

“Wah kok karena saya to mbah… aku orang biasa…”

“Ora nang, sungguh mbah ini, tak menyangka, kamu dulu yang nakalnya sampai membuat mbahmu ini kuawalahen, mumet, pusing, kalau taunya seperti ini, ya mbah dahulu gak akan nglorohi (menegur) dirimu, wes tak biarkan saja…”

“Ndak mbah, sudah tugas mbah, dahulu memperingatkan saya, saya memang anak bandel…”

“Ora nang, mbah sekarang malu denganmu….”

“Wah mbah ini melebih-lebihkan saja….”

“Gak kok nang, mbah sungguh malu sekali…. ndak tau mbah maksute gusti Allah…, sekarang mbah sudah meninggal baru melihat, mbah jadi maluuu sekali… sampai menegurmu dahulu.”

“Mbah… mbah… ada gak kakek buyut yang orang hebat, kok saya jadi orang seperti sekarang.”

“Wah ngger aku ini ilmuku cetek, tak tau aku…”

“Coba ku tempel ya mbah… tak tempel ilmu penglihatan melihat silsilah mbah…”

“Ya… ya… wah ilmumu banyak buanget, ada… ada ngger… mbah ini keturunan dari Bandung…”

“Bandung siapa to mbah…?”

“Bandung Bondowoso… nang…”

“Ooo yang membangun candi Prambanan itu…?” tanyaku.

“Iya benar…”

“Mbah, bagaimana nasib mbah putri di sana…”

“Wah aku ndak melihat bagaimana mbahmu di sana…”

“Lhoh apa ndak ketemu mbah?”

“Ndak itu mbah…”

“Ku doakan biar disatukan sama Allah ya mbah…”

“Ya ngger… doamu yang makbul, jadi kamu yang mendoakan simbah… baru ketemu kamu sekali saja mbah sudah mendapat mahkota… wah sungguh ajaib kue ngger…”

“Ndak mbah… aku orang biasa saja…”

“Wes ngger aku pamit kembali ke sana, itu kakekmu Bandung Bondowoso ingin menemuimu…”

Mbahku sudah pergi, datang lelaki tua renta mendekatiku.

“Apa mbah ini yang bernama Bandung Bondowoso…?” tanyaku setelah orang itu mengucap salam yang bukan assalamualaikum. Kalau tak salah om santi-santi….

“Ya ngger aku benar Bandung Bondowoso, kakekmu… kakek dari jalur ibumu.”

“Jadi benar kisah membangun candi Loro Jonggrang itu yang membuat kakek?”

“Benar sekali cucu… kakek dulu yang membuat.”

“Berarti kakek dulu belum Islam ya?”

“Ya belum, sekarang kakekmu ini rendah derajatnya di sana ngger…”

“Kakek mau saya Islamkan?”

“Ya mau… mau sekali ngger..”

Lalu ku ajak kakek Bandung Bondowoso masuk Islam. (mimpi ya memang aneh)

Setelah membaca dua kalimat sahadat, kakek Bandung Bondowoso menangis sesenggukan beberapa lama. Setelah tangisnya reda,

“Ngger kakek tak pernah selama hidup mengalami kebahagiaan seperti ini… terimakasih ya ngger.”

“Ya kek, sama-sama…, kek kalau boleh cucu tau, apa benar kakek membangun candi Sewu itu dengan bantuan jin?”

“Benar sekali ngger, itu cerita nyata, dan memang kakek punya pasukan jin yang bisa membantu membangun candi itu.”

“Kok saya sebagai raja jin, sering memerintah jin, tapi kok batu yang dibawa bersifat gaib, tak nyata…”

“Walah ngger, jin sekarang beda dengan jin jaman dahulu.”

“Bedanya di mana kek, bukannya sama-sama jinnya.”

“Ya beda saja…”

“Apa jin kakek itu masih hidup?”

“Ada cucu, tapi kakek sudah tidak bisa memanggil mereka.”

“Apa ini mereka kek?” kataku setelah menarik semua jin yang menjadi anak buah kakek Bandung.

“Lah… benar ilmumu sangat tinggi sekali cu, kakekmu ini tak ada apa-apanya…”

“Wah kakek ini merendah…”

“Ya tidaklah cu, kakek ini kan ruh, mana bisa pakai merendah segala…”

“Kek, kalau boleh jin ini ku perintah untuk mengangkatkan batu?”

“Ampun kyai… saya tak bisa menerima perintah dari siapapun kecuali Kanjeng Prabu Bandung Bondowoso.” kata para jin.

“Bagaimana kek…?”

“Kalian taatlah pada cucuku ini…”

“Sendiko dawuh Kanjeng Prabu…”

“Sudah ngger aku tinggal dulu, terimakasih derajatku sudah pindah di sana…”

“Sama-sama kek….”

Sebentar kakek Bandung Bondowoso terbang ke atas…. aku berhadapan dengan para jin yang milyaran banyaknya.

“Kalian tinggal di mana?” tanyaku pada para jin yang menunduk bersimpuh di depanku dengan khidmat.

“Kami tinggal di pintu gerbang Prambanan gusti…”

“Tak usah memanggilku gusti, panggil saja kyai…”

“Ya kyai, saya ikut saja apa kata kyai.”

“Bukankah di Prambanan dan sekitarnya para jin sudah ku Islamkan, kenapa kalian tak pernah menghadapku untuk minta diIslamkan?”

“Wah kyai, kami ndak berani menghadap, kalau kyai tak memanggil kami, kyai keturunan tuan Prabu Bandung Bondowoso, sedang kami hanya orang kecil.”

“Kalian ku Islamkan dulu ya…”

“Siap kyai, apa yang kyai perintahkan, akan kami laksanakan.”

Lalu ku ajarkan melafadzkan dua kalimat sahadat, dan setelah selesai, aku bicara lagi.

“Kalian bisa mengangkut batu yang besar sebagaimana mengangkatkan batu milik kakek Bandung?”

“Bisa kyai, tapi kami hanya bisa di malam hari, jika di siang hari kami tak bisa.”

“Ooo begitu rupanya… aku pernah memerintah ribuan raksasa untuk mengangkut batu, tapi kok ndak menjadi nyata, batunya tetap gaib, itu bagaimana?”

“Ya kyai… jika batu yang diambil dari alam gaib, ya gaiblah kyai, batu yang diambil dan diangkat dari alam nyata, nanti batunya akan nyata, kyai beli batu saja, nanti kami yang akan mengangkatkan.”

“Walah, kalau begitu ya ndak usah diangkatkan…”

“Lalu bagaimana maunya kyai?”

“Ya kan semua telatah sungai, gunung Merapi dan semua gunung di segala penjuru adalah daerah kekuasaanku, kenapa tak mengambil dari sana…”

“Baik kyai perintahkan saja, kami mengambil dari mana, nanti akan kami ambilkan.”

“Ya begitu saja, nanti kalau aku butuhkan kalian kami panggil…”

“Siap kyai…”

Lalu jin yang menjadi anak buahnya Bandung Bondowoso itu pergi pamit, dan aku masih dalam mimpi yang panjang, dan mimpiku ini belum habis untuk diceritakan.

Mengalami pengalaman yang aneh-aneh, walau dalam mimpi, apa juga maksudnya, dan apa di balik rahasia yang sebenarnya terjadi ini, kadang timbul pertanyaan, tapi tak menemukan jawaban atas tanya, mengalami kebuntuan, ya sudah biarkan saja, semua berlalu sebagaimana biasanya. Seperti aku tak bermimpi apa-apa, seperti aku tak mengalami apa-apa.

Tapi dalam sehari bisa saja terjadi jutaan mimpi dan kejadian, mimpi seperti udara yang tertangkap jaring laba-laba, bahkan untuk memaknai satu mimpi kadang dibutuhkan jerat yang rapuh, dan kepasrahan pada sang penentu kejadian adalah yang paling bisa diandalkan untuk kita manusia yang tiada daya. Di mimpi yang teramat banyak ini, siapa juga yang mau menikmati setiap kata yang ku susun dari sesuatu yang tak ada sama sekali wujudnya, orang yang membaca mimpiku ini aku katakan orang yang bodoh dan mau dibodohi, orang yang sudah kehilangan jati diri, apalagi sudah mempercayai mimpiku ini, aku mengatakan orang itu sudah kosong pikirannya.

Dan orang kosong itulah yang bisa diisi, yang bisa dimasuki paham dan kepercayaan yang membabi buta. Jika yang masuk benar, maka akan cepat terisi penuh dengan kebenaran, jika yang mengisi adalah kesesatan, maka akan cepat terisi dengan kesesatan.

Aku akan bercerita mimpi tentang malaikat.

Sebenarnya mimpi ini sudah lama juga aku simpan, karena mau diceritakan juga namanya malaikat, jadi lebih gaib dari jin, tapi kalau ndak diceritakan juga aku akan keburu lupa.

Pertama, aku mimpi di datangi banyak malaikat, banyak sekali, mereka berbaju putih semua, dan berbaris di belakangku kalau aku sedang sholat. Dalam mimpiku itu mereka malah dapat ditangkap dengan kamera, di-video dan di-foto, jadi ingat kalau lihat foto-foto di internet, malaikat yang ini itu, ditangkap kamera, kok beda dengan malaikat yang tertangkap kamera di rumahku, mereka seperti sebagaimana manusia, cuma berpakaian putih-putih dan semua mempunyai sayap.

Sampai beberapa muridku dimasuki malaikat, aneh juga mimpinya, dan malaikat itu bernama khodam, aku bertanya pada guruku lantas dijelaskan dengan detail soal malaikat ini. Dan penjelasan guruku itu ku terjemah dalam bahasaku yang lebih simpel atau makin rumit bagi yang membacanya.

Al-ilmu nurun, ilmu itu cahaya, tau kan cahaya, karena ilmu itu cahaya maka membutuhkan tempat penyimpan yang bernama cahaya pula, dan yang diciptakan dari cahaya itu adalah malaikat, jadi ilmu itu membutuhkan tempat penyimpan file ilmu yaitu malaikat, karena sesuai zatnya ilmu, air bisa disimpan di galon, kendi, dan apa juga yang tak bocor di bawahnya, segala sesuatu itu membutuhkan penyimpan apa saja yang sesuai dengan sifat zat itu, sebagaimana file mp3 yang bisanya disimpan di memory card, atau cd atau dvd, jika memory card hp kok ada isinya mp3, ketika dimasukkan ke hp, dengan sendirinya hp akan bisa memutar mp3 yang ada di hp, sama malaikat yang sudah ada ilmu di dalamnya lalu dimasukkan ke manusia, maka manusia itu dengan sendirinya akan bisa memakai segala ilmu yang ada di dalam malaikat itu, tanpa harus belajar lagi, jika pemutar mp4, maka hanya butuh tambahan software yang bernama mp4 player, dan lain sebagainya, sama saja jika malaikat itu dimasukkan ke manusia, maka manusia yang dimasuki itu akan dengan sendirinya bisa melakukan keilmuan yang ada di dalam malaikat itu, sebagaimana hp bisa memutar mp3 yang ada di memory.

Manusia yang akan dimasuki malaikat juga begitu, dia akan bisa dimasuki, kalau di dalam tubuhnya itu ada tempat untuk menyimpan malaikat itu. Dan penyimpanan itu harus dibentuk lewat puasa dan dzkir sebab penyimpan itu untuk ruhani. Ingat ada hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (Hadits ini diriwayatkan Al-Imam At-Tirmidzi di dalam Sunan beliau no. 2681, Ahmad di dalam Musnad-nya (5/169), Ad-Darimi di dalam Sunan-nya (1/98), Abu Dawud no. 3641, Ibnu Majah di dalam Muqaddimahnya dan dishahihkan oleh Al-Hakim dan Ibnu Hibban. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah mengatakan: “Haditsnya shahih.” Lihat kitab Shahih Sunan Abu Dawud no. 3096, Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2159, Shahih Sunan Ibnu Majah no. 182, dan Shahih At-Targhib, 1/33/68)

Jadi ulama’ atau orang yang berilmu itu adalah pewarisnya para nabi, tau kan yang namanya warisan, warisan itu tak perlu kerja, namanya juga warisan, seperti kita mendapatkan warisan uang trilyunan, ya warisan itu ndak perlu dengan kerja baru dapat warisan, kalau kerja lalu dapat uang itu namanya upah atau gaji, kalau warisan, apa yang kita butuhkan jika dapat warisan, ya kita menyediakan tempat untuk menampung warisan yang akan kita dapat, dan karena warisan itu berupa ilmu, atau ilmu itu cahaya, maka yang dibutuhkan adalah penyimpannya yaitu malaikat, kalau dapat warisan uang, ya jelas yang diperlukan adalah brangkas, kalau warisannya banyak.

Jadi yang perlu dilakukan adalah agar tubuh itu bisa menerima khodam malaikat untuk menyimpan aneka ilmu yang akan diwariskan nabi, dan para auliya’, jika kita belum punya brangkas yaitu malaikat sebagai penyimpan ilmu, ya ndak bisa ilmu itu kita terima warisannya.

Kembali pada mimpiku, aku didatangi, oleh Imam Syafi’i, beliau memberikan warisan banyak ilmu memasukkan ke kepalaku, dan didatangi Imam Ghozali juga menerima banyak ilmu dan kepahaman soal hal-hal yang halus soal keilmuan tasawuf, juga beliau memberikan khodam malaikat untuk ditempel di kepalaku. Terus terang sekalipun mimpi, aku sendiri akan bertanya langsung dengan beliau yang mendatangi, ini ruh idhofi atau ruh biasa, atau hanya khodam, atau hanya jin saja. Hal yang sangat riskan soal gaib itu harus sangat teliti. Tak bisa main percaya saja. Misal didatangi Imam Ghozali akan ku tanya soal ihya ulumudin, setidaknya pada rubu’ sekian sekian dia menuliskan apa?, dia kan penulisnya, pastilah kenal betul dengan tulisannya sendiri. Sama kalau didatangi Imam Syafi’i saya akan tanyakan soal kitab al-um jilid sekian menjelaskan soal apa? Jin gak akan mengerti.

_______________________________________________

Sekarang aku akan bercerita soal mimpi yang lain.

Dalam mimpi aku ini sudah menjadi raja segala jin, dari segala penjuru, ya namanya juga mimpi, ya sah-sah saja kejadian di alam mimpi, yang mau mimpi menjadi atau punya kedudukan di atasku juga boleh, heheh… Tapi di mimpinya sendiri, jangan duduk di kepalaku, heheheh.

Nah dalam mimpi itu semua jin di seluruh dunia datang padaku, dan ingin menyerahkan semua harta karun mereka yang mereka simpan sudah ratusan juta tahun, bayangkan menguasai segala macam kerajaan jin di alam raya ini, jelas akan mewarisi juga semua harta kerajaan jin, dari Dewi Lanjar, Ratu Laut Selatan, ratu segala laut, gunung, lembah, sampai Ujung Kulon, dan sampai raja laut merah penjuru bumi, datang berbondong-bondong mau menyerahkan hartanya.

Setahuku yang bisa mewujudkan harta gaib itu adalah 3 malaikat yang mendapatkan tugas, yaitu malaikat yang menjadi khodamnya surat ikhlas, yaitu Abdussomad, Abdul Wahid, dan Abdurrokhman, ketiga malaikat itu yang aku tau bisa mengambilkan dan mewujudkan harta gaib menjadi nyata.

Di bayanganku, ku kira mewujudkan harta gaib menjadi nyata itu hanya bin salabin ada kadabra, kayak orang memainkan acara sulap menyulap.

Ku tarik ulur ke belakang, di tahun 2005-2006, aku pernah mendapatkan tugas dari guruku, untuk memanggil Abdusomad Abdul Wahid dan Abdurrohman, tapi dua tahun ku panggil, sampai lelah, aku tak pernah ada jawaban, ya hanya manggil saja, atau kali saja dia datang tapi aku yang tak tau. Tak tau aku… yang jelas menurut pendapatku aku tak pernah didatangi, sampai aku akhirnya berhenti sendiri.

Sekarang di mimpiku, ketiga malaikat itu datang di depanku. Mereka duduk menunduk di depanku, dan memperkenalkan diri masing-masing… setelah perkenalan,

“Maaf, dulu kan saya memanggil kalian bertiga, dan kalian bertiga tak pernah hadir, tapi kenapa sekarang malah hadir?” kataku dengan menyelidik.

“Maaf kyai, kami dulu waktu kyai memanggil, kyai belum tingkatan bisa menghadirkan kami, jadi sekalipun kami hadir, kyai juga tak akan tau kehadiran kami.” jawab Abdussomad.

“Ooo begitu, lalu sekarang?”

“Ya kami bertiga siap diperintahkan untuk mengambil harta dari mana saja, kyai kehendaki, kyai kan sudah menjadi raja segala jin, jadi kyai bisa mengambil harta dari mana saja kyai kehendaki.”

“Baik kalian ku perintah mengambil harta dari yang ku kehendaki.”

Lucu juga kejadian yang dialami di alam mimpi, Abdussomad lantas mengambil harta dari Dewi Lanjar di laut utara, dan dia berangkat, mungkin maksudnya adalah agar tak menyulitkanku, ketika yang diambil emas, dan agar aku langsung bisa memakainya, dia jual emas itu di jin lain, dengan uang jin tentunya.

“Kyai… uangnya sudah saya taruh di tempat kyai…” kata Abdussomad.

Aku di bawa Abdussomad pada uang yang dibawanya…

“Mana, kok gak kelihatan?” tanyaku, karena memang tak ada apa-apa.

“Lhoh uangnya kan di depan kyai ini, bertumpuk-tumpuk…” ototnya. Waduh gak beres ini.

“Uang apa? Sama sekali tak ada uang, kamu tadi bagaimana Abdussomad ceritanya soal uang ini, bukannya ngambilnya dari Dewi Lanjar adalah bentuk lempengan emas?”

“Iya benar kyai… tadi ku ambil dari sana bentuk lempengan emas, lalu agar tak menyusahkan kyai, kyai bisa memakainya langsung, lantas uang itu saya bawa ke kerajaan jin lain, dan saya suruh membelinya, jadi saya bawa ke sini dalam bentuk uang..”

“Wah itu namanya uang gaib, gak wujud, jangan-jangan uangnya itu uang daun… walah bagaimana to..”

“Maaf pak kyai… maaf… lalu bagaimana ini, emasnya sudah di tempat kerajaan jin itu?” kata dia panik.

“Sudah tak papa, uangnya sudah ku kembalikan saja, ku ambil dari kerajaan itu ku kembalikan ke tempatnya semula, di tempat Dewi Lanjar.” kataku sambil membuat gerakan mengambil uang dan mengembalikan ke tempat emas semula.

Dan emas kembali ke tempat semula.

Kembali dilakukan pengambilan emas dari tempat lain.

Dan lagi-lagi tak wujud tetap saja gaib.

Dan memang mengambil uang atau harta karun gaib itu tak semudah membalikkan telapak tangan, teorinya, kita mengambil uang banyak di dunia nyata saja perlu perijinan dari ini itu, kecuali uang sedikit, dan perijinan itu bisa saja berbelit-belit, misal mengambil dari negara lain, ke negara lain, jadi tidak semudah kelihatannya, apalagi kalau dari gaib ke nyata, maka banyak lagi perijinannya, dan tak semudah kelihatannya, kecuali bersekutu dengan setan, dan iblis, nyupang, pesugihan dan lain-lain, itu menggunakan kekuatan sihir iblis jadi bisa, makanya jangan mudah tertipu kalau ada orang yang mengajak mengambil uang dari gaib, jangan sampai tertipu.

__________________________________________________

Dalam mimpi sekarang aku didatangi berbagai raja kerajaan manusia, namanya juga mimpi, jadi bukan nyata tentunya, mungkin ruhnya atau apa, aku juga gak ngerti. Yang datang raja Tamim, seorang pemuda seumuran 37an tahun yang gagah dia dari Qatar.

“Ini siapa?” tanyaku pada pemuda di depanku, yang tinggi.

“Saya raja Tamim…” jawabnya.

“Dari mana ini raja Tamim?”

“Saya dari Qatar.”

“Raja jin dari Qatar.”

“Bukan saya raja Qatar dari bangsa manusia.”

“Benar, dari bangsa manusia, lalu ini apanya?”

“Saya ruh nya..,”

“Ruh idhofi , atau hanya khodam?”

“Saya ruh idhofi atau ruh aslinya raja Qatar.”

“Oooo…. begitu.”

“Ini murid kyai… ” tanya raja Qatar menunjuk mbak Nur yang duduk agak jauh dariku.

“Boleh… boleh… apa dia ada yang punya…?”

“Tanya saja sendiri..” jawabku.

“Wah saya ndak berani kyai,”

“Kenapa ndak berani..?”

“Dia kan murid kyai..”

“Silahkan saja kalau mau, tanyakan saja…”

“Wah kyai, saya jadi salah tingkah ini, wah bagaimana saya keringat dingin ini…” dia duduknya menjauhi dan mencoba membelakangi mbak Nur.

“Kenapa salah tingkah?”

“Ya gak tau… kenapa saya jadi salah tingkah begini…”

“Jangan malu-malu…”

“Maaf… sudah punya belum mbak ini…?”

“Sudah…” jawab mbak Nur.

“Belum, dia sebelumnya sudah punya suami tapi kemudian cerai.” jelasku.

“Lalu suaminya di mana…?” tanya raja Tamim.

“Ya di rumahnya…”

“Boleh ku minta, kyai..”

“Silahkan saja kalau dia mau..”

“Aduh saya jadi serba salah… kyai saja yang bilang padanya…”

“Kenapa tak bilang sendiri?”

“Saya malu kyai… “

“Hahahah… gak bener ini… ngayal…” kata mbak Nur…

Ya sudah akhirnya terbangun dari mimpi…

Bergantian dalam mimpi, raja Saudi, raja Emirad Arab, dan raja Tamim, juga raja Brunei datang menemuiku.

Namanya juga mimpi, juga aneh-aneh saja…

  1. Sova Sing Cirebon
    29 Januari 2014 pukul 6:27 pm

    lanjutan’y di tunggu kyai… hehehe..
    seru banget…😀

  2. 30 Januari 2014 pukul 11:34 am

    lanjut kyai…🙂

  3. pran
    30 Januari 2014 pukul 5:43 pm

    lanjutannya kyai…………………………saya tunggu

  4. pran
    30 Januari 2014 pukul 5:45 pm

    saya ingin mimpi didatengin kyai nur………dan nabi muhammad saw.

  5. 4 Februari 2014 pukul 4:25 pm

    Sy..ingin. Belanjar bermimpi jdi murid mas kyai…jin aja…bisa jdi murid mas kyai…mungkin sy yg orang2ini. Allah ridho bisa jdi murid mas kyai…Amiin

  6. wildan
    24 Februari 2014 pukul 6:59 am

    pekalongane pundi nggeh?

  7. rus
    9 Maret 2014 pukul 6:45 pm

    ASS PAK KYAI gimana menghubungi pak kyai boleh saya d angkat menjadi murid pak kyai salam moga alloh selalu memberi berkah dan keselamatan amin.

  8. aris
    16 Maret 2014 pukul 3:44 pm

    nderek belajar mas kyai

  9. kasan
    7 Mei 2014 pukul 11:51 am

    nderek ngangsu kawruh mas kya

  10. aep
    21 Desember 2014 pukul 11:22 pm

    Astagfir…….ada aja org yg udah di tolong malah nuduh yg engak2,tak tau trima kasih..sungguh Ter laaaluu.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s