Beranda > sang kyai > Sang Kyai 89

Sang Kyai 89

Sedikit cerita dari mas Dwi Sutrisno, biasa mas Dwi kalau cerita pasti ada lucunya, kebetulan pas habis taraweh di masjid, mas Dwi lagi dzikir pondasi, maklum di masjid jadi agak mojok, biar gak diganggu orang kalau dzikir, lagi asyik dzikir, ee ada suara ramai di bagian depan masjid, rupanya ada yang kerasukan, sontak terjadi ribut di area masjid, mas Dwi gak cerita yang kerasukan itu lelaki, perempuan, apa banci, jadi pokoknya ada yang kerasukan, yang kerasukan juga teriak-teriak, jelas membuat imam dan takmir masjid jadi panik, ya maklum lah namanya juga kerasukan, pasti gak permisi. Kalau permisi namanya namu, dan gak perduli juga kok ya kerasukan kok di masjid, kok gak di sawah atau balai desa.

Singkat cerita, imam masjid tampil, dia baca apa saja untuk mengeluarkan jin yang masuk, ya baca yasin, ayat kursi, pokoknya asal qur’an saja, tapi jin dasar jin gak sopan, dibacain qur’an bukannya nyimak, malah cengengesan, jelas lama-lama imam masjid milih berhenti, gantian takmir masjid, dia maju dan membacakan juga qur’an, ya annas, al falaq, tetap saja jinnya malah ketawa ngakak, untung gigi yang dirasuki gak pada lepas gara-gara jinnya ketawa ngakak, sambil megangi perutnya…..

Sampai akhirnya takmir masjid nyerah juga, mungkin gak banyak ayat yang dihafal, jika hafal qur’an full mungkin akan dibaca semua, eh jinnya malah mendatangi mas Dwi, mas Dwi yang lagi nyantai dzikir, mojok la kok malah didatangi oleh yang kerasukan.

“He kamu jangan ikut-ikut…” kata jinnya.

Mas Dwi kaget juga tiba-tiba yang kerasukan malah di belakangnya, pakai nyolek lagi, kayak nyolek di facebook, untung gak pakai kasih jempol dan smile…. jelas mas Dwi noleh lah la wong ditowel… la kok jinnya malah mundur-mundur takut.

“Ada apa? ” kata mas Dwi berlagak bego, sambil melempar segembyok senyum manis ke arah jin, tapi yang kerasukan makin beringsut mundur ketakutan, kayak melihat hantu. Jadi aneh, yang hantu itu jinnya apa mas Dwi? atau mas Dwi kelihatan di mata jin sebagaimana hantu ya? Gak tau juga…. Yang jelas yang kerasukan makin ketakutan. Mundur mundur. Orang sudah pada berkerumun, seperti mau ada pembagian takjil berbuka.

“Apa? Ganggu orang lagi dzikir saja…” kata mas Dwi berlagak keren.

“Ampun, ampun,..” kata yang kerasukan sambil mundur.

“Mau keluar apa milih ku ledakkan…?” kata mas Dwi berwibawa gak pakai senyum sedikitpun, dan jemarinya di jentikkan… yang kerasukan langsung jatuh ke belakang kayak kena granat. Dan sadar.

Kayaknya ceritanya pendek ya…? Iya memang aku juga baru sebentar nulisnya.

Yang kerasukan segera ditolong orang. Orang-orang pada melongo, pasti mereka sebenarnya juga berharap cerita yang seru, ya setidaknya ada pertarungan atau adu ilmu, setidaknya ada permainan kartu atau adu panco…. tapi kok cuma begitu saja, jadi ceritanya gak seru sekali. Imam masjid dan takmir mendekati mas Dwi.

“Kok bisa ilmu seperti itu dari mana?” tanya mereka sambil berbisik.

“Dari guruku…” jawab mas Dwi simpel.

“Siapa gurunya?” tanya mereka.

“Kyai Nur…” jawab mas Dwi.

“Oooo..” mereka mantuk-mantuk kayak ayam makan jagung, tapi gak tau juga apa mereka manggut-manggut itu paham apa gak paham, atau hanya basa basi, wong kyai Nur itu tetangganya saja gak kenal apalagi orang Pati, la yang namanya kyai Nur itu ada apa gak juga gak tau, mungkin hanya ada dalam cerita fiksi.

###############

Sambung lagi cerita dari mas Dwi. Ada tetangganya dia, orang tua, namanya juga orang tua, jelas sudah tua, si orang tua ini, itu terkenal suka dimintai orang memindah jin, tapi aneh juga cara memindahnya, kok aneh? Ya makanya didengarkan dulu ceritanya….!

Anehnya kalau orang tua itu memindah jin, dia memakai cara jinnya digendong satu satu, ngos ngosan jin digendong di punggung, kadang mindahnya sampai 3 km, jadi satu satu jin digendong, la jin kok ya gak punya sopan santun, sudah tau kalau orang tua, bukannya dihormati! malah dimintai gendong, misal sudah digendong jauh jauh, sudah sampai orang tua itu balik lagi ngambil jin yang lain, jin yang sudah digendong tadi malah sudah balik lagi sampai tempat semula awal digendong, wah bisa berbulan-bulan memindah jin 1 kalau begini caranya memindah jin. Tapi dengan sabar orang tua itu jalani itu, menggendong jin di belakang, memindahnya, wah jan aneh. Pas kebetulan lewatan sama mas Dwi.

“Ngapain mbah?” tanya mas Dwi tanya iseng.

“Ini lagi mindah jin…” jawab orang tua itu sambil nafasnya ngos-ngosan karena harus menggendong jin.

“Kok digendong mbah?”

“La mau diapain? wong mereka maunya digendong.”

“Tak pindahkan ya mbah?” kata mas Dwi sambil tangannya memegang jin dan dilempar ke arah yang mau dipindah. Si orang tua kaget kok jinnya langsung kelempar kayak batu kerikil dilempar.

“We ladalah kok jinnya kelempar?” kata simbah tua sambil melongo.

“Ini tak kembalikan lagi,” kata mas Dwi, sambil jinnya ditarik lagi, ditaruh di punggung si orang tua.

“La kok balik lagi di punggungku….” kata orang tua itu heran setengah mati.

“Ini ku lempar lagi..”

“Wuh.. kok terlempar lagi?”

“Sudah mbah… ini ku bantu memindah semua…” kata mas Dwi sambil mengambil semua jin dan memindahkannya.

Si mbah itu bengong.

“Kok semua langsung pindah begitu?” katanya sambil matanya melihat ke arah jin pada pindah semua, serentak.

“Kok bisa seperti itu….?”

“Ya nyatanya bisa mbah….”

Si orang tua itu masih tak habis pikir, karena sudah puluhan tahun selama ini, dia memindahkan jin juga satu demi satu, digendong lagi, akalnya gak sampai, matanya dikejap-kejapkan seakan tak percaya.

“Sudah mbah.. aku pamit…” kata mas Dwi, sambil berlalu. Dan orang tua itu menatap heran bercampur jadi satu sama ketidak percayaan, masak cuma begitu saja memindahnya, dan setelah itu, orang tua itu selalu baik kepada mas Dwi, dan masih menyimpan tanda tanya….

###############

Kali ini cerita dari mas Dwi Sutrisno ceritanya mungkin gak lengkap, soale mas Dwi sendiri kalau cerita malah bingung sendiri, kadang yang belakang diceritakan duluan lalu yang depan malah nyusul sudah bubaran. Jadi alur ceritanya korat karit, saya harus njumputi satu satu…. kadang mas Dwi mau cerita sudah tertawa duluan soale dia terlalu menjiwai kejadian. Jadi sudah membayangkan duluan, kalau ceritanya lucu, kita harus nunggu dia tertawa lama sampai selesai beneran. Baru ceritanya dimulai, itu juga baru beberapa kata dia sudah ketawa gak karu-karuan, la yang diceritai sama sekali belum dapat apa-apa, ya hanya melongo saja…

Awal cerita mas Dwi mendapatkan telpon, dari nenek nya yang tinggal jauh di luar Jawa. Namanya nenek ya jelas wanita dan sudah tua, hal itu gak usah ditanyakan lagi. Tak biasanya juga neneknya telpon. Suara neneknya teriak-teriak dari seberang, maksudnya bukan dari tanah seberang, maksudnya dari seberang telpon.

“Dwi… heh bocah lanang, iki ditulungi simbahmu…. hoooi…!” teriak neneknya mungkin memakai gaya menyanyikan lagu rok, kok belakangnya ada hooi segala, kayak YEAH….!

“La memangnya simbah kenapa?” tanya mas Dwi.

“Ealah, bocah gemblong, ya sakit lah, masak kejepit pintu, aku jauh-jauh minta tolong.”

“Mbok ya jangan aneh-aneh to mbah… wes kalau sakit mbok dibawa ke dokter.”

“Dibawa ke dokter, ndasmu amoh kunu…. ini sakit gara-gara gurumu…”

“La apa hubungannya dengan guruku to mbah, apa mbah pacaran sama guruku, ya jelas gak mungkin….”

“Ealah bocah, angel emen kandanane, susah diomongi… kemaren mbahmu ikut menyerang gurumu, sekarang dia tergeletak tak berdaya.”

“La salahnya mbah sendiri to menyerang guruku….”

Rupanya beberapa hari yang silam, waktu aku diserang 800 juta dukun, si embahnya mas Dwi ini ikut andil mengeroyok, la iya orang tua kok ya ikut-ikutan karnaval ngeroyok diriku, la kalau disrimpung, tulang keropos, kalau gak tulangnya pada patah, kan setidaknya giginya tanggal semua.

“Pokoknya ini mintakan obat ke gurumu….”

“Ah gak lah nek, diobati sendiri. Aku gak mau kalau karena menyerang guruku lalu luka kemudian minta obat ke guruku… malu aku.”

“La mau gimana to, tega kamu sama mbahmu yang tergeletak kayak kayu kering begini.”

“Ya kalau sudah tua ya begitu lah nek..”

“Weh awas kamu…”

Ternyata malah Dwi besoknya diserang. Dwi juga gak mau diserang, diserang ya balik menyerang. Dwi dikirimi paku dll… Dwi juga mengembalikan.

Ada telpon dari neneknya lagi, kali ini gak pakai babibu, langsung marah, ditumplek kabeh sak sambele…. Nyam nyem gak karu karuan marahnya. Sekilas kalau dikumpulkan hurufnya yang kecer korat karit marahnya begini.

“Dasar anak durhaka, dikirim santet kok malah dikembalikan, gak punya toto kromo sama orang tua, sekarang sakit kakekmu makin parah, ini bagaimana kamu dikirim kok malah dikembalikan.”

“La kalau gak mau dikembalikan ya mbokyao jangan ngirim.”

“Awas kamu gak tak beri warisan…”

“Ah warisan kalau dari ndukun juga gak berkah.”

Telpon ditutup….

###############

Cerita dari mas Dwi Sutrisno, kurang lebih ceritanya, mas Dwi itu beberapa hari yang lalu ada pasien, si tamu datang minta diobati tapi sudah dari dukun, dan setelah di-cek di dukun itu si tamu malah bukan diobati tapi malah ditambahi jin, tanpa pikir panjang, maka ditarik jin dukun itu juga ilmu si dukun, selesai, si pasien pulang.

Masalahnya bukan soal pasien lagi. Pas mas Dwi di jalan mau berangkat kerja, ada seseorang mencegat jalannya.

“Mas boleh tanya…. apa di sini bisa ditunjukkan rumahnya Dwi Sutrisno?” tanya orang itu.

“Saya sendiri Dwi Sutrisno….” jawab mas Dwi lugu sambil melempar senyum kas nya.

“Oooo sampean to yang namanya Dwi Sutrisno?”

“Iya mas.. ada apa?”

“Gini mas, mbok kita gak saling ganggu..”

“Ganggu bagaimana mas?”

“La sampean sudah menarik ilmuku…”

“Menarik bagaimana maksudnya mas, la kenal sampean saja saya gak kok.”

“Wah jangan begitu mas.. mbok ilmu saya dikembalikan..”

“Ooo sampean dukun itu..”

“Iya, kasihani saya lah mas…. ilmu saya dikembalikan, saya kan kerja mas, itu kerjaan saya, kalau ilmu saya gak dikembalikan kasihan anak bini saya gak makan…”

“Tapi saya ini bisa narik, tapi gak bisa mengembalikan…”

“Waduh lah bagaimana ini mas, kasihanilah saya mas… saya kan juga butuh pendapatan.”

“Tapi nyatanya begitu, saya itu ndak bisa mengembalikan…”

“Waduh apes tenan iki, la terus bagaimana agar ilmu saya kembali mas?”

“Bisa, sampean tak ajak ke guru saya saja, bagaimana?” kata mas Dwi masih bertampang lugu.

“La guru sampean siapa mas?”

“Kyai Nur…. dari Tuban…”

Orang itu kaget bukan bikinan… dan tanpa kata-kata lagi… langsung cepat-cepat kabur….

Aneh, apa yang ditakuti di saya ya? Wong saya ini guanteng… ck ck….

###############

Cerita lagi sambil nunggu subuh, masih dari mas Dwi Sutrisno, dia habis sholat jum’at, masih dzikir pondasi di masjid, tiba-tiba ada orang mendekati, dan orang itu sudah terkenal dukun, ya kalau berpakaiannya sih sebagai kyai… dia mendekati mas Dwi.

“Mas, maaf mas, mbok kita itu jangan saling ganggu…” kata orang itu. Kayak orang yang uji nyali di tipi saja, jangan mengganggu…

“Maksudnya apa kok saling ganggu, saya kan sedang dzikir sendiri…” jawab mas Dwi lugu ela elu…. kayak orang tak bersalah…. soale kan dari tadi duduk gak nyandung nyempar orang lain.

“Itu jin saya pada ikut mas, pada diislamkan.”

“Wah saya malah gak tau itu jinnya bapak ini, la mereka gak bilang…”

Mungkin melihat mas Dwi masih kelihatan anak bau kencur, padahal sudah punya anak…. ya mungkin tampang seperti anak SD rupanya si dukun berani. Dan pasang kuda-kuda mau menyerang. Gak tau kudanya dari mana, aneh juga di masjid ada kuda, kalau eek di masjid kan repot bersihkannya. Namanya juga cerita, tapi ini beneran, si dukun pasang kuda-kuda sama pelananya. Dan mulai menyerang. Ya mungkin nendang atau nowel, atau nyubit, ya saya sendiri gak tau soale gak melihat sendiri, cuma diceritai, kita bayangkan dengan bayangan masing-masing deh….

Mas Dwi mengibaskan tangannya, katanya sih menirukan jurusku. Padahal aku perasaan aku gak pernah ngajari jurus, mungkin pas aku buang ingus dikiranya lagi ngajari jurus, yo wes gak papa….

Eee si dukun mental bergulingan….. jangan dibayangkan seperti anjing guling-guling karena bercanda sama majikannya. Guling-gulingnya ya mungkin seperti apa ya….? Bantal guling kali ya….

Yang jelas setelah guling-guling si dukun langsung kabur….. tanpa permisi atau salam… atau ngasih tip parkir guling-guling…. yang jelas kejadiannya pasti lucu, karena mas Dwi waktu cerita dia sampai gak tahan menahan tawa…

  1. 30 November 2015 pukul 3:52 pm

    Kisah yang syarat akan makna, mantab mas…

  2. Rigo
    19 Desember 2015 pukul 8:11 pm

    Assalamu’alaikum, pak kyai saya Rigo dari batam, boleh tau alamat kyai?

  3. ana
    15 Februari 2016 pukul 2:55 am

    Assalamu’alaikum…pak kyai
    Saya mohon bimbingannya

  4. 16 Februari 2016 pukul 12:23 pm

    Saya singgih dr kudus, bsakah mengikuti majlis dzikir? Kmana saya harus datang dan hari apa?

    • 18 Februari 2016 pukul 10:20 am

      Fb beliau : Majlis Al Husaini Sendang

  5. aris wijanarko
    3 April 2016 pukul 10:56 am

    alhamdulillah… slese sudah baca kisah Kyai Nur.. alhamdulillah menyentuh hati saya, terima kasih kyai sudah menerima prtemanan fb saya, alhamdulillah,, terima kasih kyai..

  6. Kiky
    4 Juli 2016 pukul 8:38 pm

    izin copas kyai.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: