Beranda > sang kyai > Sang Kyai 82

Sang Kyai 82

Lanjutan kisah murid TQNS

[Den Mas Arjuno Arifin‎]

Suatu sore saat awal-awal kami menikah dan saya mengajak istri ke perantauan, hari itu kebetulan saya lagi dines sore, biasa orang rumah sakit ya kayak gini kerjanya. Kadang sibuk kadang ya nyantai aja. Pas sore itu ga biasanya istri tiba-tiba telpon, “bi… pulang jemput umi, umi mau ikut ke kantor, umi takut…..”

Langsung aku pulang… bukan apa-apa memang semenjak istri ikut ngaji ke mas kyai (panggilan kami ke kyai) mata batin istri lebih peka dikit-dikit lihat wong alus. Sering kali dia cerita, “bi kok itu yang di pojokan sering melototin umi matanya hitam, yang di sono tu di sumur tua juga sering lihatin ke sini-sini kadang kala ke belakang rumah klo pas kita habis nyuci baju,” “hmmm, iya mi sabar” cuman itu yang ku bilang sama istri, sampai sore itu istri telpon dan bilang katanya ada laki-laki tinggi item dan rambutnya kribo kayak si Edi Brokoli jalan di belakang dapur… cuman mukanya ga kelihatan. Aku pulang dan marah sekali, ku pikir sudah dialusin kok malah menjadi-jadi.

Dengan amarah aku pulang dan ku baca semua apa yang ku punya yang diijazahkan oleh mas kyai…

Sambil istriku ku suruh lihat ada efeknya atau tidak. Istriku bilang, “ada bi loncatan sinar putih tapi daya yang keluar kecil,” makin ku marah ku bayangkan tanganku mengenggam bola api seolah-olah itu adalah ajian segoro geni dan ku hantamkan ke arah si kribo itu tapi juga ga ada efeknya.

Lalu malamnya aku membuat pagaran rumah setelah sebelumnya aku konsultasikan ke mas kyai. Setelah pagar selesai ga lupa ku pasang juga tower petir dan api kalau ada wong alus yang mendekat.

Setelah semua selesai aku konsultasikan ke sodara kita sang pendekar dari lembah jizan kang ‪Ino‬ untuk melihat pagaran yang ku buat…. kata kang Ino “itu pagermu belum maksimal kang….” terus ku tanya lagi ke sodara kita juga kang Alfaruq katanya “pager pean itu istilahnya belum lengkap kang.” Terus mereka bilang pondasine diadon lebih banyak lagi semennyasemennya, hahaha. (biasa kami memang sering guyon)

Lama-lama aku menyadari betapa lemah amaliyahku. Dari situ aku sering minta nasehat ke kang Ino tentang apapun itu. Sampai sekarang bahkan saat sekarang kang Ino yang diceritakan ga punya lagi pengawal…

Nah saat kyai telah banyak bercerita tentang amarah sifat iri dengki hasud dan lain-lain sebagai menu favorit setan baru juga ku pahami ternyata energy yang ku bayangkan tadi hanya mengenyangkan setan-setan yang mengalir dalam darahku saat aku tiada berdzikir.

[Masrur Ridwan Karangsondo Wetan‎‎]

Minta maaf sebelumnya, mungkin bahasanya agak acak-acakan harap sedulur maklumi tentang kisah perjalanan belajar tawakkal di hari pertama versi kedua (Pak Andri – Ridwan)

Pagi pertama di hari tashrik seusai jamaah shubuh dan izin serta pembekalan dari pak kyai. Agar tidak terlalu banyak kami berempat (Pak Andri, Mas Sa’ad, Mas Rudi dan Aku) akhirnya dibagi dua kelompok dan arah rute keluar dari majlis pun dibagi, Mas Rudi – Mas Sa’ad dari majlis ke timur dan Pak Andri – Ridwan ke barat.

Mungkin ini sudah bukan hal pengalaman pertama lagi bagi Pak Andri tapi bagi diriku adalah awal perjalanan belajar hidup memang benar-benar belajar tawakkal pasrah kepada Allah. Tiada bekal materi hanya berbekal dua kostum pakaian yang satu untuk dipakai sehari-hari dan satu untuk sholat.

Hari pertama yang mana hari kegoncangan niat dalam hati walau sudah sering kuteguhkan kembali niat dalam hati yang ku ulang-ulang namun hati masih belum yakin dan menerima moment yang belum terpikirkan olehku terjadi dan kujalani. Berjalan dengan kepala pelontos yang berhias tas plastik di punggung kutelusuri jalan dengan diliputi rasa malu dan rasa-rasa yang lain yang masih menempel tebal berkerak, namun saat itulah mulai perlahan rasa-rasa itu mulai kukikis sedikit demi sedikit. Berjalan seharian dengan kondisi perut berisi air tapi alhamdulillah Allah memberi nikmat sehat dan kekuatan berjalan di hari pertama dengan kondisi yang lelah capek dan lapar. Semoga menjadi kafarot atas dosa-dosaku.

Di penghujung hari sampailah kami di sebuah masjid di tengah hutan dengan kondisi kurang terawat, tanpa penerangan dan memprihatinkan.

Sesuai konfirmasi Pak Andri akhirnya dieksekusi dibersihkan, barulah sholat jama’ takhir berjamaah dikerjakan. Semakin sore suhu udara semakin dingin dihiasi kabut asap tipis dan suara binatang liar.

Sholat magrib telah usai ritual sehabis sholat pun sudah tinggal dzikir taqorrub sambil menanti waktu isya’.

Tak disangka di masjid di tengah hutan yang tiada penerangan sama sekali hanya cahaya bulan yang menerobos dari balik jendela kaca di pintu samping masjid ada gerakan ingin membuka dari luar namun tak dilanjutkan akhirnya dari pintu utama terbuka, terlihat samar-samar dua lelaki memakai celana training dan ternyata “si Sa’ad dan si Rudi”.

Pak Andri pun heran “lo kok lagi tekan kene?” Akhirnya ngobrol panjang lebar bertukar cerita tentang ilmu yang didapat hari itu.

Sholat isya’ bersama dilanjut dengan ritual selepas sholat namun dengan nada jahr selesai, tanpa diduga di luar sedang ramai dan perwakilan dari mereka menghampiri masuk masjid dan menanyakan darimana mau kemana dan kartu identitas dan kemudian pergi.

Malam itu malam tidur bersama dalam kegelapan, kedinginan dan lelah hingga waktu shubuh.

Hari-hari masa siksaan namun masih berusaha tegar dan selalu berzdikir dalam langkah gerak dan nafas mencari ridho illahi.

Sholat shubuh telah usai dengan segala ritualnya, kabut putih sudah sedikit memudar jalanan yang masih basah akibat hujan tadi malam dan kendaraan sudah mulai lewat antarkan pengendara dengan segala aktivitasnya, kami berempat pun mulai berkemas dan bergegas masing-masing. Udara dingin tak kunjung berubah dari sejak malam, akhirnya kamipun iseng sarapan bunga dan dedaunan kopi muda, sambil menikmati kuasa Allah atas alam ini yang begitu indah sampai ke segala sisinya dengan udara yang bersih dan sejuk yang belum sempat aku nikmati karena gelapnya tadi malam. Terdengar suara riuh alam yang sedang berdzikir memuji kholiq-Nya.

Kaki telah membimbing tuk berjalan yang agak mendaki, setelah berjalan sekitar 500m ternyata ada air terjun yang masihlah asri dengan percikan embun yang sejuk darinya yang dihantarkan angin hingga ke pori-pori tubuhku, tak jauh dari situ di atas bebatuan ada bungkusan roti kacang dan biskuit krekers, dalam hati berkata “wah jaminan Allah nich,,, sarapan telah tiba, terimakasih yaa Allah” telah terbukti pagi-pagi sarapan roti krekers akhirnya dibagi untuk kami berempat.

Matahari sudah mulai meninggi di balik bukit-bukit namun panasnya belum juga mampu menghangatkan kulit mungkin karena medan yang semakin meninggi, lagi-lagi Allah menjamin atas hambanya dengan kadar sesuai kebutuhan dan waktu yang tepat pula.

Perjalanan sudah semakin siang kondisi yang sudah mulai melemah hingga antara kami agak terpisah-pisah jauh walau masih satu jalur karena jalan yang semakin tinggi dan berliku, dengan nafas yang sudah mulai naik turun tak beraturan dengan lantunan dzikir yang menggebu dalam dada, dengan hati selalu berdo’a “yaa Allah kuatkanlah hamba bahwa sesungguhnya hamba lemah tanpa kekuatan dari-Mu, jadikanlah setiap gerak tubuh ini beribadah kepada-Mu yaa Allah… dan setiap hembusan nafas ini berdzikir atas Engkau dan jadikan rasa sakit ini penebus atas dosa-dosa hamba serta jangan Engkau sia-siakan riyadoh ini tanpa ridho-Mu hamba hanya berusaha bertawakkal.”

Kaki terus mengajak untuk berjalan dan terus melangkah, hingga sampailah di dataran yang tertinggi mungkin inilah puncak dari semua bukit dan lembah yang kulalui, terdapat bangunan sekolah dari tingkat dasar sampai tingkat menengah.

Tak jauh dari situ akhirnya saya dan pak Andri istirahat tiduran disusul mas Rudi dan mas Sa’ad dari belakang dan akhirnya kami berempat istirahat siang di bawah hutan pinus.

Namun di jalanan tidak jauh dari tempat kami tiduran terdapat suara bising knalpot usik dengan anak-anak berseragam sekolah yang riuh kesana kemari dengan segudang penasarannya di pikirannya.

“Biarin sajalalah mungkin dikira tahan kabur atau apalah… karena emang kami lagi berseragam gundul-gundul” namun biarlah mereka dengan segala penilaian mereka, yang aku tanggapi saja dengan tidur pulas.

Pak Andri terbangun dan mengajak aku untuk berjalan lebih dulu dengan sengaja tak membangunkan mas Sa’ad dan mas Rudi dengan tujuan untuk memisahkan diri.

Akhirnya pak Andri dan aku melanjutkan perjalanan lebih dahulu hingga menemui persimpangan jalan di sebuah pusat pemerintahan kecamatan. Dengan buru-buru ku geloyorkan saja tubuh ini menuju masjid kecamatan untuk berwudhu sekaligus mengisi tangki unta persediaan air, ternyata keran airnya kosong.

“Wah Allah belum memberi kehendak untuk minum.” tuturku menghibur hati.

Akhirnya kami memilih arah ke kanan namun semakin jauh kami berjalan, jalan yang kulewati semakin kecil dan semakin berbatu dan semakin sunyi sepi, kadang hanya melewati segerumpulan rumah dan hutan.

Kembali, perjalanan semakin ektrim didukung dengan jalan seperti arena mobil oprut dan cuaca yang semakin gelap.

“Pak Andri, apa mungkin kita tersesat di sini pak, apa mungkin jalan ini bertembus?”

“Bila nanti sampai gelap belum juga keluar dari hutan ini ea nanti tidur di sini, pasti Allah punya rencana kenapa kita dilewatkan ke daerah seperti ini tentu bukan tiada tujuan dengan keadaan seperti ini, penduduk dan kondisi alam seperti ini untuk pembelajaran.”

Dari kejauhan terlihat garis putih yang membagi deretan sawah-sawah dan ternyata menghubugkan ke sebuah kampung di puncak bukit sana, akhirnya kami jalan seperti anak kerbau yang rindu induknya.

Karena haus, begitu pula dengan kami yang belum menjalankan sholat jamak takhir yang hari semakin gelap, tinggallah melewati jembatan yang menghubungkan jalan dari bukit ini dan kampung yang di seberang. Yang dengan segera kulewati dan sampailah di sebuah kampung yang tertera nama Sidodadi di dinding tembok sekolah dasar, di kampung yang hanya di huni beberapa kepala keluarga saja terdapat bangunan sekolah dasar dan masjid, yang tanpa waktu lama kutemukan letak tempat Masjid kampungnya.

Sholat jama’ takhir disambung dengan ritual wajib selesai dan akhirnya pak Andri istirahat karena waktu yang semakin sore, pak Andri memilih rebahan sementara aku memilih menyelesaikan tugas wiridku yang belum kelar. Tak kuketahui ternyata dari sebelah kananku terdengar suara pemuda yang mengucapkan dan mengulurkan tangan serta memperkenalkan dirinya, kuperkenalkan juga diriku serta kuperlihatkan kartu identitasku dan mengajak untuk ngobrol dirumahnya yang tak jauh dari masjid yang hanya beberapa meter saja, kuketahui namanya Nasikhin seorang mahasiswa di Pekalongan.

Akhirnya sore itu dijamu dan dilayani keluarga Mas Nasikhin dan ngobrol dengan ketua dukuh setempat karena dianggap orang asing. dan akhirnya diijinkan bermalam hingga dipersilahkan “nyipeng” di rumahnya.

Allah selalu memberikan banyak pelajaran ilmu dari setiap kejadian yang membuatku semakin yakin, lewat mereka-merekalah Allah memberikan pelajaran. Semoga menambah teguh untukku bertawakal kepada-Mu yaa Allah dan selalu meraih ridho-Mu

[Shofwan Hilal]

Beberapa bulan lalu, ba’da Shalat Magrib dan Selesai Dzikir Pondasi, saya dapat sms dari Abang saya, dan disuruh kerumahnya,,, ternyata mau minta tolong, adik iparnya lari dari mobil, saat mau dibawa berobat, adik iparnya itu udah stres menjurus ndak waras lagi. “Wah,,, Bang,,, sayo ndak bisa apa-apa, gimana mau nyari orang ilang, lah kita di Jambi, mereka di jawa, ya mana bisa saya bantu,,,” ujar saya. “Alah,,,Udah lah jangan banyak cerito, pokoknya kamu coba dulu liatin
di mana tu adek ipar,,,” kata abang saya. “Tapi,,,” kata saya. “Kamu mau bantu abang apa ndak,,,??!!” katanya dengan nada marah dan mata melotot. “Waduh,,, ampun bang,,, sayo cubo dulu yo, bener atau ndak sayo pasrah,,,” kata saya.

Saat itu kami duduk di kursi meja makan. Lalu saya berpasrah pada Alloh SWT, memohon izin dan keridhoan-Nya, dan Dzikir dan menuliskan Lafadz Alloh di dada, saat itu saya ndak memejamkan mata.
Lalu perlahan ada tampak suasana kegelapan yang berubah terang, seperti asap tertiup angin, dan tampak ada masjid tua yang di depannya ntah seperti pohon melinjo atau nangka, kurang jelas pohonnya, dan saya liat di dalam masjid itu ada dia, adik ipar abang saya itu, sedang selonjoran di dinding dan di kanannya ada tas bulat kecil. Lalu saya bilang sama abang, “cari masjid tua yang ada pohon satu, mungkin pohon melinjo,,,” lalu abang saya sms paman yang mencari orang itu.

Lalu lebih kurang 10 menit dapat sms lagi, ternyata masjid itu dekat dengan mereka, dan udah nanya orang sana, ternyata tadi magrib ada dia, tapi udah jalan keluar dan ndak tau kemana. Lalu saya diam lagi, dan diberi penglihatan lagi, ternyata dia sedang jalan. Saya lalu suruh Abang sms, “Keluar dari masjid itu pergi ke jalan besar, lalu nanti ada gedung besar, dan di sebrang gedung itu ada halte bus yang di belakang halte itu ada pohon rindang, putar haluan maju dari jalan itu menuju halte, dia jalan di situ dan ada 2 orang yang mengikutinya, mungkin mau merampok dia…”

Agak lama, ada sms lagi,.. Ternyata mereka dah ketemu 2 orang itu, pas mau ditanyain, malah larì. Dan ternyata masih belum ketemu… Dan jam udah jam 11 lewat, tapi belum ketemu, dan mereka udah jalan jauh…

Trus saya bilang, “Gini aja, saya giring dia dari sini menuju masjid tadi, dan akan saya paku kakinya agar tetap di masjid itu,” lalu abang saya sms gitu pada mereka.

Lalu saya konsentrasi, Dzikir Hati, tuliskan Lafadz Alloh di dada dan berdo’a pada Alloh SWT agar dia dibawa ke Masjid Tua tadi, dan saat itu juga saya diberi penglihatan dia ada dalam Masjid itu. Lalu dalam hayal saya, saya pegang kaki kanannya, dan saya paku, dibuat dia tak mampu menggerakkan kakinya, hingga tak bisa jalan.

Sekitar 15 menit, ada sms.

Alhamdulillah. Dia udah ditemukan di Masjid itu dan ndak bisa jalan.
Lalu saya tiupkan telapak tangan saya, dan saya hayalkan mengusap kakinya agar sehat kembali.

Dan ada sms lagi, dia udah bisa jalan, dan udah dalam mobil, mereka melanjutkan perjalanan menuju ke tempat perobatan stres, dan mereka sms lagì, ternyata bersama mereka ada polisi dan dukun, dan polisi dan dukun itu msalut dan mereka memuji saya, dari jarak begitu jauh, ternyata bisa ditemukan, malah bisa digiring dan dibawa ke masjid tadi, dan Abang saya memuji-muji saya hingga berlebihan, dan saya merasakan jadi bangga. Lalu saya pulang ke rumah Emak, ternyata udah jam 1 lewat, dan saya terlewat sholat isya nya, lalu saya ambil wudhu mau sholat, nah, saat saya wudhu, dada sesak, tiba-tiba saya menangis sesenggukan, saya jadi bingung, lalu saya sholat isya, dan ndak khusyu’, karena memikirkan kejadian tadi.

Selesai sholat dan Dzikir, saya berdo’a, dan saat berdo’a, tiba-tiba saya ada perasaan (kata-kata), kalau saya udah sombong dan riya. Lalu saya menangis sejadi-jadinya, menyesali akan kejadian tadi, dan saya berdo’a dan memohon ampun pada Alloh SWT, “bila kejadian-kejadian tadi membuat saya riya’ dan ujub sombong dan tinggi hati, maka hilangkanlah ilmu-ilmu itu dari saya, karena saya masih belum mampu memegang amanah…”

Alhamdulillah, ternyata do’a itu terkabul, saya berusaha terawang-terawang lagi, ternyata ndak bisa-bisa juga, bahkan sampai sekarang.

Terima kasih, Kyai, atas semua kebaikan-kebaikan do’a serta ajaran-ajaran yang Kyai berikan dan ajarkan pada saya. Cinta ini takkan pernah padam, dan saya selalu merindukan Kyai serta saudara-saudara saya lainnya…

[Agus Supriadi]

Sore itu istri memberitahu kalo sepupunya masuk rumah sakit. Dia masuk rumah sakit dengan kondisi sedang hamil 5 bulan. Karna pusing yang dideritanya beberapa hari maka ibunya menyuruh pergi ke dokter, hasil analisa dokter mengatakan kalo dia sedang tinggi tekanan darahnya dan harus masuk ICU. Yang membuat takut adalah dokter berkata, sabar ya bu, yang penting kita selamatkan ibunya dulu, baru kita pikirkan bayinya.

Kaget sekali sang ibu mendengar pernyataan dokter itu.

“kenapa dok, dengan bayinya?”

“ini ibu, karna si bayi ternyata sudah terminum air seni dari ibunya sendiri,,,,”

“astaghfirullah, akhirnya sekeluarga hanya bisa pasrah akan apa yang mungkin terjadi,,,,”

Aku berpikir, wah berat ini. Apa yang bisa kuperbuat. Waktu itu kami sedang akan pergi ke suatu tempat. Sambil berpikir cepat, akhirnya kudapat ide, “Ma, coba sebutin siapa nama sepupu kamu dan nama bapaknya.” dengan cepat, sembari aku mengkonsentrasikan diriku dengan menulis lafadz ALLAH di dadaku, aku berdoa, ‘Ya, Allah, aku minta dengan karomahnya Kyai …, sembuhkan sakit dari … binti … (yang sedang disebutkan oleh istriku), selamatkan ibu dan calon bayinya.” Aku mem-visualisasi-kan kedua tanganku sedang mengambil penyakit dan air seni yang sudah terminum si calon bayinya. Aku lakukan berulang kali.

Malam harinya, setelah sholat isya, setelah selesai dzikir pondasi aku mengulang lagi proses pertolonganku kepada sepupuku itu dengan cara yang sama. berdoa dan visualisasi.

Hari kedua, sepupu kami sudah keluar dari ICU walau masih dibantu oksigen, seminggu kemudian dapat kabar kalo sepupu kami sudah pulang ke rumahnya. Ibu dan calon bayi selamat. Alhamdulillah.

Makna dari cerita ini adalah bahwa aku tidak bermaksud mendakwa’kan bahwa akulah penyebab dari kesembuhan sepupu kami itu. Dari pihakku aku bersyukur bisa melatih ilmu yang kudapat. Terima kasih yang tak terhingga atas kerja keras dan keikhlasan dari dokter dan perawat yang dengan bergegas melakukan tindakan medis pertolongan kepada pasiennya. Dan pastinya bahagia sekali atas kesembuhan sang ibu dan keselamatan dari sang calon bayi, bakal anak pertama mereka.

Koreksi yang sangat besar terhadap diriku adalah, bahwa kudapati bahwa tindakan menolong yang kulakukan menunjukkan beberapa kelemahan. Pertama, belum tergambar secara jelas kondisi phisik sepupuku itu pada saat visualisasi. Kedua, pada akhir tindakan berdoa yang kulakukan harusnya aku sudah mendapati satu ‘petunjuk’ apakah pekerjaan itu ‘hasil’ atau ‘gagal’. Dan ternyata kuncinya adalah aku harus bekerja lebih keras lagi untuk menimbun persediaan ‘energi’ yang lebih banyak, dengan memperbanyak dzikir, wirid dan puasa.

[Mukhamad Ismail‎]

Menapaki Tangga Suci di Gunung Muria

Saat itu hari jum’at akhir tahun menjelang awal tahun hijriyah, saya memutuskan untuk mengajak istri dan anak yang baru umur 10 bulan ziaroh ke Sunan Muria naik carry buntut 90’an, hehe, uji nyali… singkat cerita sampailah di atas tempat parkir dengan selamat selanjutnya mau naik ojek tapi istri ndak berani, lalu kami pun jalan kaki menapaki tangga suci, di tengah-tengah perjalanan istri ndak kuat hampir menyerah meskipun anak kita gendong bergantian, setelah rehat dan minum, sambil jalan saya cerita perjuangan para wali dalam menegakkan agama Alloh… khususnya Sunan Murio dan para santrinya yang harus naik turun gunung untuk dakwah.

Setelah sejam lebih kami sampai di atas, ziaroh dan sholat dan saya lanjutkan dzikir pondasi TQNS yang baru saja dikasih oleh Kyai saat sowan maljis malam minggu kliwon.

Singkat cerita kami turun jalan kaki dan sampailah di rumah sekitar jam 4 sore, mandi, jamaah ashar dan wirid dan doa akhir tahun. Sehabis mandi anak saya tidur pulas mngkin terlalu capek….

Masalah pun muncul setelah bakdal magrib, tiba-tiba anak saya bangun seperti orang kaget lalu nangis sejadi-jadinya sambil mata terpejam kayak orang ketakutan, sekeluarga pun panik bahkan tetangga juga, semua berusaha menenangkan, dan yang buat sawanan (maklum orang jawa) namun semua usaha nihil, pkiran dan mata saya tertuju pada sebotol aqua besar oleh-oleh dari dzikiran di majlis Bligo… dengan memohon pada Alloh saya tulis lafadz Alloh di dada dan wasilah karomah kyai Nur… air saya minumkan, anak saya langsung diam cep… dan memandang saya dengan wajah iba, akhirnya langsung bobo’ lagi pules banget.

Kamipun tidur semua… Hehe, masalah muncul lagi sekitar jam 12 malam, hehehe, tiba-tiba istri saya menangis kesakitan katanya kakinya yang kanan berat sakit luar biasa… dalam hati saya bilang kog aneh tadi jalan pake dua kaki lha kog yang sakit yang kanan aja… tanpa pikir panjang saya beraksi dengan air dzikiran sambil diurut dan diminumkan, anehnya belum selesai urutnya, hehehehe, dah molor tidur lagi…. akhirnya subuh jamaah katanya ndak sakit lagi… hehe, barokalloh semoga manfaat.

[ Arie Frilian Arni‎ ]

Berawal dari membaca kisah “Sang Kyai” dari situlah awal saya mengenal sosok Kyai Nur… dari situ pula.. awal dari proses saya memperbaiki diri untuk lebih mendekatkan diri dengan Allah SWT.

Sejak Kyai memberikan dzikir pondasi lewat inbox.. sejak itu saya mulai mengistiqomahkannya.. awalnya tidak terjadi hal-hal aneh.. namun kemudian setelah beberapa kali menjalankan mulai terjadi reaksinya terhadap saya.. saya juga tidak tahu kenapa setiap menjalankan dzikir kepala saya terasa berat sekali.. sampai dzikir selesai saya jalankan… tubuh saya masih terasa sempoyongan ketika beranjak meninggalkan tempat dzikir saya… ya saya pikir… ah mungkin darah rendahnya lagi kumat.. jadi saya hiraukan saja walaupun pandangan mata juga agak nge “Blur”.

Kadang agar lebih bisa konsentrasi saya sering memejamkan mata saat dzikir alias “Merem”… nah saat itulah saya mulai merasa seakan-akan banyak orang mondar mandir alias “SLIWERAN” di depan saya… dalam hati “haduuh sopo to yo… ada orang dzikir kok malah sliweran” tapi baru sadar.. wong saya di kamar sendirian… karena penasaran, saya membuka mata saya.. alhasil.. memang sepi gak ada orang.. saya sendirian di kamar… entah kenapa sering terjadi seperti itu, tidak hanya di rumah, saat dzikir di tempat saya bekerja pun terjadi hal yang sama.. tapi yah.. biarin wae wes.. Allahualam.

Dan kejadian berikutnya kalau saya lagi dzikir dalam keadaan mata terpejam.. seakan akan ada senter yang sinarnya diarahkan tepat di depan mata saya.. rasanya silau sekali… yah walaupun keadaan mata terpejam.. saya masih bisa merasakan silaunyaa… lagi-lagi penasaran, ketika buka mata hasilnya juga tidak ada apa-apa… heeemm… Ya weslah.. daripada mikir yang aneh-aneh, mending dzikir ajaa… lanjuut.

  1. 12 Desember 2014 pukul 12:33 am

    asslam wwb sederek2,sy ingin tau bgt apa to zzikir pondasi dan ijinkan sy amalkan. ,apa bcaannya gmn crnya praktek sebrapa lamanya,tq atas perhatiannya syukron katsirin,wasslam wwb,fachruddin pekanbaru

  2. Agus
    13 Desember 2014 pukul 5:34 pm

    Assalamu’alaikum. Alhamdulillah saya menemukan blog yang mungkin dapat saya jadikan referensi untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan mungkin juga saya harap menemukan solusi atas masalah yang sedang saya jalani. Saya adalah seorang kepala keluarga dan memiliki 2 orang anak, sekarang saya hampir 2 tahun menempati rumah yang saya singgahi. Ketika menempati rumah tersebut seolah terjadi perubahan pada saya dan keluarga. Saya dan istri sekarang mudah marah dan emosi, dan anak saya setiap tengah malam selalu menangis. Seolah ada aura negatif. Apakah ada yang bisa memberikan saran atas apa yang saya alami. Terimakasih sebelumnya. Wassalamu’alaikum

  3. 15 Desember 2014 pukul 2:06 am

    Mas minta no hp nya

  4. Agus
    16 Desember 2014 pukul 11:24 am

    Terimakasih atas informasinya. jazakallahu khairan

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s