Beranda > sang kyai > Sang Kyai 86

Sang Kyai 86

Majlis ku pindah ke Tuban Jawa Timur, awalnya mau ku pindah ke daerah lain, tapi oleh guruku diberi saran pindah saja ke tempat yang tidak ada kepentingan orang lain di dalamnya, agar perkembangan tidak terganggu dengan kepentingan orang lain yang selalu ingin mendompleng, memancing dalam kolam, kyai ku menyarankan dipindah ke tempat yang milik sendiri, jika pun beli tanah maka harus dengan nama sendiri, sehingga suatu saat ada yang mau merasa menghaki tidak bisa, wah awalnya repot juga dalam kebingungan mencari, tapi akhirnya ku putuskan menjadikan rumah sendiri sebagai majlis saja, ya walau seadanya, dan rumahku masih acak-acakan harus dibenahi, ya gak papalah asal milik sendiri saja, jadi lebih tenang dan tak kawatir dengan adanya orang yang berusaha memanfaatkan keadaan.

Wong hidup itu sudah ada yang ngatur, kita pasrah ridho dengan pengaturan sang maha pengatur, maka itu akan indah dan berjalan pasti, dan alhamdulillah, dzikir pertama di majlis baru berjalan lancar dan aku pun mulai dengan kehidupan menerima tamu dan orang yang ingin minta tolong. Dan tamu mulai berdatangan dari segala penjuru, mungkin aku tak bisa menceritakan satu demi satu, ku ambil saja yang bisa diambil hikmah pelajaran di dalamnya, karena maksudku berkisah itu memang ingin agar kisahku bisa diambil pelajaran, kita bukan membicarakan keburukan orang karena nama dan tempat tinggal cenderung aku rahasiakan, dari kisah itu kita bisa mengambil pelajaran hikmah, dan kita bisa tau yang kadang sebelumnya tidak tau, setidaknya ketika kita mengalami hal yang sama kita bisa tau solusinya.

Sebentar, biar aku nyalakan rokok dulu, agar menulisnya bisa lebih rilek, jangan mengharapkan suatu akhir yang baik atau akhir yang manis dari kisahku, karena ini kisah hidup, jadi akhir ujung ceritanya ada di tangan Allah bukan di tanganku, aku hanya berkisah, bercerita saja. Dan aku bercerita dari kisahku sendiri, agar aku ini tak dusta, apalagi kisahnya juga banyak dan malah kalau ku ceritakan semua akan berjilid jilid buku akan harus diterbitkan karena kisah tiap hari. Dan sekali lagi kisah ini tak perlu dipercaya, karena bukan wajib dipercaya, walau aku bercerita apa adanya, namanya juga kisah, bukan Al-qur’an yang harus diimani, kalau dipakai pegangan ya pegangan Al-qur’an dan hadist, jadi jadikan bacaan saja, sekedar mengisi waktu luang.

Saya biasa menerima tamu setelah sholat dzuhur, kalau pagi saya tidur, dan mungkin itu sudah diketahui sebagian orang jadi kebanyakan tamu datang setelah dzuhur, seperti saat itu ada banyak tamu, salah satu rombongan dari daerah boerno Bojonegoro.

“Ada masalah apa?” tanyaku langsung ke pokok masalah, tak banyak basa basi, karena mengingat tamu dari rombongan lain menunggu.

“Ini kyai, saya sedang ada masalah soal kambing?” kata seorang pemuda, sebut saja Hasim.

“Kenapa dengan kambingnya?”

“Saya itu baru usaha ternak kambing, ada beberapa ekor, yang saya heran kambing saya itu banyak yang mati kyai…, dan matinya selalu tak wajar, kadang satu malam sampai mati 3, padahal sebelumnya sehat-sehat saja, la kok malamnya mati.”

“Tak wajarnya bagaimana?”

“Ya tiba-tiba kejang, lalu kaku, dan mati, ada yang jatuh dari kandangnya, tergantung dari pengikat lehernya, sampai mati. Ya macam macam lah kejadiannya, kayak yang jatuh dari kandang itu tak wajar kyai, karena kandangnya itu kan pembatasnya tinggi, rasanya tak mungkin kambing melompat, tapi la kok kambing bisa keluar kandang, dan terjerat talinya, dan di kandang itu kan ada penjaganya yang saya suruh jaga tinggal di kandang, dia sering melihat penampakan mahluk tinggi besar begitu kyai….”

“Ya biar ku coba panggil mahluk yang tinggi besar yang dilihat oleh penjaga kandang itu, nanti bisa ditanya, apa masalahnya.” lalu ku tarik mahluk besar yang dilihat oleh penghuni kandang dan ku masukkan ke mediator. Setelah masuk ke mediator,

“Kamu siapa? dari golongan apa?” tanyaku pada mahluk yang ada di tubuh mediator.

“Ampun kyai… ampun…” katanya beringsut.

“Kamu tau , siapa aku?”

“Tau, kyai penguasa alam gaib.”

“Maka jawab saja pertanyaanku, jangan sampai bohong.”

“Ya kyai saya tak berani bohong, tapi saya jangan diapa-apakan.”

“Tak ku apa-apakan, kamu siapa? dari golonga apa?”

“Saya siluman…”

“Kalau siluman berarti kamu dulu manusia waktu masih hidup di dunia?”

“Ya kyai, saya manusia.”

“Waktu masih menjadi manusia hidup di jaman siapa?”

“Saya hidup di jaman Pajajaran kyai…”

“Apa jaman Prabu Siliwangi?”

“Ya, jaman Prabu Siliwangi.”

“Kamu musuhnya apa berteman dengan Prabu Siliwangi?”

“Saya musuhnya.”

“Kamu tau ada hubungan apa antara aku dengan Prabu Siliwangi?”

“Kyai keturunannya, dapat ku cium darah Prabu Siliwangi.”

“Dulu kamu memusuhi Prabu Siliwangi, apa sekarang kamu mau memusuhiku?”

“Ampuun kyai, kami tak berani, kyai menjentikkan jari pun saya akan mati jika kyai menghendaki, bagaimana saya berani memusuhi kyai.”

“Lalu apa kamu apa pernah melihat orang ini?” tunjukku kepada pemuda pemilik kambing.

“Iya sering kyai,”

“Di mana kamu melihat?”

“Di kandang kambing.”

“Kamu yang suka membunuh kambingnya?”

“Iya saya dan teman-teman kyai.”

“Memang ada berapa siluman di sana selainmu.”

“Banyak kyai, ada 500an,”

“Kok kambing pada mati itu kamu apakan?”

“Dihisap darahnya, saya butuh makan kyai.”

“Aku perintahkan kamu dan temanmu jangan lagi mengganggu kambing itu apa kamu mau?”

“Saya tunduk pada perintah kyai, saya tak berani membangkang.”

“Sekarang panggil semua jin dan siluman di kandang itu semua panggil kesini.”

“Baik kyai.”

Maka dipanggil semua, lalu ku islamkan, setelah selesai, ku suruh menjaga kandang kambing itu, ku kira masalah akan selesai, setelah pengislaman jin dan siluman di kandang kambing itu, ya setelah kejadian itu ternyata, seminggu kemudian aman aman saja, tapi setelah seminggu ada lagi kambing yang mati, orang yang punya kandang kambing datang lagi.

“Wah kambingnya ada yang mati lagi, semalam sampai mati 3 kambing.” katanya dengan wajah lesu.

“Wah mungkin baiknya pelihara semut rangrang saja, mati 5 kan gak mahal setiap ekornya, kalau kambing ya kelihatan mati tiga saja kalau 1 nya 2 juta, 3 kan sudah 6 juta.” kataku bercanda untuk meredakan kesedihannya.

“Apa ada siluman lain yang meminum darah kambing saya?”

“Wah saya tak tau, saya tak mau main tebak-tebakan, tapi ini kayaknya bukan mati karena itu.”

Ku tarik jin yang mengganggu kambing, masuk jin ke tubuh mediator.

“Siapa kamu?, dari golongan jin apa dari golongan siluman?”

“Saya dari golongan jin.” jawabnya ketakutan.

“Kamu dikirim apa maunya sendiri kok mengganggu kambing itu?”

“Ampun kyai, saya hanya disuruh.”

“Siapa yang menyuruh?”

“Orang.”

“Ya orang lah, masa yang nyuruh ayam…”

“Tak tau kyai..”

“Ya sudah kamu keluar dulu di depan orang yang kamu masuki.”

Dia pun keluar dan ganti ku tarik ruh dan sukma dukun yang mengirim, setelah masuk ke mediator, lalu ku tanya.

“Sampean orang mana?”

“Lhoh kok aku bisa di sini ini bagaimana?”

“Ya bisa, kan nyatanya bisa, jawab saja pertanyaanku.”

“Kamu orang mana?”

“Saya orang Bojonegoro.”

“Kamu yang mengirim jin ke kandang kambingnya orang ini?” aku menunjuk orang yang punya kambing.

“Iya aku hanya disuruh saja.”

“Ya aku tau kamu disuruh.”

“Dikirim apa itu kambingnya?”

“Ya paku, jarum, bambu..”

“Apa maksudnya dikirim seperti itu?”

“Ya kan aku diminta sama orang yang menyuruh, dia menyuruh ya aku dibayar, ku laksanakan.”

“Siapa yang menyuruh?”

“Aku tak tau,”

“Sudah lama?”

“Baru beberapa hari yang lalu.”

“Itu diambil tidak kirimanmu?”

“Masak ku ambil lagi, kan saya sudah dibayar.” jawab dukun seenaknya.

“Ya kalau begitu saya yang mengembalikan.”

“Ya ya ku ambil.”

Lalu dia mengambil.

Setelah beberapa saat berlalu……………

“Sudah diambil semua belum?”

“Sudah..”

“Benar….?

“Ya ..”

“Semua kiriman yang tertinggal, kembali ke yang mengirim, sampai bersih…” kataku.

Maka orang yang di dalam mediator menjerit…. kesakitan, ku tambahi kata, “Juga kembali ke yang menyuruh dukun.”

Lalu ku tarik yang menyuruh dukun masuk ke mediator lain.

Dia masuk lalu mengaduh aduh.

“Aduuuh ini kenapa saya, aduuuh sakiit.” jeritnya orang yang menyuruh dukun.

“Hm… kenapa?”

“Wah ini aku juga kemana di mana aku uuu.”

“Di tempatku…”

“Kok bisa aku di tempat ini, bagaimana bisa?”

“Kamu yang menyuruh dukun ini mengirim santet ke kambing?”

“Wah pasti ini sakitku karena ini.”

“Sudah jawab saja.”

“Ya aku yang menyuruh.” jawabnya dengan nada tak suka.

“Kalau kamu tak suka, kamu bisa minta dukun lain nanti menyerangku, ada urusan apa kamu dengan orang ini sehingga kok menyuruh dukun menyerangnya, kamu kenal tidak dengannya?”

“Ya kenal lah..”

“Kenal di mana?”

“Kami tetanggaan.”

“Lalu ada urusan apa menyerang dia?”

“Ya persaingan lah.”

“Persaingan apa?”

“Ya usaha..”

“Kamu menyerang orang lain itu mau diserang?”

“Gak mau, kan aku sekarang sudah kesakitan.”

“Siapa namamu?”

“Ah tak usah nanya itu.”

“Kenapa?”

“Malu lah, aku kan menyerangnya juga sembunyi sembunyi, masak aku disuruh mengaku.”

“Benar gak mau menunjukkan namamu?”

“Tidak.”

“Apa yang masuk di dalam tubuhmu itu menyala semua kalau kamu gak mau mengaku.”

“Ya aku mau diapakan juga terserah, tapi aku tak mau mengaku.”

“Baik itu bukan salahku jika bertindak keterlaluan.”

“Terserah saja la aku ya sudah tak berdaya.”

“Baik, tubuhmu melepuh semua terbakar..”

“Haduuuh..” mediator melintir lintir.

“Bener masih tak mau mengaku?”

“Tidak.”

“Ya sudah, melepuh semua ini tak akan hilang sampai kapanpun.”

“Aduuuh.”

“Mas nanti kalau ada tetangganya yang melepuh semua tubuhnya, ya itu yang menyuruh.” kata ku tujukan kepada pemilik kambing.

Lalu ilmu si dukun ku cabut semua, dan kedua ruh sukma itu ku kembalikan ke tubuhnya masing-masing. Semoga saja masalahnya beres.

Memang dalam kehidupan itu selalu terjadi hal yang demikian, usaha apa saja akan ada saja orang yang iri dengki, karena memang setan itu makanannya iri dengki, sombong, ujub, riak, dan aneka perbuatan dosa, tak akan bisa dimakan oleh setan sebelum menjadi perbuatan dosa yang dicatat malaikat sebagai perbuatan dosa, itu tak beda dengan petani yang menanam padi, padi belum bisa dimanfaatkan untuk membeli hal yang lain misal makanan, kalau padi itu belum dibeli oleh si pembeli, berapa timbangannya dan berapa harganya, setelah dibayar oleh pemborong, padi baru dibayar uang dan uang baru bisa dibelikan makanan yang bisa dimakan.

Itu tak beda dengan setan yang bekerja menggoda manusia, diajak iri dengki, dan rancangan dosa yang lain, jika iri dengki itu baru di dalam hati belum berupa suatu tindakan dosa, maka belum bisa dimakan oleh setan, jika sudah berupa tindakan dosa, entah itu fitnah, entah seperti menyakiti yang diiri dan didengki, jika sudah berupa tindakan menyakiti orang yang diiri dan didengki, baru dicatat oleh malaikat sebagai perbuatan dosa, dan bisa dimakan oleh setan yang bekerja. Semoga kita dilepaskan dari iri dengki dan perbuatan buruk yang menyertainya. Setidaknya kita tau iri dengki itu adalah sumber dari aneka macam perbuatan tercela.

**********

Cerita, karena lagi urusan soal harta gaib, ada 2 orang yang mendatangi saya, la kok yang ditanyakan soal harta gaib saja, satu orang cerita, kalau dia punya rumah di rumahnya itu katanya ada banyak uang gaib, la kok tau dari mana kalau ada harta gaib? ya dari saudaranya yang dirasuki oleh penunggu harta itu. Dan menurut ceritanya sudah banyak orang didatangkan untuk mengambil harta itu tapi tak satupun bisa mewujudkannya menjadi nyata, bahkan sudah banyak dana dikeluarkan untuk membeli ugo rampe entah minyak yang berharga jutaan rupiah, atau alat yang lain yang berharga jutaan, tapi tetap saja hasilnya nihil, tak ada sama sekali hasilnya, tapi yang menjaga harta itu tetap saja ingin harta itu diambil, aneh, dan untuk membuktikan keberadaannya adalah benar penjaga yang katanya bernama engkoh liong dan engkoh ma, ya katanya dari China, itu dia membuktikan dengan memberikan aneka benda pusaka kepada pemilik rumah. Ada keris, guci, tombak, akik dll. ditemukan satu demi satu di rumah itu, yang sebelumnya barang itu tak ada.

Jin setan itu memang tugasnya berbagai macam cara menundukkan manusia dengan godaan-godaan, dan salah satunya godaan dengan harta benda, ya salah satunya itu dengan mengiming imingi harta gaib. Setelah sekian lama diupayakan tak membawakan hasil, sampailah orang itu ke rumahku. Setelah panjang lebar bercerita saya sedikit menjelaskan. Ya tentunya dengan sepengetahuan saya.

“Setahu saya, ya ini sebatas taunya saya, harta gaib itu, bisa saja diambil, tapi jika mengambilnya dengan cara gaib, maka ya sifatnya gaib, kalau diambil dengan nyata maka sifatnya nyata, diambil dengan gaib itu ya tidak dengan melakukan perbuatan nyata, misalkan jika di dalam laut tidak memakai diselami, dan jika di dalam tanah tidak dengan digali, maka sifatnya gaib, sekalipun bisa dilihat ya tidak bisa dimanfaatkan, jika bisa dimanfaatkan maka harus memakai kekuatan iblis, atau dengan kekuatan Allah, kalau dengan kekuatan anugerah Allah ya harus lewat proses yang panjang, kesabaran, jika memakai proses iblis ya cepat tapi dengan menyerahkan korban, orang yang dikorbankan.” jelasku.

“Masak begitu, tapi saya sering mendengar orang bisa mewujudkannya…” jawab orang itu.

“Ya biasanya wujud uang sekalipun ya hanya wujud uang saja, tapi misalkan diambil akan berwujud debu.”

“Tapi ini kok mereka minta diwujudkan.”

“Maksudmu penunggunya?” tanyaku pada orang yang minta solusi uang gaib itu.

“Ya saya kan bisa memanggil mereka, biar lebih jelasnya nanti biar penunggu uang gaib itu yang menjelaskan.”

“Bisa dipanggil?”

“Bisa.”

Lalu ku panggil kedua penunggu harta gaib itu yang katanya bertempat tinggal di 2 piring kuno dari Cina. Ku panggil keduanya dan ku masukkan ke dua mediator.

“Siapa kamu..?” tanyaku pada salah satu mediator.

“Saya Ma…” jawabnya.

“Lalu yang satu ini.”

“Saya Liong.”

“Apa benar kalian itu penunggu harta gaib?”

Keduanya berusaha menjauh dariku, mungkin kepanasan.

“Iya….,

“Tapi itu uang beneran?”

“Iya uang benar.”

“Kalian penjaga apa pemiliknya?”

“Kami pemiliknya.”

“Uang dari mana?”

“Dari iblis.”

“Kok dari iblis?”

“Ya itu bayaran atas kerja kami, upah kami jika bisa menyerahkan ruh atau sukma kepada iblis.”

“Ruh atau sukma mau diapakan? ruh sukma milik siapa?”

“Ruh dan sukma dari orang yang bisa kami tipu, dan kami perdaya.”

“La kalian ini dari golongan setan, jin, apa siluman.”

“Saya golongan jin.” jawab Ma.

“Saya golongan jin yang sudah mau jadi siluman.”

“Kok jadi siluman? Siapa yang menjadikan?”

“Ya iblis yang menjadikan kami sebagai siluman.”

“Jadi uang itu uang beneran?”

“Ya beneran, tapi gaib.”

“Dari mana uang itu?”

“Dari bank gaib, itu bayaran kami selama ini karena bisa menyerahkan ruh dan sukma kepada iblis.”

“Ooo begitu rupanya?”

“Ya.”

“Lalu apa bisa diwujudkan jadi nyata?”

“Bisa.”

“Caranya?”

“Ya berikan persembahan pada kami.”

“Persembahan apa?”

“Nyawa manusia.”

“Kok nyawa manusia? bagaimana kalau persembahannya kambing saja.”

“Kan yang mau memanfaatkan manusia, masak memberinya kambing?”

“Ya biar ku berikan pada kambing saja, bagaimana?”

“Mana ada kambing makan uang?”

“Ada lah, kan dibelikan rumput dan pakan kambing.”

“Itu namanya juga yang memanfaatkan manusia. Jadi tetap korbannya harus manusia.”

“Benar ini tak bisa ditawar?”

“Gak bisa.”

“Kalau ku ambil sendiri?”

“Jangan pak kyai, itu uang haram,”

“Kok kalian tau haram segala?”

“Ya tau, kan pak kyai tidak boleh makan uang haram.”

“Ini ku ambil., apa ini uang kalian?” ini masih tak terlihat sama sekali di alam nyata.

“Lhoh iya itu uang kami, pak kyai kembalikan, jangan diambil, wah pak kyai, pak kyai ini kan majlisnya sudah penuh emas berlian, kok masih ngambil uang kami yang sedikit.”

“Gak aku hanya menunjukkan saja, kalau aku mudah mengambilnya.”

“Ooo, tapi kembalikan uang kami.”

“Iya ini ku kembalikan…”

“Ya itu cahaya yang melindungi uang itu diambil dulu, saya gak bisa mengambilnya.”

“Ya sudah uangnya gak ada cahayanya,” ku usapkan tanganku sehingga cahaya yang meliputi uang sirna.

“Bener ini pak yai mengembalikan padaku?”

“Ya.”

“Disini banyak emas lempengan, saya tau pak kyai tak butuh uang kami.”

“Memangnya kalian tau ada emas lempengan di majlis saya?”

“Ya tau, tapi emasnya dilapisi cahaya penjaga, sehingga bangsa jin dan setan juga siluman tak bisa mengambilnya, saya saja silau melihatnya, karena cahaya itu.”

“Memang banyak emas di majlis ini?”

“Ya banyak sekali, sampai penuh, sampai ke dalam sana.”

“Jadi kalau uang yang kalian jaga itu mau diwujudkan ke alam nyata bisa dipakai manusia caranya harus ada korban?”

“Ya…. pak kyai beri saja korban, nanti uangnya saya antarkan kesini, pak kyai gak perlu susah susah.”

“Ah ngapa juga uang haram, masih pakai korban segala.”

“Ya saya tau pak kyai gak akan mau.”

“Heh kalian ini sudah islam apa belum?”

“Belum.”

“Mau masuk islam?”

“Gak kyai, saya mending jadi pengikut iblis saja.”

“Benar gak mau masuk islam?”

“Gak kyai…”

“Ya sudah pulang sana.”

“Kami gak diapa-apakan.”

“La mau diapakan?”

“Ya siapa tau mau dibunuh..”

“Gak, sudah sana pergi.”

“Ya sudah kami permisi…”

Lalu kedua jin penunggu harta gaib itu keluar.

——————————————————-

Yang kedua ada pemuda yang biasa mengambil uang gaib, ceritanya, katanya sih biasa mengambil uang gaib, tapi heranku kok ya miskin saja kehidupannya.

“Ada apa mas…?” tanyaku.

“Ya pertama saya ingin silaturahmi, kedua, saya ingin diangkat jadi murid, yang ketiga, saya ingin menceritakan masalah saya.”

“Masalahnya apa?”

“Gini kyai, saya itu kan biasa melakukan ritual mengangkat harta gaib, tapi la kok hidup saya itu makin susah.”

“La apa harta gaibnya gak pernah dimanfaatkan?”

“Nah itu lah kyai, saya sering mengangkat harta gaib, sering juga dapat, dan wujud nyata, bisa dipegang, tapi kok ya gak bisa dimanfaatkan.”

“Ya dibelanjakan.”

“Itu yang gak bisa, dan uang gaib itu akhirnya hilang lagi.”

“Gak bisanya kenapa?”

“Ya gak tau, gak bisa saja dimanfaatkan.”

“Contohnya apa? misal uangnya dipegang lalu jadi debu?”

“Gak , gak jadi debu.”

“La terus?”

“Ini contoh ceritanya….. saya pernah mengambil uang gaib, kami bertiga, saya, orang dari Banten, dan orang dari Dresmo. Kami melakukan ritual ya lengkap lah persyaratan kembang 13 rupa, menyan, dan minyak dll, semalaman kami melakukan ritual, dari jam 8 malam sampai jam 2 malam, ada banyak sekali laron yang datang, buanyak sekali, malah membuat suara gaduh, karena sangking banyaknya, lalu laron itu masuk ke dalam karung yang kami sediakan, semua masuk, sampai bersih, dan karung kami angkat, berupa uang, semua wujud nyata, ya uang 100 ribuan yang bisa dipakai, tapi kami bertiga gontok gontokan berantem, walau tak sampai adu fisik, masing masing ingin menguasai. Sampai kami diamkan uang itu, karena masing-masing gak mau ngalah, padahal uang itu sudah dites dibelikan rokok ke warung juga laku. Sampai akhirnya uang itu gak kami bagi, karena masing masing ingin memiliki sendiri. Kami memutuskan memikirkan solusi terbaik, dan akhirnya uang itu musnah , hilang.”

“Ooo begitu rupanya.”

“Ini masalah lagi kyai, di rumah saya menurut penerawangan orang, karena saya sendiri tidak bisa terawang, kata yang menerawang itu di rumah saya ada harta karunnya.”

“Kamu percaya?”

“Ya percaya gak percaya, saya sedikit percaya.”

“Alasannya?”

“Karena saya sering sendiri wirid malam itu di rumah didatangi raksasa yang tinggi besar, dia membawa nampan, dan isinya nampan itu patung dari emas, dibawa di hadapan saya, tapi sebentar kemudian penampakan itu hilang, dan itu sering terjadi.”

“Ingin tau, apa benar di rumahmu itu ada harta gaib itu maksunya?”

“Ya….. kalau kyai mau membantu.”

“Baik… akan ku panggil yang biasa menunjukkan wujudnya di depanku, nanti keterangan dia itu sama sekali bukan rekayasaku lo ya.”

“Ya kyai saya tau..”

Lalu ku panggil yang sering menampakkan diri itu, masuk mediator.

“Wah saya di mana ini?” kata jin yang di dalam mediator, heran.

“Ini di rumah siapa?” tanyanya lagi.

“Di rumahnya kyai Nur…” jawabku.

Dia beringsut mundur.

“Gak usah takut, wong aku mau bertanya saja.”

“Ya kyai, tapi saya jangan diapa-apakan.”

“Gak ku apa-apakan kok.”

“Silahkan tanya kyai…”

“Kamu tau orang yang di depanmu ini?”

“Tau kyai.”

“Tau dari mana?”

“La tiap hari saya berkumpul dengannya.”

“Kamu tinggal di mana?”

“Saya tinggal di rumah dia.”

“Ooo, sebenarnya itu rumahnya apa to di dalamnya?”

“Itu pasar gaib kyai.”

“Pasar gaib bagaimana?”

“Ya pasar, tempat jual beli di alam gaib.”

“Ooo apa pasar gaib itu sama dengan pasar di alam nyata.”

“Ya kyai.”

“Ada penjual mie, bakso, es degan?”

“Ya gak begitu.”

“Lalu bagaimana?”

“Ya tempat tukar tukar barang begitu.”

“Apa di rumah saya itu ada harta gaib, atau emas?” tanya orang yang punya rumah.

“Ya ada.”

“Milik siapa?” tanyanya lagi.

“Milik anak buah saya.”

“Ooo lalu siapa yang suka mendatangi dia dengan membawa emas di nampan itu?”

“Itu anak buah saya.”

“Maksudnya apa?”

“Maksudnya ya menggoda kyai, biar dia tak dzikir.”

“Ooo la kamu itu sudah Islam belum?”

“Belum kyai.”

“Mau diislamkan?”

“Mau kyai.”

“Anak buahmu diajak ke sini semua.”

Lalu dia memanggil anak buahnya semua, dan setelah semua berkumpul bareng bareng ku islamkan. Dan setelah proses islamisasi selesai.

“Bagaimana kamu mau tinggal di sana lagi?”

“Ya kyai.”

“Harta gaibnya boleh tidak diambil?”

“Silahkan kyai..”

“Dulu ada orang yang mau mengambil kenapa kamu menendangnya?” tanya pemilik rumah.

“Ya iyalah, karena dia mengambil tidak permisi sama sekali.”

“Sekarang kenapa boleh?”

“Ya karena kyai yang minta, saya serahkan saja.”

“Bisa kamu mewujudkan ke alam nyata?”

“Saya tak punya ilmunya kyai.”

“Lalu bagaimana mengambilnya?”

“Kyai yang lebih tau.”

“Ya kalau bisa diwujudkan ke alam nyata, ini si pemilik rumah ini mbok dikasih selempeng emas, ditaruh di bawah bantalnya juga boleh.”

“Kyai mengijinkan?”

“Kenapa minta ijin padaku?”

“Ya kalau kyai mengijinkan siapa tau bisa jadi nyata, soale saya gak tau ilmunya agar uang gaib bisa menjadi nyata kyai.”

“Ooo begitu, ya sudah kalau begitu kamu boleh kembali.”

Maka jin itu keluar dari mediator, dan kembali, semoga dari pelajaran ini kita bisa mengambil manfaatnya.

  1. aceng kurniawan
    23 Juni 2015 pukul 11:02 am

    Alhamdulillah,,,Akhir ny saya bisa sowan ke majlis Al-husaini Sendang Senori Tuban,Bertemu kyai guru ku,kyai Nur,,,Aamiinn

  2. hariadi
    23 Juni 2015 pukul 9:17 pm

    Alhamdulillah bersambung lagi….. semakin banyak hikmah dibalik kisah. Amiinn…

  3. mas didik
    25 Juni 2015 pukul 6:34 pm

    Alhamdulillah semoba bermanfaat

  4. Hidayat
    24 Desember 2015 pukul 6:11 pm

    Ada seperti itu … jadi pengen belajar

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s